
Hari untuk melakukan konsultasi dengan Pendeta Simon tiba. Rina bangun dari tidurnya dengan perasaan terpaksa. Entah kenapa ia harus melewati ini semua jika sebelumnya sudah mengetahui kalau Pendeta Simon tidak akan memaksanya untuk mempertahankan hubungan dengan Toni. Rina membuka jendela dan melihat air mata pengantin yang sudah semakin berantakan. Rina teralihkan pada sesuatu yang bergelantungan di sekumpulan sulur. Sesuatu yang sudah lama tak dilihatnya kini terlilit mati di sulur air mata pengantin.
__ADS_1
...****...
__ADS_1
Rina yang tidak berniat untuk membereskan tanaman sebelumnya akhirnya memutuskan untuk membereskan air mata pengantin sekaligus membuang bunglon betina yang sudah tak bernyawa. Rina datang ke kanopi sambil membawa gunting tanaman dan plastik hitam untuk membuang bangkai bunglon betina. Kesedihan langsung meliputi Rina. Rina teringat ketika ia dulu hamil dan menemukan telur bunglon. Sedikit banyak, ia mulai merasa ikatan batin muncul antara dirinya dengan bunglon betina. Keluarga Bunglon ini sudah seperti penggambaran keluarga Rina. Bunglon betina yang mati dengan bekas gigitan aneh tentu saja membuat Rina sedih. Makhluk apa yang bisa membunuh bunglon betina ini. Rina melihat ke sekitarnya, berhati-hati siapa tahu makhluk tersebut muncul. Tak butuh waktu lama bagi Rina untuk melihat bahwa makhluk yang menyerang bunglon betina adalah seekor ular yang entah kenapa justru sekarang berada berdekatan dengan bunglon jantan. Seketika Rina teringat sesuatu. Air mata pengantin, keluarganya, keluarga bunglon, perselingkuhan Toni dengan Helnina, ular dan bunglon betina mati. Pipi Rina basah karena air mata yang mengalir deras. Ia kembali teringat dengan perkataan wanita misterius yang memperingatkannya untuk berhati-hati jika bunglon sudah muncul. Bagaimana jika sebelum bunglon tersebut berkembangbiak, Rina mengusirnya? Atau bagaimana jika Rina tidak menanam air mata pengantin sama sekali? Apakah air mata pengantin benar-benar mempengaruhi pernikahan Rina? Entah, yang pasti Rina merasa semua sudah terlambat. Rina merasa hari ini semua akan berakhir buruk. Konsultasi ini hanya akan membuang waktunya saja. Pikiran Rina kosong, entah harus berbuat apa. Di tengah kekosongannya, Rina melihat ular dan bunglon jantan yang saling mendekat. Kemarahan menyelimuti Rina. Tanpa berpikir panjang, Rina mencengkeram ular dengan gunting tanaman lalu memotongnya. Bunglon jantan mematung melihat ular jatuh terpotong menjadi dua. Segera Rina mencengkeram bunglon jantan dan memotongnya. Rina merasa puas. Setidaknya bunglon betina sudah tenang. Rina melihat bunglon kecil muncul dari sekumpulan daun di bagian atap. Rina berbalas pandang dengan bunglon kecil lalu mengangukkan kepalanya. Bunglon kecil pergi meninggalkan air mata pengantin. Rina tersenyum melihat kepergian bunglon kecil, berharap ia mendapat kebahagiaan di tempat lain.
__ADS_1
...****...
__ADS_1
...****...
__ADS_1