Air Mata Pengantin Dan Keluarga Bunglon

Air Mata Pengantin Dan Keluarga Bunglon
Chapter 11 Rina Mulai Curiga


__ADS_3

Sebulan berlalu setelah acara syukuran Baptis Elia di rumah Rina dan Toni. Kondisi rumah tidak mengalamai perubahan yang berarti, hanya beberapa perabotan mengalami perpindahan lokasi agar Elia yang mulai aktif latihan berjalan semakin dimudahkan. Tentu saja, Rina yang lebih aktif melatih Elia berjalan. Kondisi Elia yang sekarang menjadi pekerja lepas menunggu proyek dari Pak Barkah membuatnya memiliki banyak waktu dengan Elia. Tidak dengan Toni. Beberapa hari ke belakang, Toni semakin sulit diajak berinteraksi padahal ia juga bekerja dari rumah. Toni lebih sering mengurung dirinya di kamar, mengerjakan skenario film panjang yang direncanakannya bersama Helnina. Pernah suatu hari Rina merasa Toni tidak keluar dari kamar sama sekali. Baru kali ini ia melihat Toni bekerja seperti itu. Toni pernah terlibat dalam proyek film yang memiliki bujet lebih besar dan mendapat jutaan penonton tetapi tidak sampai seperti ini ia bekerja. Rina dalam hati sudah ingin bertanya kenapa pengerjaan skenarionya sampai segitunya tetapi ia merasa belum berada pada posisi yang menguntungkan.


Sama seperti biasanya, Toni duduk serius di meja kerja memperhatikan hasil pekerjaannya. Kipas exhaust menyala untuk membuang udara yang ada di dalam ruangan kerja Toni. Ya, Toni kembali merokok persis ketika Helnina datang di acara syukuran Baptis Elia. Rina tidak bisa melarang Toni karena setidaknya Toni mengingat apa yang sudah diminta Rina jika ia ingin kembali merokok. Keranjang pakaian juga berada di dalam kamar, menunggu untuk dicuci oleh Toni. Semua terlihat normal, sesuai yang diminta Rina. Jika ada satu hal yang agak aneh dari Toni adalah caranya berpakaian. Toni memang menjadwalkan untuk membahas skenario dengan Helnina tetapi pakaian yang ia kenakan bisa dibilang terlewat rapi. Kemeja yang biasa digunakan untuk ke Gereja, rambut yang klimis dan agak basah serta celana yang menggunakan jeans. Entah rapat seperti apa yang akan diikuti Toni.


Toni melihat ke HPnya yang berbunyi karena pesan dari Helnina. Terdapat tautan untuk mengikuti rapat nanti pukul sebelas siang. Toni tersenyum membaca pesan dari Helnina dan mengabaikan pesan dari Rina yang memintanya untuk membantu membereskan rumah. Rina membawa Elia untuk imunisasi sedari pagi dan kemungkinan baru akan pulang sebelum jam makan siang. Masih ada waktu sekitar satu jam kurang untuk mencegah istrinya marah tetapi Toni memilih untuk membaca email dari Helnina yang berisi revisi darinya. Ada beberapa salah penggunaan huruf kapital di dalamnya dan membuat Toni gatal ingin memperbaikinya. Keinginan tersebut membuat Toni larut dalam revisi kedua dadakan yang diberikan produsernya hingga waktu menunjukkan pukul sebelas dan rapat akan segera dimulai.


...****...


Rina selesai memarkirkan mobilnya di depan rumah lalu membawa Elia yang tertidur keluar dari mobil. Ia sengaja tidak memarkirkan mobilnya di dalam karena nanti sore akan pergi bersama dengan Toni untuk mendatangi pemutaran perdana dari film yang dibintangi Helnina. Sebenarnya, Rina malas untuk menemani suaminya tersebut karena masih tidak tega untuk meninggalkan Elia di rumah Ibunya. Terlebih di rumah Tuti. Keadaan rumah Tuti yang selalu ramai dan penuh asap rokok membuatnya sangat menghindari menitipkan Elia ke sana. Setidaknya, di rumah keluarga Rani ia tahu kalau Bambang tidak akan merokok di dekat cucunya. Rani juga tahu Marni tidak akan segan untuk melempar Bambang dengan sandal jepit jika mencium bau rokok di baju suaminya sebelum menggendong Elia. Rina perlahan menuju pintu rumah dan membuka pintunya. Baru masuk ke dalam rumah, Rina mendecak kesal. Rina memperhatikan sekelilingnya dan belum ada perubahan sama sekali. Alat pel yang sengaja disiapkan Rina untuk Toni masih pada posisi awal.Tak ingin emosi dan akhirnya membuat Elia yang masih tertidur karena efek imunisasi, Rina berjalan menuju kamarnya untuk menaruh Elia di keranjang tidur lalu menemui Toni di ruang kerjanya.


Rina mengetuk pintu ruang kerja Toni. Terdengar suara Toni dengan suara perempuan yang tidak asing. Suara Helnina. Rina kembali mengetuk pintu kamar dan kali ini terdengar suara kursi yang dimundurkan. Toni membuka pintu kamar dan mendapati Rina berdiri memandanginya dengan penuh kecewa dan heran. Kecewa karena Toni tidak mengerjakan permintaannya, heran karena Toni terlihat begitu rapi untuk rapat yang dilakukan di dalam rumah.


“Mas, kok gak dipel lantainya?” tanya Rina.

__ADS_1


Toni mengernyitkan dahinya. Seakan mencoba untuk berpikir dan mengecoh Rina karena Toni tidak mengerjakan permintaan istrinya. Rina masih fokus memandangi Toni, meminta jawaban darinya.


“Loh, tadi kamu minta tolong ya? Aku dari tadi sibuk meriksa skenario yang lagi kupresentasiin ini. Gak sempet cek HP,” kilah Toni pada istrinya.


Rina menghembuskan nafas perlahan, kesal mendengar jawaban dari Toni. Ingin rasanya ia menaikkan volumenya agar Toni sadar selain pesan pun Rina sudah meminta tolong pada Toni sebelum ia berangkat tetapi tidak bisa. Ia tidak ingin merusak pekerjaan Toni. Toni membutuhkan proyek ini agar langkahnya menjadi penulis skenario yang lebih mapan semakin dekat.


“Iya udah Mas, sana rapat lagi,” ujar Rina pelan.


Toni menggaruk kepalanya seakan ia tidak enak sudah mengecewakan Rina.


Perlahan Rina meninggalkan Toni yang memperhatikan Rina. Toni merasa tidak enak pada istrinya tetapi apa boleh buat. Ia sudah memilih untuk mengabaikan permintaan Rina. Hanya berbohong satu-satunya cara Toni untuk menyelamatkan dari amukan istrinya.


...****...

__ADS_1


Jam menunjukkan pukul setengah satu siang. Rina telah selesai mengepel lantai rumah dan menyiapkan makan siang di meja makan. Susu untuk Elia pun sudah disiapkan Rina, hanya tinggal menunggu Elia terbangun. Rina memejamkan mata lalu mengatur pernafasannya. Rina mencoba mengumpulkan sisa tenaga yang ada di dalam dirinya untuk memanggil Toni di ruangan kerja dan mengajaknya makan siang. Baru berjalan sebentar, pintu ruangan kerja Toni terbuka. Toni yang sudah mengenakan pakaian santai berjalan mendekati Rina.


“Maaf ya, aku baru selesai ini,” ujar Toni.


“Iya gapapa, itu makanannya udah siap. Aku ga sempet masak, seadanya dulu ya sama yang tadi kupesen,” jawab Rina.


Toni segera duduk di kursi makan lalu melihat ke arah Rina yang justru menjauh.


“Loh, kamu gak sekalian makan? tanya Toni.


“Mau beberes ruang kerjamu dulu,” jawab Rina sambil menjauhi Toni.


Toni menyendok nasi dari centong lalu mengambil lauk yang ada di meja makan.

__ADS_1


Rina sampai di dalam ruang kerja Toni. Ia menggelengkan kepalanya melihat ruangan kerja yang kembali berantakan semenjak Helnina meminta Toni mengerjakan skenario versi panjang dari film pendek yang mereka dulu pernah buat. Dengan telaten Rina menyusun cetakan skenario yang berceceran di atas meja kerja dan menjadikannya dalam satu tumpukan. Urutannya sudah tidak diperhatikan Rina. Ia hanya ingin segera menyelesaikan ini karena tahu kalau tidak segera dikerjakan maka Toni akan lama mengerjakannya. Ketika mengumpulkan cetakan skenario, tangan Rina tidak sengaja menyenggol mouse laptop Toni. Laptop Toni menyala. Rina teralihkan ke arah laptop Toni dan melihat email dari Helnina. Pada awalnya, Rina tidak menggubris isi revisi dari Helnina. Penggunaan huruf kapital yang tidak pada tempatnya itu yang membuat Rina risih dengan apa yang dilihatnya. Rina menoleh ke arah luar. Elia menangis. Bergegas Rina meninggalkan ruang kerja Toni untuk menenangkan Elia.


...****...


__ADS_2