Air Mata Pengantin Dan Keluarga Bunglon

Air Mata Pengantin Dan Keluarga Bunglon
Chapter 8 Persalinan


__ADS_3

Sore hari yang tenang di lingkungan perumahan Rina dan Toni. Terlihat beberapa anak pulang berangkat menuju lapangan basket sambil bersendagurau ke salah satu temannya yang masih belum lancar mendribel bola basket. Beberapa pedagang sudah mulai berbaris rapi bersama gerobak mereka di lapangan. Kesempatan mendapat tambahan rejeki sebelum keliling setelah maghrib seperti ini tidak bisa mereka lewatkan begitu saja. Dari arah lainnya juga terllihat anak-anak yang bersepeda santai mengelilingi area perumahan. Suara sepeda mereka membuat suasana semakin ramai karena ada beberapa yang memasang bekas wadah air mineral gelas di belakang sepedanya agar menyerupai motor trail. Terlihat salah satu anak mengernyitkan dahinya sambil mengayuh sepeda bersiap melintasi polisi tidur layaknya pembalap yang bersiap melewati rintangan motor trail. Satpam perumahan yang memperhatikan dari arah pos satpam menggelengkan kepalanya sambil mendecak melihat kelakuan pembalap cilik dadakan di area perumahan. Satpam menghembuskan nafas lega melihat anak tersebut berhasil melewati polisi tidur dengan baik diiringi tepuk tangan dari teman-temannya. Biarlah mereka seperti ini, siapa tau nantinya mereka bisa menjadi pembalap sungguhan pikir Satpam sembari menyeruput kopi panas.


Rina perlahan keluar dari dalam rumah menuju taman. Rina terlihat santai dengan dasternya mendekati selang air. Rina melihat ke arah matahari bersinar dan mendapati matahari sudah mulai menurun. Cocok untuk menyirami tanaman. Dengan telaten Rina mengulur selang agar tidak tersangkut lalu membuka kran air. Rina perlahan mendekati bagian paling jauh dari taman dan mulai menyiram. Satu persatu tanaman di taman terbasahi oleh cipratan air yang dialirkan oleh jempol Rina. Rina menggoyangkan pergelangan tangannya, mengarahkan supaya tanaman mendapat aliran yang merata. Sesekali Rina bersenandung sambil mengelus anak yang dilindungi perutnya. Rina berjalan mengelilingi taman, memastikan semua tanaman mendapat air yang cukup lalu berjalan mendekati tanaman air mata pengantin.


Rina mengarahkan selang ke tempat tanaman terletak. Cukup banyak ia memberikan air, berharap tanaman ini bertumbuh lebih lebat lagi. Rina perlahan mundur lalu mengarahkan sedikit air ke bagian sulur, bermaksud untuk menyegarkan daun-daun yang sedari tadi terus terkena panas matahari. Rina teralihkan pada sesuatu yang bergerak cepat karena terkena cipratan air. Rina mengikuti gerak benda tersebut dan mendapati bahwa yang bergerak cepat tadi adalah bunglon. Rina mengernyitakn dahinya, tak lama muncul satu lagi bunglon yang berukuran lebih besar dari arah seberang semak dan mendekati bunglon yang tadi ia siram. Rina tersenyum kecil melhat dua bunglon yang menjadi penghuni tanaman miliknya. Dua bunglon saling berpandangan, sesekali meneguk bulir air yang mengalir di daun. Bahagia, hidup terjamin dengan tempat tinggal yang layak. Entah kenapa Rina berpikiran seperti itu, mungkin ia beranggapan bahwa dua bunglon ini adalah pasangan. Sama seperti dirinya dengan Toni.


Iseng, Rina berjalan dengan perlahan untuk mematikan aliran air lalu kembali ke tanaman air mata pengantin. Terpikirkan sesuatu oleh Rina, apa mungkin kedua bunglon ini berpasangan dan sudah berkembangbiak juga. Rina agak menunduk, mengamati tanah di bawah air mata pengantin. Dengan teliti, Rina mengamati tanah mencoba menemukan telur dari Keluarga Bunglon. Kaki Rina mengais-ngais bagian tanah yang tertutupi oleh daun air mata pengantin. Rina mencoba untuk tidak terlalu menunduk atau menggerakan kakinya dengan kuat agar tidak membuat sakit dirinya dan bayi yang ada di dalam perutnya. Kaki kanan Rina menggerakan setumpuk daun yang menutupi cekungan di tanah. Rina mengernyitkan dahinya melihat satu benda putih berbentuk menyerupai bola olahraga American Football dengan ujung yang lebih runcing terletak di sana. Rina tidak mengetahui benda apa yang baru saja dilihatnya. Firasatnya mengatakan bahwa itu adalah telur bunglon tetapi ia belum pernah melihat seperti apa bentuk telur bunglon.


Rina mengambil HP dari kantong dasternya lalu mengambil gambar dari benda yang ia temukan untuk mencari tahu.

__ADS_1


“Oooh, bener ternyata,” ujar Rina pelan.


Rina tersenyum mengetahui bahwa dua bunglon yang ia temukan tadi memang sepasang. Teringat Rina pada Lisa yang dulu memberikan tanaman air mata pengantin sebagai kado pertunangan. Ia tidak menyangka bahwa kado dari sahabatnya menjadi gambaran sederhana keluarga yang ia bangun bersama Toni. Selesai mendapatkan jawaban, Rina bermaksud menaruh kembali Hpnya di kantong daster dengan tetap memandangi telur bunglon yang ia temukan. Sial, Rina tidak menaruh HP dengan benar dan menjatuhkannya di tanah. Rina mendecak kesal melihat Hpnya yang berada di tanah. Rina reflek menunduk mengambil Hpnya karena takut basah karena siramannya tadi dan seketika sakit tidak tertahankan menyerang perut Rina. Rina berpegangan pada tiang kanopi yang cukup tebal lalu mencoba mengatur pernafasannya.


“MAS!” teriak Rina pada Toni.


Rina kembali mengatur pernafasannya.


Rina melihat ke sekitarnya. Sepi, anak-anak dan pedagang yang tadi lalu-lalang sudah tidak terlihat padahal belum mendekati maghrib. Rina mencoba tenang, kembali mengatur pernafasannya untuk bersiap berteriak memanggil Toni. Ia tidak mau mengeluarkan tenaga yang besar, takut apa-apa terjadi.

__ADS_1


Toni melepas headset dari telinga lalu mematikan laptopnya. Kali ini, sudah tidak terdapat rokok dan asbak di ruang kerja Toni. Toni bangkit dari tempat duduk lalu meregangkan badannya setelah lama duduk mengerjakan skenario untuk proyeknya bersama Helnina.


“Mas Toni!” seru Rina dari arah luar.


Toni melongo selagi meregangkan badannya. Ia merasa mendengar Rina memanggilnya dengan agak lantang. Seketika perasaan Toni tidak enak dan berjalan cepat menuju sumber suara. Toni mengambil kunci mobil di cantolan dinding. Semakin dekat, Toni semakin sering mendengar panggilan dari Rina yang membuat Toni mempercepat langkahnya.


“Rin!” ujar Toni sambil mendekati Rina yang memegangi tiang kanopi.


Toni membantu Rina berjalan menuju mobil, bergegas menuju Rumah Sakit. Kondisi Rina yang mengalami plasenta previa memang membuatnya rentan mengalami prematur tetapi Toni tidak menyangka hal ini akan benar terjadi. Toni membuka pintu mobil membantu Rina duduk di kursi depan. Toni melihat ke kursi belakang, mencoba memastikan koper dan berbagai peralatan lainnya sudah ada di dalam mobil. Perlahan Toni menutup pintu mobil dan berjalan menuju pintu rumah untuk mengamankan rumahnya sebelum pergi menuju Rumah Sakit. Keluarga bunglon memperhatikan dari sulut air mata pengantin kesibukan yang dialami oleh tetangga mereka. Mereka mematung, mungkin teringat bahwa giliran mereka akan segera tiba.

__ADS_1


...****...


__ADS_2