Air Mata Pengantin Dan Keluarga Bunglon

Air Mata Pengantin Dan Keluarga Bunglon
Chapter 17 Upaya Damai


__ADS_3

Rina tidak mau melihat ke arah manapun. Meskipun tujuh orang lainnya terfokus pada Rina, tak mau Rina membalas pandangan pada mereka. Rina merasa seperti dijebak padahal ia tahu betul Bapak dan Ibunya tidak merencanakan ini semua. Jika bisa memohon satu hal mustahil pada Tuhan untuk diwujudkan, Rina ingin segera pertemuan ini selesai dan berakhir dengan pemandangan Rina dan Elia yang sudah hidup bahagia berdua. Tapi Rina sadar hal ini tidak mungkin terjadi. Tidak mungkin Tuhan mengabulkan permintaan orang yang hanya ingat pada Tuhannya ketika perlu sedangkan di dekatnya ada hamba Tuhan yang tulus membantu sesama dan selalu ingat padaNya. Pendeta Simon memperhatikan dua keluarga yang diam kaku, bingung harus membahas apa. Satu keluarga berharap anaknya cepat meminta maaf, keluarga lainnya ingin anaknya menahan emosi untuk beberapa menit ke depan. Pendeta Simon menghembuskan nafas perlahan, mencoba mengumpulkan tenaga untuk memulai percakapan


“Rina dan keluarga. Maaf kami datang mendadak. Kami terpaksa karena ingin masalah ini cepat selesai. Tolong didengar sebentar saja ya. Ditahan dulu emosinya. Saya tahu itu susah, tapi tolong anggap ini saya yang minta, bukan Toni atau keluarganya. Mohon maaf kalau lancang,” ujar Pendeta Simon.


Marni dan Bambang memiliki harapan yang sama seperti Pendeta Simon dengan tambahan mereka berharap Elia segera tidur sehingga tidak perlu berada di sini lagi. Marni yang gantian menggendong Elia mengelus punggung Elia, berharap cucunya ini segera tertidur. Bambang melihat keadaan Elia dan mendapati cucunya telah tertidur. Bambang lalu menepuk paha Marni dan mengisyaratkan padanya kalau Elia sudah tidur. Segera Marni beranjak pergi menuju kamar Rina untuk menaruh Elia di kasurnya.


“Rin, aku minta maaf. Aku sadar aku salah udah selingkuh sama Helnina. Aku janji gak akan ngulangin itu lagi. Kasih aku kesempatan kedua buat ngebuktiin kalo aku sungguh-sungguh sama keluarga kita,” Toni memohon.


Rina tidak mau melihat Toni. Ia juga kesal karena masih ada yang tidak diungkapkan Toni pada semua yang ada di sini. Tuti memelas pada Rina. Bambang yang memperhatikan keluarga Toni memahami betul kenapa mereka begitu ingin Rina memaafkan Toni.


“Iya Rin, maafin Toni ya. Maaf Ibu gagal ngedidik dia,” Tuti menambahkan.


“Bapak juga minta maaf. Seharusnya Bapak lebih tegas buat masalah begini ke Toni,” ujar Agus.


Rina mengernyitkan dahinya setelah mendengar perkataan Agus. Apa ini berarti Agus sudah mengetahui perbuatan Toni?


“Terus gimana kalo nanti kita rujuk dan aku maksa kamu banyak nyari syutingan? Kamu mau selingkuh lagi?” ujar Rina.

__ADS_1


Pendeta Simon terlihat kaget mendengar perkataan Rina. Sekilas, ia melirik ke arah Toni yang menunduk lesu mendengar respon Rina. Sepertinya Pendeta Simon mendapat versi cerita yang berbeda dari Toni.


“Oh iya, kamu gak bilang masalah itu ya tadi pas minta maaf. Maaf ya Pak Pendeta baru tau sekarang. Orang ini bilang alasan dia selingkuh itu gara-gara saya terlalu nekan dia Pak buat nyari syutingan. Giliran udah dapet, eh malah main sama yang ngasih kerjaan,” ujar Rina penuh emosi.


Marni datang menyusul ke ruang tamu. Ia melihat keluarga Toni yang semakin tertekan. Sepertinya siasat Toni untuk membawa keluarganya dan Pendeta Simon belum berhasil.


“Pak Pendeta udah diceritain belum kalau saya ngerekam orang ini ketemuan sama selingkuhannya buat ke hotel, ciuman di elevator, masuk ke kamar gak tau lah ngapain mereka terus saya sampe dipanggil ke kantor satpam gara-gara dikira penguntit sama pengunjung lain?” Rina menambahkan.


Pendeta Simon mulai terlihat kecewa pada Toni. Beberapa ia memandang ke arah Toni lalu menggelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka kalau ia akan tertipu dengan karangan Toni. Mungkin kalau ia bisa meninggalkan statusnya sebagai Pendeta untuk sejenak, ia akan memohon pada Tuhan untuk mengabulkan permintaan wanita muda yang harus menderita karena perbuatan bodoh suaminya. Tetapi Pendeta Simon sadar, ia harus tetap menjalankan fungsinya sebagai seorang Pendeta yang telah memberkati pernikahan dan pembaptisan di keluarga ini. Pendeta Simon tetap harus mengingatkan apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. Merasa tidak enak, Pendeta Simon mendecak kesal lalu melihat ke arah Rina.


Pendeta Simon memandang serius pada Rina, mencoba menarik perhatiannya dan mengubah pendiriannya. Ia tidak mengharapkan Rina sampai rujuk dengan Toni. Pendeta Simon berharap konsultasi ini bisa menjadi formalitas saja dan mengambil apa yang terbaik bagi dirinya. Itulah kenapa Pendeta Simon menawarkan untuk memanggil juga konselor pernikahan. Tetapi, Pendeta Simon tidak bisa frontal dengan apa yang menjadi maksudnya. Ia hanya berharap Rina dapat menerima maksud dari dirinya.


“Terus apa untungnya buat saya? Dia enak bisa balik lagi, dapet jaminan kalo nanti gak ada syutingan. Saya gimana? Harus nuntut dia kerja, terus nanti dia tertekan dan ujungnya selingkuh lagi?” kata Rina dengan nada agak tinggi.


Pendeta Simon mendecak pelan mendengar respon Rina. Seharusnya ia mampu memberi petunjuk lebih jelas lagi pada Rina. Toni, Tuti dan Agus tidak mampu merespon apa-apa. Tak lama, terdengar suara tangisan Elia. Marni kembali menuju kamar untuk menenangkan Elia. Tuti terlihat melirik sejenak ke sumber suara, seakan mendapat ide untuk meyakinkan Rina mengikuti konsultasi.


“Rin, Ibu mohon ikut konsultasi dulu ya. Kasian Elia. Pikirin dia juga. Kasian, masih butuh kasih sayang kedua orang tuanya,” ujar Tuti memohon.

__ADS_1


Tangis Elia mengeras, seakan mengeti dengan percakapan yang terjadi di ruang tamu.


“Iya Rin, kasian Elia. Tolong jangan egois dulu. Pikirkan yang terbaik buat anak kalian,” Agus menambahi.


Rina terdiam. Ia seakan menjadi terfokus pada satu hal yang lebih penting. Elia. Hati Rina mulai tergerak dengan bujukan Tuti dan Agus. Di lain pihak, Bambang dan Pendeta Simon justru semakin kecewa dengan situasi ini. Perkataan Agus yang sedari tadi terucap sangat tidak berperasaan. Ingin rasanya Bambang menghajar besannya ini tetapi ia tidak ingin membuat suasana semakin kacau. Pendeta Simon terus menerus memandangi Rina, berharap untuk segera menerima tawaran konsultasi ini sehingga ia bisa menghampiri Rina sebentar dan mengutarakan maksudnya untuk lebih berpihak pada Rina nanti. Pendeta Simon tahu dia salah, tapi setidaknya ia sudah mengusahakan untuk menyelamatkan dua orang dari rumah tangga ini.


“Mau ya Rin? Saya usahakan lusa nanti kalo kamu mau.”


Pendeta Simon terus memandangi Rina yang masih tertunduk, berharap Rina melihatnya. Rina melihat ke arah Pendeta Simon dan Pendeta Simon tersenyum.


“Iya,” jawab Rina.


Toni, Tuti dan Agus tersenyum. Pendeta Simon menganggukkan kepalanya setelah mendengar jawaban Rina. Bambang menghembuskan nafas, kesal karena merasa Toni akan keluar dari masalah ini dengan sukses.


...****...


Pendeta Simon masih berada di ruang tamu Rina. Ia memutuskan untuk tidak ikut bersama keluarga Toni yang baru saja meninggalkan rumah RIna. Pendeta Simon membisikan sesuatu pada Rina dan Rina terdiam. Pendeta Simon menganggukkan kepalanya lalu meninggalkan ruang tamu. Bambang yang sedari tadi memperhatikan kebingungan apa yang mereka berdua rencanakan.

__ADS_1


__ADS_2