Air Mata Pengantin Dan Keluarga Bunglon

Air Mata Pengantin Dan Keluarga Bunglon
Chapter 14 Rina Melihat Semuanya


__ADS_3

Hari ini, tepat dua hari setelah Rina bertemu dengan Lisa di kafe adalah hari direncanakannya pertemuan antara Toni dengan Helnina. Rina duduk di ruang tunggu hotel dengan mengenakan masker dan kacamata. Penampilan Rina begitu tertutup dan membuat beberapa orang yang melihatnya bingung. Rina mengenakan jaket besar dan tangan kanannya berada di dalam jaket, bersiap merekam dengan modal pencahayaan dari satu kancing yang terbuka. Sesekali Rina melihat ke jam tangan di lengan kirinya, menunggu kedatangan Toni dan Helnina yang tertulis di pesan akan bertemu pada jam 12 siang. Lima belas menit lagi. Rina memperhatikan orang di sekitarnya yang berlalu lalang, mencoba mencari apakah dua orang yang dicarinya ini menyembunyikan penampilannya juga sama seperti dirinya. Rina tidak mau melewatkan kesempatan ini. Entah kapan Rina akan mendapatkan kesempatan seperti ini. Ia harus berhasil membongkar kelakuan suaminya.

__ADS_1


Sebanyak apapun keunggulan yang dimiliki Rina di usahanya kali ini, Rina tetap tidak dapat memprediksi akan seperti apa mereka bertemu. Helnina sudah menunggu di dalam kamar atau akan bersama dengan Toni, Rina hanya bisa berharap yang kedua yang terjadi. Terlebih dalam pesan rahasia tidak disebutkan nomer kamar yang akan mereka gunakan. Ya, Rina semakin yakin bahwa kemungkinan kedua yang akan terjadi. Ia hanya perlu sabar dan memasrahkan semua. Rina memicingkan matanya, mencoba fokus pada dua orang yang datang. Perempuan menggunakan syal untuk menutupi wajah bagian bawah sedangkan pria di sampingnya hanya mengenakan kacamata hitam dan Rina berhasil mengetahuinya siapa, Toni. Rina perlu memastikan apakah benar Toni bersama Helnina, segera Rina memperhatikan lebih detil apa yang digunakan perempuan tersebut. Rina terpaku pada gelang bernuansa etnik yang terpasang di lengan kanan. Rina teringat kalau Helnina memang selalu menggunakan gelang tersebut ketika mereka bertemu. Tidak salah lagi, Toni bersama dengan Helnina.

__ADS_1


Rina bersiap untuk memergoki Toni dan Helnina. Segera ia merekam segala kejadian yang dilaluinya, berharap video yang dihasilkan cukup maksimal untuk membongkar kelakuan Toni dan Helnina. Rina harus bergerak cepat agar tidak kehilangan jejak mereka karena ia tidak mengetahui kamar mana yang mereka akan gunakan untuk entah kegiatan apa nanti. Toni dan Helnina masuk ke dalam elevator yang sepi. Rina dengan wajah yang sudah terlindungi ikut masuk dan mengambil posisi di belakang Toni dan Helnina. Toni dan Helnina saling berpandangan di dalam elevator yang sepi. Mereka tersenyum karena bisikan yang mereka lontarkan satu sama lain. Rina coba menahan emosinya. Ia tidak boleh meledak sekarang atau semuanya akan sia-sia. Bahkan jika nanti Toni dan Helnina berciuman di dalam elevator, Rina harus tetap menahan emosinya. Benar saja, Toni dan Helnina berciuman lalu tertawa kecil karena kebodohan mereka yang berciuman di dalam elevator. Mereka tidak masalah ciuman tadi terekam oleh kamera pengawas. Mereka juga merasa tidak keberatan ada orang lain di dalam elevator yang menyaksikan hal tadi. Satu yang mereka seharusnya permasalahkan adalah siapa yang ada di belakang mereka tadi.

__ADS_1


Penunjuk di dalam elevator berhenti di lantai 5. Toni dan Helnina keluar dari dalam elevator, disusul Rina yang menuju arah berlawanan dengan mereka. Rina menunggu sejenak sambil berpura-pura inign masuk di sebuah kamar lalu kembali merekam Toni dan Helnina yang memasuki salah satu kamar. Perlahan Rina mendekat lalu merekam. Kali ini Rina merekam dengan tangan kirinya sehingga lebih leluasa dan pencahayaan yang didapat lebih maksimal. Rina berdiri di depan pintu kamar yang digunakan Toni dan Helnina sambil terus merekam. Tak berapa lama, terdengar suara Toni dan Helnina saling memadu kasih terlarang. Entah apa yang harus dilakukan Rina, ia bingung harus berhenti merekam atau meneruskan rekamannya. Rina ingin menerukan rekaman tetapi suara yang ada di balik pintu sana membuatnya hancur. Air mata mengalir dari kedua mata Rina. Sekuat mungkin Rina menahan tangisnya hingga tidak sesenggukan dan membuat dua orang yang ada di dalam curiga. Beberapa orang yang berlalu-lalang heran dengan apa yang dilakukan Rina. Mereka memandang jijik pada Rina yang dirasa tidak bisa menghargai privasi orang lain. Yang tidak diketahui oleh orang lain adalah tindakan merusak privasi orang lain harus dilakukan Rina untuk membongkar kebusukan di dalam rumah tangganya. Rina berhenti merekam apa yang bisa direkamnya dari ruang kamar Toni dan Helnina. Air mata mengalir semakin deras, ingin rasanya Rina mengetuk pintu kamar untuk menunjukkan bagaimana keadaan dirinya sekarang. Perlahan Rina mengangkat tangannya, bersiap untuk meluapkan segala emosinya di depan banyak orang. Entah seperti apa jadinya, yang ia pikirkan hanya kelanjutan keluarganya. Tepat sebelum Rina menggedor pintu, HP Rina bergetar karena panggilan video dari Ibunya dan Elia. Rina tidak jadi menggedor pintu dan tertunduk pedih di depan pintu. Beberapa saat, Rina mematung di depan pintu dan menjadi bahan gunjingan pengunjung hotel. Suara sekitar tak dihiraukan Rina, hanya terdengar suara Toni dan Helnina yang tertutup rapat dalam sebuah kamar. Hingga pada akhirnya tepukan Satpam di pundak Rina menyadarkannya.

__ADS_1


__ADS_2