
Rina sendiri duduk di kursi depan Kafe Botani sambil menunggu pesanannya diantar. Elia ia titipkan ke Marni dan Bambang yang memang sudah kangen dengan cucunya. Kondisinya yang masih kecewa dengan penemuan baru mengenai Toni jelas membuatnya malas untuk menitipkan Elia ke rumah Tuti dan Agus. Pandangan Rina kosong meskipun mantap melihat ke depan. Meskipun sesaat lagi dirinya akan dijambret dan kehilangan tas, mungkin Rina tidak akan peduli. Berbagai skenario bayangan memenuhi pikiran Rina. Mulai dari apa yang dilakukan Toni dan Helnina hingga apa tindakan selanjutnya yang akan mereka lakukan pada Rina. Kenapa dan kapan menjadi dua pertanyaan yang akan ditanyakan pada Toni jika ia memiliki keberanian sekarang. Rina merasa keadaannya sekarang tidak memungkinkan untuk mengambil tindakan terbaik. Ia membutuhkan pandangan sahabatnya. Ia membutuhkan Lisa.
Rina melihat ke kanan dan ke kiri, berharap taksi online yang mengantar Lisa segera tiba. Hampir satu jam Rina menunggu Lisa, pesanan awal Rina sudah hampir habis. Rina mendecak kesal, tak biasanya Lisa terlambat seperti ini. Rina segera menghubungi Lisa, mencari tahu di mana ia berada sekarang. Sembari menunggu panggilannya tersambung, Rina memperhatikan toko tanaman yang dulu pernah diceritakan Lisa. Toko di mana Lisa membeli kado pertunangan untuk Rina. Rina melihat beberapa pengunjung keluar masuk toko sambil membawa tanaman yang mereka beli. Rina terfokus pada tanaman air mata pengantin muda yang juga terpajang di depan toko tanaman. Pikira Rina mulai menjelajah. Apakah benar tanaman ini membawa sial? Namanya saja sudah seperti itu. Ah, tidak mungkin. Semua ini hanya Rina saja yang mencoba merangkai skenario bayangan dalam pikirannya.
“Maaf Kak, mau pesan apa?” tanya Lisa mengagetkan Rina.
Lisa tersenyum merasa tidak enak pada Rina karena sudah terlambat. Raut wajah Rina yang sudah kusut ketika Lisa datang semakin membuatnya merasa bersalah.
“Rin, maaf ya. Tadi pagi aku ngelembur ngedit podcast,” Lisa beralasan.
Rina diam, tak segera membalas Lisa. Ia mencoba mengatur emosinya sebelum menceritakan masalahnya pada Lisa. Tanpa disadari, situasi seperti ini kembali terulang. Situasi di mana Lisa harus melihat sahabatnya berkeluh kesah karena pasangan hidupnya berbuat sesuatu. Yang menjadi pembeda, kali ini sesuatu yang dibuat oleh Toni mungkin sangat fatal.
“Lis, kamu inget gak waktu kamu ngasih kado air mata pengantin di tunanganku dulu?” tanya Rina.
Lisa melongo kebingungan. Ia tidak mengetahui akan ke arah mana pembicaraan ini berlanjut. Tidak mungkin Rina memintanya segera bertemu hanya untuk membahas masalah tanaman. Belum lagi mata Rina yang tadi terlihat sembab.
“Maksudnya gimana Rin? Kok ini matamu juga kayak orang abis nangis?”
“Jangan marah ya Lis. Kok aku ngerasa tanamanmu itu yang jadi sumber air mataku mengalir?” ujar Rina ngawur.
Lisa tidak dapat merespon apa-apa. Ia tidak percaya sahabatnya berpikiran tidak logis seperti itu. Pasti ada sesuatu di balik ini. Tidak mungkin sebuah tanaman bisa membuat kehidupan satu keluarga menjadi penuh air mata.
...****...
Lisa melongo mendengar penjelasan dari Rina. Ia tidak percaya kalau Toni telah selingkuh dengan Helnina. Toni yang beberapa bulan lalu terlihat panik ketika menunggui Rina operasi sekarang sudah memilih bersama dengan perempuan lain. Rina tertunduk menangis setelah menjelaskan semuanya pada Lisa. Lisa kembali melihat bukti-bukti yang sudah disusun oleh Rina melalui pesan tersembunyi yang diterima Toni. Semua terlihat meyakinkan. Bahkan tertera juga kapan waktu mereka akan bertemu di hotel. Ingin rasanya Lisa tidak mempercayai hasil temuan ini dan berharap semuanya hanya kesalahpahaman tetapi Lisa juga menyadari bahwa sahabatnya ini dibayar mahal oleh Pak Barkah untuk mencari kesalahan seperti ini. Wajar saja hal seperti menggunakan kapital yang salah sebagai kode akan mudah disadari oleh Rina.
“Lis, tanamanmu gak mungkin bawa sial kan?” Rina kembali bertanya.
“Rin, ayo lah. Mana mungkin sih sampe segitu?”
__ADS_1
Rina tidak menjawab pertanyaan Lisa. Ia tidak bisa memikirkan kemungkinan lainnya. Semua terjadi begitu pas. Tanaman, Helnina yang selalu datang di momen bahagia dan Toni yang semakin susah diajak komunikasi padahal sama-sama bekerja dari rumah.
“Kalo kamu gak percaya, ayo kita tanya ke yang punya toko. Gimana?” ajak Lisa.
Rina masih terdiam tidak menanggapi ajakan Lisa. Dalam lubuk hatinya, ia merasa tidak enak karena seakan sudah menyalahkan Lisa yang memberinya air mata pengantin sebagai kado pertunangan. Rina menunduk, tidak berani melihat Lisa. Perlahan Lisa memegang tangan Rina. Mereka saling bertatapan. Lisa melihat air mata yang mengalir deras membasahi pipi Rina.
“Ayo Rin, kita cari tau sama-sama.”
Rina dan Lisa bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju toko tanaman. Lisa melihat ke dalam toko, mencari sang pemilik toko. Seorang perempuan berumur 70 tahun, terlihat seperti nenek-nenek bule menyeruput secangkir minuman berwarna kebiruan dengan asap yang masih mengepul di atas cangkir transparan. Terlihat tenang, penuh pengetahuan dan seperti sudah tidak memikirkan apa-apa lagi di dunia ini. Lisa mengetuk pintu toko dan membuat pemilik toko sadar dengan kehadiran mereka. Pemilik toko tersenyum, teringat pada wajah Lisa yang dulu pernah membeli tanaman di tempatnya.
Rina dan Lisa masuk ke dalam toko tanaman disambut dengan senyuman dari sang pemilik toko. Lisa membalas senyuman pemilik toko, mencoba tetap tenang dan ramah meskipun ia tahu masalah yang dihadapi oleh Rina mungkin akan semakin buruk setelah keluar dari pintu ini.
“Siang Eyang Susi, masih inget aku gak?” sapa Lisa.
“Kalo muka Eyang mesti inget. Nama yang Eyang lupa,” balas Susi sambil tersenyum.
Lisa tertawa mendengar respon Susi. Lisa sadar tidak seharusnya ia bertanya seperti itu pada Susi yang sudah lanjut usia.
“Ooh, yang ini, dulu beli air mata pengantin buat kado toh?” tanya Susi.
Nampaknya petunjuk yang diberikann Lisa langsung membuka semua ingatan Susi mengenai interaksinya dengan Lisa. Rina tidak begitu memperhatikan basa-basi antar dua orang yang ada di depannya. Ia sibuk memperhatikan situasi toko tanaman lebih detil. Dari arah luar toko, nampak sesosok perempuan memperhatikan mereka. Ingin tahu apa yang dibahas oleh tiga orang yang ada di dalam.
“Eyang, maaf, aku mau nanya ini. Tapi jangan marah ya,” ujar Lisa.
Susi mengernyitkan dahinya kebingungan mendengar perkataan Lisa.
“Eyang, kalo taneman air mata pengantin itu ada efek-efek negatifnya gitu gak sih ke keluarga muda?” tanya Lisa.
“Hah? Negatif piye?” Susi bertanya balik.
__ADS_1
Rina melihat ke arah Susi. Pandangannya serius, berharap mendapat jawaban dari permasalahannya ini.
“Eyang, taneman air mata pengantin ini bisa buat rumah tangga rusak gak sih? Semenjak taneman itu ditanem di rumah, suamiku malah jadi selingkuh,” ujar Rina dengan yakin.
Lisa meringis tidak enak mendengar Rina yang tidak bisa menyampaikan maksudnya dengan lebih halus. Lisa khawatir ini justru akan membuat suasana menjadi semakin runyam dan jawaban justru tidak didapat. Tak lama, Susi tersenyum kepada Rina.
“Yo gak mungkin. Ini Eyang baru pertama kali loh denger kejadian kayak gini. Kamu yakin suamimu selingkuh gara-gara taneman?” ujar Susi yang memang merasa ada ketidakyakinan dalam diri Rina.
“Maksudnya gimana, Yang?” tanya Rina.
Susi menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Ada sesuatu yang mungkin akan sulit diterima Rina tetapi harus disampaikan oleh Susi.
“Nduk, sepengalaman Eyang, masalah begitu selalu dua arah. Ada pihak yang ngasih dan nerima. Gak mungkin kalo Cuma dari nanem taneman aja. Coba kamu tanya langsung ke Suamimu, buat dia ngaku sejak kapan seperti itu. Maaf ya kalo kesinggung,” jawab Susi.
Rina dan Lisa terdiam. Memang yang paling memungkinkan adalah Toni selingkuh dengan Helnina karena mereka berdua menghendaki itu terjadi. Toko tanaman yang damai seperti ini tentunya tidak akan menjual tanaman berbau gaib untuk pengunjungnya. Lisa melihat ke arah Rina yang mengatur pernafasannya. Susi memandang kasihan pada Rina. Sepertiya Susi mengetahui Rina menahan air matanya setelah mendengar penjelasan dari dirinya.
“Ya udah Yang. Makasih ya. Maaf ngeganggu,” ujar Rina sambil pamit dari toko.
Lisa kebingungan melihat Rina yang langsung pergi. Seketika, Lisa merasa canggung dengan Susi padahal sebelumnya biasa saja. Lisa tersenyum pada Susi untuk mencairkan suasana lalu menyusul sahabatnya di luar. Susi memperhatikan kedua orang tersebut keluar dari tokonya. Ia berharap, apapun yang dihadapi oleh dua orang tadi bisa segera selesai.
...****...
Rina keluar dari dalam toko tanaman dengan putus asa. Ia tidak tahu apa penyebab suaminya berbuat seperti itu. DI perjalanannya kembali menuju kafe, seorang perempuan yang sedari tadi memperhatikan Rina dan Lisa mendekati Rina.
“Siang Mbak, mau tanya Mbaknya ini punya masalah sama tanaman air mata pengantin juga ya?”
Rina melongo mendengar pertanyaan dari orang yang tidak dikenalnya ini. Secercah harapan muncul di hadapan Rina. Bisa jadi inilah jawaban yang dicari.
“Mbak, pokoknya hati-hati ya kalo udah ketemu bunglon tinggal di tanemannya nanti.”
__ADS_1
Rina mematung. Terlihat Lisa berjalan mendekati Rina seraya perempuan misterius tadi meninggalkannya. Bunglon sudah tinggal di air mata pengantin. Lebih buruk, bahkan bunglon tersebut sudah berkeluarga.
...****...