
Setelah kejadian taruhan dengan Alex, Ella sekarang akan mempersiapkan diri dengan giat agar bisa masuk ke sekolah yang sama dengan Alex. Seperti sekarang ini, dirinya terus bergulat dengan buku-buku di perpustakaan rumahnya tanpa sedikitpun mengingat untuk urusan perutnya.
Ella harus buktikan pada Alex bahwa dirinya tidak sebodoh yang Alex bayangkan. Bukan artinya kalau Ella anak perempuan yang lebih kecil dari Alex, dirinya akan terlalu bodoh. Semenjak kali pertama bertemu Alex, Ella yang selalu berbicara. Tapi kali ini kesempatan Ella agar Alex bisa bangga padanya.
"Ella, sudah empat jam loh kamu diem di perpustakaan." ucap halus sang mama setelah mendapatkan laporan dari pelayan kalau Ella belum keluar dari perpustakaan lagi hari ini.
"Baik, Ma. Nanti aku menyusul ya?" ucap Ella mengakhiri perdebatan antara dirinya dengan sang ibunda.
Sekiranya seperti itu yang Alex dengar sekarang. Bahwa Ella benar-benar berjuang demi bisa bersekolah yang sama dengannya. Alex akui nyali Ella benar-benar besar, tapi tetap saja Alex tidak ingin perempuan seperti Ella menjadi istrinya karena bisnis keluarga.
Sejak awal bertemu dengan Ella, Alex sudah tau kalau Ella memiliki sifat yang ceria dan bisa menyembunyikan perasaannya. Apalagi Ella salah satu perempuan yang Alex tau memiliki jiwa yang terus ingin berjuang demi apapun yang ia inginkan. Seperti contohnya menginginkan Alex untuk berbicara, pasti ada saja hal yang membuat Alex meruntuhkan temboknya saat berhadapan dengan Ella.
"Kalau begitu, ada peluang dia bisa satu sekolah denganku." gumam Alex seraya menatap matahari terbenam dari balkonnya.
Alex tidak memikirkan untuk membenci Ella, tapi setidaknya harapan Alex adalah Ella membencinya. Karena perjodohan ini tidak harus terjadi, dan harapan Alex hanya pada Ella. Kalau Ella mengeluh pada orang tuanya, sudah pasti orangtuanya akan memutus hubungan antara keluarga Bhalla dan Welboen.
Ini bukan bisnis yang sehat, makanya Alex tidak ingin ada suatu masalah di suatu saat kalau Alex dan Ella dihubungkan dalam pernikahan bisnis. Alex sangat paham keinginan keluarganya, tapi Alex tidak yakin apakah dirinya bisa seperti apa yang keluarganya harapkan kalau Ella saja selalu berusaha mendekati dirinya.
"Ya perempuan itu memang sedikit aneh. Padahal kalau dia diam, lalu menjalani perjodohan ini dengan tenang tanpa mengganggu satu sama lain pasti akan berjalan lancar." gumam Alex sembari melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar karena matahari terbenam sudah selesai.
__ADS_1
Sekiranya begitu pemikiran Alex atau harapan Alex. Alex tidak tertarik dengan Ella, karena Alex yakin suatu hari nanti dirinya bisa mendapatkan seseorang yang benar-benar ia inginkan, dan itu bukan Ella.
Sampai keesokan harinya Keluarga Alex mendapat undangan untuk makan bersama keluarga Welboen. Dari situlah sekarang Alex baru bisa melihat Ella, tapi tatapan Alex kini tertuju pada pipi yang terakhir kali Alex lihat masih berisi, dan sekarang pipi itu seperti terhisap entah kemana sampai hilang.
"Iya, mawar kecilku ini akhir-akhir ini rajin sekali belajar supaya bisa bersekolah diluar." ucap nyonya Welboen yang menyadarkan Alex dari lamunannya.
"Haha, memang benar apa yang aku lihat dari anak kalian. Ella punya semangat yang sama seperti ayahnya, tapi wajah yang cantik seperti ibunya." puji tuan Bhalla yang mendapat senyuman manis dari Ella.
Alex masih memperhatikan anak perempuan yang berada tak jauh darinya. Atau lebih tepatnya mereka berdua saling berhadapan sekarang, makanya tidak susah bagi Alex untuk menatap Ella. Ya Alex akui kalau Ella benar-benar bodoh, padahal kenyataannya jika ia ingin masuk ke sekolah yang sama dengannya, sangat mudah karena dia anak konglomerat juga. Biaya bukan hal yang susah bagi keluarga Welboen.
"Alex memang beruntung, karena kedepannya dirinya mengenal Ella yang bijak dan giat." sambung tuan Bhalla membuat Alex menghentikan tatapannya dari Ella.
"Ya, saat itu Ella datang ke rumah, dia juga bilang akan berusaha supaya bisa masuk ke sekolah." ucap Alex membuat anak perempuan yang sejak tadi ditatapnya kini menatapnya balik.
"Iya, memang mawar kecilku ini kalau sudah punya keinginan bagaimanapun caranya dia harus mendapatkannya." ucap nyonya Welboen yang ditanggapi anggukan kepala dari Alex.
Alex tersenyum layaknya seorang anak laki-laki baik biasanya, dan itu membuat kedua orangtuanya langsung ikut tersenyum karena mendapati anak laki-lakinya bersikap sewajarnya dan seperti yang mereka harapkan.
"Wah, sepertinya Ella dan Alex benar-benar sudah akrab ya. Wajar saja karena mereka sudah kenal dari kecil." ucap tuan Bhalla dengan bangganya pada keluarga Welboen, begitu juga dengan nyonya Bhalla yang sekarang mengusap lembut kepala Alex karena turut bangga dengan putra semata wayangnya.
__ADS_1
"Ya, memang benar sekali apa yang anda katakan. Saya juga merasa akan lebih baik jika Ella bersekolah yang sama dengan Alex, saya merasa aman kalau itu terjadi." balas tuan Welboen menarik tawa para orang tua di meja makan itu.
Suasana hangat ini benar-benar Alex rasakan, tapi tatapannya belum berpaling dari Ella. Dan tibalah waktu dimana makan malam selesai dan para orang tua ingin bercakap-cakap, maka dari itu Alex akan bersama Ella untuk saat ini.
"Kakak berharap aku menang taruhan?" tanya Ella membuat Alex yang berada dibelakang Ella menghela napasnya.
"Tentu saja tidak." jawab Alex.
"Tapi kakak tadi? Kenapa kakak seperti mendukung Ella?" tanya Ella lagi karena Ella merasa bingung dengan sikap Alex yang berbeda dari yang Ella tau.
Alex mendudukan dirinya di kursi yang ada di dekatnya, menatap wajah penuh tanya Ella dengan bahagianya. Sekilas Alex menikmati wajah Ella yang sedang kebingungan.
"Atau kita tambahi saja perjanjian kita? Jika kau menang, seperti yang kau minta aku akan memberikan bunga crocus dan juga tambahannya yaitu aku akan menyetujui permintaan orang tua kita. Tapi kalau kau kalah, langsung saja katakan pada orang tuamu kau tidak ingin bersamaku, karena kau tidak suka hubungan yang seperti ini." ucap Alex membuat Ella sedikit bingung tapi ia yakin intinya Alex akan bersama Ella jika Ella menang.
"Kalau Ella menang, kak Alex akan bersama Ella. Jadi kak Alex akan setuju apapun itu?" tanya Ella memastikan apa yang ia dengar dan ia pahami.
Alex menganggukkan kepalanya sembari melipat tangannya ke depan dadanya. Alex mengeluarkan smirknya saat wajah Ella yang tersenyum memandangi Alex dengan bahagia. "Jadi, deal?"
"Deal!"
__ADS_1