
Tak terasa waktu dua tahun berlangsung dengan cepatnya, karena kini perempuan yang dulunya bersekolah dari rumah saja sekarang sudah waktunya anak perempuan itu naik kelas yang dari elementary school menjadi junior high school.
"Kamu bisa sayangku, pasti bisa. Kamu putri mama dan papa yang pintar." ucap mama Ella dengan bangganya sembari melihat anaknya yang kini mulai terlihat lebih besar.
Anak perempuan yang menggerai rambutnya itu, menatap lurus terus ke arah cermin. Ini kali pertama untuknya bertemu dengan orang lain, jadi ada rasa didalam dirinya merasa gugup dan bingung harus bersikap seperti apa untuk nanti.
"Apa Ella bisa ya nanti?" gumam Ella yang dapat didengar wanita yang ia panggil mama.
"Pasti bisa, mawar kecilku ini kan pintar. Mama sama papa pasti mendukung Ella." ucap mama Ella sembari mengambil sisir yang kini ia gunakan untuk menyisir rambut Ella.
Ella tersenyum menatap lurus ke cermin. Ella tak menyangka hari pembuktian taruhan antara dirinya dan Alex akan tiba secepat ini. Dan sudah hampir dua bulan ini Ella tidak bertemu Alex, karena Ella yang benar-benar ingin berkonsentrasi pada tes masuk junior high school ini.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan yang membuat Ella harus segera berangkat ke sekolah untuk menjalani tes. Beruntung tempatnya tidak terlalu jauh dari rumahnya, jadi untuk sampai ditempat jam sembilan pastinya tidak akan membuat Ella terburu-buru.
Bangunan megah dengan banyaknya mobil yang berjejer didepan gerbang sudah menjadi pemandangan Ella. Ella tau pasti diantara ratusan orang yang berkumpul, hampir semua menjadi saingan Ella. Apalagi untuk Ella yang belum mengenal dunia luar, pasti akan sulit memahami situasi seperti ini.
Ella turun dari mobil membawa ransel berwarna hitam miliknya. Memang di junior high school ini semua harus ditangani oleh muridnya langsung, atau lebih tepatnya tidak boleh orang tua membantu sang anak. Makanya sekarang saat mendaftar pun hanya dipenuhi anak-anak yang sama keadaannya dengan Ella.
Semua berkumpul menuliskan namanya masing-masing yang dimana setelah menulis nama, mereka akan dibagikan kata sandi sendiri-sendiri untuk membuka dokumen yang akan mereka kerjakan nanti. Ella tau ini sangat ketat, tapi sudah dua tahun Ella menyiapkan diri.
Semuanya tampak seperti sudah membawa teman, kecuali Ella tentunya. Pasti ada rasa sedih karena sekarang hanya Ella yang berjalan sendirian. Tapi kini Ella juga merasakan rasa tidak enak karena banyak laki-laki yang menatap padanya. Padahal Ella tidak merasa ada yang salah dengannya.
"Tulis nama kamu ya." ucap calon kakak kelas Ella yang kini bertugas mengurus pendaftaran untuk murid baru.
"Baik, kak." jawab Ella seraya menerima pulpen yang diberikan untuknya.
"Rosella Welboen. Panggilannya siapa?" tanya laki-laki didepan Ella yang tak lain adalah kakak pengurus pendaftaran tadi.
__ADS_1
"Maaf kak, terlalu cepat buat saya beritahu nama panggilan saya kek kakak." jawab Ella dengan senyuman sembari menerima kartu password nya.
Ella pergi meninggalkan tempat pendaftaran dan ikut berbaris bersama yang lain. Saat berdiri saja, Ella mengedarkan pandangannya ke segala penjuru gedung ini. Tapi kini tiba-tiba matanya menangkap seseorang yang akhirnya dirinya kenal. Anak laki-laki dengan jas tanda bahwa dirinya organisasi yang ikut mengurus pendaftaran.
Dalam lubuk hati Ella, dirinya ingin memanggilnya. Tapi bagaimana bisa kalau sekarang saja Ella bisa melihat betapa sibuknya anak laki-laki itu. Namun tak berselang lama, tatapan mereka bertemu, dan ini akan menjadi hal luar biasa karena dirinya mendapatkan senyuman dari anak laki-laki itu untuknya.
Ella yang merasa ditatap dengan senyuman, tak bisa menahan senyumnya. Senyumnya menghiasi wajah cantiknya, sampai-sampai dirinya tidak sadar kalau antriannya sudah mulai berjalan. Sampai akhirnya ada yang menegur Ella karena Ella yang sempat membeku ditempat.
Di Satu sisi, anak laki-laki yang menatap Ella tadi sudah pasti Alex. Seperti pepatah, beda mata beda yang terlihat. Karena pada faktanya, Alex menatap tajam Ella dengan mengeluarkan smirknya. Karena Alex tau kalau perempuan itu akan menjalani tes nya hari ini, harapan Alex agar perempuan itu tidak lolos. Tapi kalau lolos, maka plan B Alex yang akan berjalan. Bukan begitu?
Kembali pada Ella, sekarang gadis itu sudah duduk di kursi yang setiap kursi disana memiliki jarak masing-masing satu kursi. Rasa gugup Ella semakin bertambah tat kala matanya menatap semua orang yang terlihat seperti ilmuwan. Berbeda dengan Ella yang tampak seperti gadis anggun yang tidak pernah menyentuh dunia luar, walaupun itu faktanya.
Saat duduk, semua anak masih diberi waktu 10 menit sebelum. Saat itu, ada yang menghabiskan waktunya untuk berdoa dan ada juga yang seperti merapalkan mantra. Dan Ella lebih memilih untuk berdoa, karena ini tes pertama dalam hidupnya.
"Apa kau seserius ini dengan tes nya?"
"Huh. Apa maksudnya?" tanya Ella setelah mengembuskan napas untuk mengontrol emosinya.
"Kalau kau kaya, pasti kau diterima. Itu sudah pasti!" ucap anak perempuan sebayanya yang duduk disebelahnya.
Ella yang awalnya hanya melirik anak perempuan itu, kini menatap dengan jelas anak perempuan itu. "Maksudnya?" tanya Ella penasaran.
"Ya, ini hanya formalitas yang terlihat. Aslinya tidak ada tes seperti ini." jawab perempuan itu membuat Ella tidak percaya dan langsung mengembalikan pandangannya ke depan.
"Oiya, kenalkan namaku Jessie Norwa." sambung anak perempuan itu sembari mengulurkan tangannya pada Ella.
Ella yang notabene tidak mau membuat masalah di hari pertamanya, akhirnya menyambut uluran tangan perempuan bernama Jessie Norwa itu. "Rosella Welboen." jawab Ella.
__ADS_1
"Keluarga Welboen. Well, kita pasti akan ketemu. Kita harus berteman!" ucap Jessie yang kini terpotong karena waktu sepuluh menit sudah selesai. Dan sekarang waktunya untuk mengerjakan tes yang telah diberikan.
Ella melihat soal-soal yang sejujurnya tidak susah bagi Ella. Malah ini pengetahuan yang Ella pelajari satu tahun yang lalu, maka dari itu sekarang rasa gugup Ella seketika langsung hilang. Dan rasa percaya diri Ella naik sampai Ella berpikir dirinya pasti bisa menjawab semua dengan benar.
Waktu dua jam pengerjaan, terasa kebanyakan bagi Ella karena dalam satu jam ini saja Ella sudah selesai mengerjakan tes nya. Dan saat itulah waktu dimana Ella melihat sekeliling, dan ternyata...
Pemandangan yang diluar dugaan Ella. Anak-anak yang Ella pikir jenius seperti ilmuwan itu, sekarang ada yang tidur, ada juga yang bengong saja sambil memainkan pensil dengan kedua jarinya. Dan kini Ella menatap sampingnya dimana Jessie berada, dan sama seperti yang lainnya Jessie sekarang membaringkan kepalanya diatas soal yang belum diisikan namanya.
"Apa ini ritual sebelum tes?"
.......
.......
.......
.......
.......
...Hai semua ☺️...
...Aku kembali 🤭...
...Jangan lupa like, komen dan vote ya 🤭...
...See you next part:)...
__ADS_1