
Hari-hari buruk Ella sudah pudar seiring berjalannya waktu. Dan sekarang Ella lebih menikmati hari bersama Jessie, karena Jessie juga yang membuatnya bisa sedikit mengurangi rasa pemalunya. Dan sampailah satu bulan setelah mereka diterima di sekolah ini.
"El, dua bulan lagi kelas 3 pasti ujian. Setelahnya ada acara perpisahan. Kau mau ikut apa?" tanya Jessie pada Ella sambil memakan keripik ditangannya.
"Ngga deh, aku ngga ada bakat buat ikut-ikutan." jawab Ella karena memang dia sudah tidak berminat dengan itu semua.
"Kalo gitu kita ikut aja ke farewell nya aja nyari makanan." ucap Jessie yang seketika membuat Ella tertawa. Ya tidak salah juga menyetujui saran bagus dari Jessie.
Kalau dipikir-pikir, sekarang dirinya bisa bergaul dengan orang lain. Ternyata cukup seru juga bisa mengobrol pakai bahasa yang informal. Ella akui Jessie berhasil merebut hatinya, sampai sekarang Ella dan Jessie sudah dianggap sepaket karena kemana-mana selalu berdua.
Jam pulang sekolah membawa Ella dan Jessie harus berpisah. Saat jemputan Jessie sudah datang lebih dulu, Ella sendirian menunggu sopirnya datang. Tapi beruntungnya dengan menunggu ini membuat Ella bisa memikirkan adakah barang yang ia lupakan dikelas, dan ternyata benar dirinya melupakan botol minumnya di loker.
Saat ingin kembali ke gerbang, Ella melewati ruangan yang sebelumnya pernah ia datangi. Ruangan dimana dirinya melihat sisi Alex yang menurutnya tidak bisa ia sangka kalau Alex akan bersikap berbeda.
Ella masuk keruangan itu dan dirinya melihat banyak cermin yang menjadi dinding ruangan itu. Ella baru sadar kalau ruangan ini adalah ruangan latihan dance. Karena sekolah sudah sepi, Ella menjatuhkan tasnya dan menatap dirinya di cermin. Dengan kalimat-kalimat yang memenuhi pikirannya, Ella mengayunkan tangannya dan melangkahkan kakinya membentuk sebuah tarian cantik seperti berada di pesta dansa.
Lagu dalam kepalanya berhenti, membuat Ella tersadar kalau dirinya pasti akan ditunggu sopirnya sekarang. Dengan segera, Ella mengambil tasnya dan berlari ke gerbang depan sebelum pak sopir menelepon orang tuanya.
Sampainya dirumah, Ella langsung terkejut saat seseorang yang tidak ingin dia lihat terlebih dulu malah berada didalam rumahnya. Dengan segera Ella memaksakan senyumnya dan menyapa orang-orang yang duduk di satu ruangan dengan orangtuanya.
"Halo Tante Laura." sapa Ella dengan senyumnya.
"Wahhh apa ini, sekarang Ella sudah jadi remaja cantik." balas Laura Bhalla dengan senyuman yang tak kalah lebarnya dengan senyuman yang Ella berikan.
__ADS_1
Ya, benar apa yang kalian lihat. Saat ini keluarga Bhalla lah yang datang kerumah Ella. Dan tak lepas dari itu, ada satu makhluk hidup dari keluarga Bhalla yang saat ini tidak ingin ia lihat. Siapa lagi kalau bukan Alex Bhalla!
Semua orang tua yang ada bercanda tawa ditengah Ella yang merasa ingin segera keluar dari lingkaran ini karena tatapan mata Alex yang selalu tertuju padanya sekarang ini. Kalau dulu Ella akan senang diperhatikan Alex, sekarang Ella benar-benar tidak ingin berhadapan dengan Alex.
"Wah, bukankah itu terlalu cepat kalau menggelar pertunangan mereka berdua?" ucap tuan Welboen yang mendadak menyita perhatian Ella yang sejak tadi menundukkan kepalanya.
"Ya memang benar masih terlalu dini untuk mereka, tapi melihat Ella yang semakin cantik membuat keluarga kami benar-benar ingin membuat Ella menjadi anak perempuan kami." ucap tuan Bhalla dengan diakhiri tawanya.
"Bagaimana dengan pendapat mereka." ucap nyonya Welboen yang masih ragu kalau putrinya akan diklaim menjadi tunangan orang lain.
Semua orang tua langsung mengarahkan pandangannya ke Alex dan juga Ella. Alex diam seakan menunggu jawaban dari Ella, dan itu membuat Ella semakin percaya kalau Alex adalah pria menyebalkan yang baru ia sadari.
"Ah itu, Ella sepertinya mau beradaptasi dulu dengan sekolah." jawab Ella dengan ramah tanpa melirik lagi ke arah Alex.
Jauh dari perkiraan Ella, ternyata para orang tua langsung tertawa dan memuji Ella yang berani mau membuat keputusan yang bagus. Dan itu cukup menenangkan diri Ella karena dirinya bisa terbebas sejenak dari Alex.
Tapi disisi lain yang tidak Ella ketahui, ternyata pria yang ditolaknya tadi mendapat amukan besar dari sang ayah. Seakan menyalahkan semuanya pada anaknya, pria itu terus-terusan memukul punggung anak laki-laki yang Ella sangat kenal.
"Dasar anak bodoh! Apa saja yang kau lakukan disekolah? Kenapa anak itu bisa menolakmu!! Ini bisa gawat kalau anak itu jatuh cinta di sekolahnya." kesal pria itu tanpa memperdulikan anak laki-lakinya yang menahan rasa sakit di punggungnya.
"KELUAR!" ucap pria itu dengan bentakan yang kerasa membuat anak laki-laki itu keluar dari ruangan yang dimana dirinya disiksa tadi.
Anak laki-laki yang sudah tidak perlu diragukan lagi namanya Alex Bhalla. Punggungnya yang terasa ngilu ia bawa dengan santainya karena bisa gawat kalau ada yang melihatnya. Sebagai calon penerus keluarga, Alex dituntut menjadi yang selalu tenang dan bijak untuk setiap hal. Seperti contohnya luka di punggungnya, karena bisa saja jika ada yang melihatnya pasti akan ada rumor-rumor aneh tentangnya.
__ADS_1
Alex sudah terbiasa dengan semua ini, apalagi menyangkut keluarga ini. Jika Alex tidak mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan, keluarga ini pasti akan menyerang Alex dengan perkataan bahwa dirinya terlalu lemah untuk menjadi calon penerus. Dan sekarang jika dirinya berhasil mendapatkan Ella, sudah pasti gadis polos itu yang akan diserang keluarganya.
"An**ng!! ARGHH!!" umpat dan erangan Alex saat dikamarnya dengan perasaan yang campur aduk. Alex benar-benar tidak menginginkan perjodohan gila ini, tapi posisi Alex berada di ujung dengan pemandangan jurang yang dalam.
"Keluarga gila!! Perse*an dengan keluarga!" kesal Alex yang sudah menjadi-jadi. Tapi jawaban Ella tadi sesuai dengan apa yang ia harapkan, karena...
Beberapa hari sebelumnya disaat pendaftaran organisasi.....
Alex sebagai ketua organisasi memasuki satu persatu kelas untuk memberikan informasi pendaftaran untuk organisasinya. Saat memasuki kelas Ella, sudah Alex duga kalau Ella akan terus menatapnya dan pasti akan mendaftar di organisasinya.
Sesuai dugaan Alex, Ella datang dengan tanpa bakat sekalipun. Padahal benar kata Ella, organisasi ini juga terbuka untuk siapapun yang ingin belajar, tapi karena ini Ella jadi Alex ingin membuat Ella membenci dirinya untuk saat ini karena desas-desus keluarganya ingin segera bertunangan terdengar jelas.
"Apa kau pikir ini rumahmu atau rumahku sampai kau bisa bersikap seenaknya?" tanya Alex dengan nada kesal dengan kepala menghadap ke atas.
"Bu-bukan begitu, a-aku hanya...."
"Ternyata kau memang masih kecil." ucap Alex dengan kesalnya seraya menatap lurus ke Ella. Dan tak berapa lama dirinya berdiri dan meninggalkan Ella di ruangan itu sendiri.
Dan ya, untuk beberapa saat Alex berpikir dirinya sudah terlalu jahat. Melihat bagaimana Ella tadi tidak menatapnya, sudah pasti gadis itu benar-benar membenci dirinya. Itu bagus, setidaknya untuk sesaat biarkan Ella merasakan kebebasan dunia luar, karena mungkin saja desakan orang tua akan segera menghampiri mereka.
...Hai semua ☺️...
...Aku datang lagi🤭...
__ADS_1
...Jangan lupa like, komen dan vote ya 🤭...
...See you next part:)...