
Elia memegangi mainan tongkat gemerincing sambil sesekali menggoyang-goyangkannya. Elia tersenyum dengan suara yang dihasilkan oleh mainannya. Memang tidak merdu, tetapi hal simpel seperti itu tetap dianggap hal yang luar biasa oleh anak seumurannya. Lama kelamaan, bunyi mainan semakin kencang seiring dengan kehebohan yang terjadi di depan Elia. Rina sibuk menyiapkan barang-barangnya dan Elia. Rina sudah bulat. Ia dan Elia harus pergi meninggalkan rumah ini. Jauh, pergi dari Toni untuk memulai hidup baru. Meskipun sudah ikhlas, Rina masih merasa semenjak ditanami air mata pengantin rumah ini juga sudah ikut terpengaruh keburukannya. Entah siapa yang akan menempati rumah ini selanjutnya, Rina merasa perlu untuk memusnahkan air mata pengantin dari rumah ini. Rina tidak mau mengambil resiko, bisa saja orang lain yang menempati rumah ini mengalami hal yang sama dengannya. Jika yang mengalami hal tersebut adalah Toni, Rina tidak peduli. Rina tidak yakin Toni akan menempati rumah, terlebih dengan cara yang dipilih Rina nanti untuk memusnahkan air mata pengantin.
__ADS_1
Rina menggendong Elia di pundaknya dengan ransel bayi. Terlihat beberapa koper sudah ada di depan rumah, menunggu untuk dibawa masuk ke dalam mobil. Rina diburu waktu. Ia harus menyelesaikan ini semua sebelum Toni datang mengunjunginya. Masalahnya, Toni tidak memberitahu kapan ia akan datang. Sepertinya ia masih kebingungan karena tidak menyangka Rina tidak jadi datang ke konsultasi dengan Pendeta Simon. Rina memandangi air mata penganti sekali lagi sambil menyibak sulur daun yang mengumpul karena tidak lagi diurusnya. Rina tahu ini adalah hal yang tidak mungkin terjadi, tetapi ia berharap dapat menemukan bunglon kecil dan membawanya pergi untuk memulai hidup baru bersamanya dan Elia. Keringat mulai mengucur membasahi dahi Rina, tak kunjung ia temukan bunglon kecil setelah beberapa waktu berjemur mencarinya. Rina mendengar suara daun bergerak dan reflek melihat ke sumber suara. Rina tersenyum pada bunglon kecil yang ternyata kembali lagi berada di air mata pengantin. Perlahan Rina mengjangkaunya dan berhasil. Bunglon kecil tak melawan tangan Rina dan menerima sepenuh hati pada ajakannya untuk memulai hidup baru. Rina berjalan menuju kotak plastik dengan angin-angin yang biasa dipakai untuk menyimpan reptil lalu menaruh bunglon kecil di sana. Rina beranjak untuk menaruh Elia, bunglon kecil dan barang-barangnya di dalam mobil lalu kembali ke depan air mata pengantin. Waktunya untuk memulai hidup baru.
__ADS_1
...****...
__ADS_1