Akhirnya Aku Mencintai Istriku

Akhirnya Aku Mencintai Istriku
Grown up


__ADS_3

Kalau umur Ella dan Alex masih kecil, maka hal pasti yang mereka jalani sekarang adalah sekolah. Hanya bedanya jika Alex bersekolah di internasional school, Ella dipilihkan orang tuanya untuk homeschooling saja. Tapi dengan begitu, banyak waktu untuk Ella berkunjung ke kediaman Alex.


Seperti sekarang ini, Ella sudah tiba sebelum Alex pulang sekolah. Ella sudah diterima dengan baik bahkan seperti tuan putri dirumah ini, jadi Ella bebas melakukan apapun di seluruh penjuru rumah ini. Pelayan-pelayan juga tau kalau Ella memiliki hak untuk mereka layani seperti nona muda di keluarga Bhalla.


"Kapan kak Alex pulang ya? Bukannya ini sudah jamnya dia pulang?" gerutu Ella yang meletakkan dagunya di pagar pembatas di balkon.


"Karena ini musim ujian, mungkin tuan muda akan pulang terlambat untuk belajar materi tambahan, nona." jawab pelayan yang tak sengaja ada di sebelah Ella karena datang untuk mengisi teh lagi ke cangkir Ella.


Ella yang sudah lelah, memilih menyadarkan punggungnya disandaran sofa. Lebih baik menunggu Alex dengan tidur daripada menunggu Alex sambil makan, itu menurut Ella. Dan benar seperti yang Ella harapkan, sekarang dirinya tidur dengan nyenyak di sofa dengan selimut yang diberikan pelayan.


Sinar matahari yang tiba-tiba menyinari Ella, saat itulah mata Ella terbuka sempurna. Terlihat cahaya oranye memancar dihadapan Ella. Pandangan Ella yang awalnya masih sayu, kini langsung segar karena tak disangka ada anak laki-laki yang sedang membaca buku sambil berdiri bersandar pagar pembatas balkon, atau dia yang Ella tunggu-tunggu sampai ketiduran.


"Kak Alex? Kapan kakak disitu? Kenapa ga bangunin aku?" serbuan pertanyaan dari Ella.


Alex yang mendengar celotehan dari suara yang familiar ditelinganya, tanpa menjawab langsung pergi masuk kedalam rumah. Ella bergegas merapikan rambutnya lalu mengejar Alex yang sudah terduduk di kursi kamarnya.


"Hari ini aku sekolah bahasa. Kakak tau, ternyata ada banyak bahasa di dunia ini. Tapi aku fokus dengan 5 bahasa saja. Kalau kakak bisa berapa bahasa?" celoteh Ella setelah ikut duduk disebelah Alex.


Alex hanya melirik Ella, seperti berusaha memperingatkan Ella untuk diam. Ella yang paham dengan arti lirikan Alex, semakin gencar menggoda anak laki-laki itu. Setiap celotehan tidak jelas selalu Ella lontarkan. Biarkan saja Alex tidak mendengarkan, yang penting sekarang Ella tidak boleh membiarkan keheningan di antara dirinya dan Alex.


"Kakak tau tidak, selama menunggu kakak tadi aku membayangkan hal indah. Kalau benar kakak jadi pengantin laki-laki ku, saat itu pasti akan mekar bunga sakura yang indah juga seperti momennya." ucap Ella sembari memejamkan matanya kembali membayangkan betapa indahnya suasana saat itu.


Alex mendengus, sangat tidak percaya dengan pikiran anak 7 tahun itu. Bagaimana bisa ada anak kecil memikirkan pernikahan yang mungkin saja tidak akan terjadi karena Alex tidak mau. Bahkan jika mereka menikah, perlu sekitar sepuluh tahun lagi supaya semua data diri mereka berdua lengkap.


"Benar, sebaiknya bayangkan saja. Bisa jadi bayangan itu menjadi mimpimu saja, karena aku tidak mau menikah denganmu." balas Alex dengan datar namun setiap nada yang menusuk di pendengaran.


"Kalau itu bisa jadi mimpiku, aku akan berusaha untuk mewujudkannya. Walaupun kakak tidak mau." jawab Ella dengan senyuman yang menurut Alex sangat menjengkelkan.

__ADS_1


Alex yang mendengar jawaban dari Ella, mendadak terdiam dan kesal. Benar-benar gadis menyebalkan bagi Alex. Bagaimana bisa gadis seperti Ella bertahan dengan senyuman padahal Alex sudah mengabaikan dirinya beberapa kali, atau bahkan setiap kali.


"Aku suka kakak." ucap Ella yang mendadak membuat Alex melongo. Baginya kata "suka" seperti itu tidak boleh diucapkan pada sembarang orang, apalagi mereka masih kecil.


"Apa kau tau itu tidak sopan?!" balas Alex dengan wajah mengerut tanda dirinya tidak suka dengan perkataan Ella.


"Apa salahnya kalau aku suka kakak yang rajin belajar, pintar, dan tampan. Semua perempuan pasti juga akan mengatakannya kalau melihat kakak!" cetus Ella dengan enteng. Karena jujur Alex bisa dikatakan anak laki-laki tertampan yang Ella tau.


"Darimana kau mempelajarinya? Apa keluargamu tidak pernah mengajarkannya?"


"Aku suka liat Barbie! Apalagi cerita princess! Mereka mencari cinta sejati mereka." jawab Ella dengan polosnya membuat Alex menepuk jidatnya karena tidak habis pikir dengan jalan pikiran anak 7 tahun ini.


Keheningan tiba-tiba datang tapi tak berselang lama datang juga pelayan yang memberitahu kalau sudah saatnya mereka makan malam. Dari situlah Alex bisa bernapas lega karena setidaknya terbebas dari segala pikiran tentang Ella.


Sampai tiba waktunya Ella pulang, Alex sebenarnya masih memikirkan perkataan Ella. Mungkin sebaiknya Alex yang harus memulai agar Ella tidak lagi menonton kartun tidak jelas seperti Barbie dan lainnya.


Tanpa disadari, junior high school sudah didepan mata Alex. Meninggalkan masa elementary school, sekarang tingkat Alex semakin tinggi. Bukan hanya itu, Alex juga semakin tumbuh menjadi laki-laki yang tampan dan cool. Sementara Rosella yang berjarak 2 tahun dengan Alex, masih berada dalam homeschooling dirumahnya.


Anak laki-laki berusia 13 tahun itu, berjalan melihat-lihat sekolah yang akan ia tempati. Seperti sekolah biasa, tapi fasilitas yang lebih lengkap lagi dibandingkan sebelumnya. Wajar saja karena anak 13 mata pelajaran yang harus Alex jalani.


"Lex, kau dapat kelas apa?" tanya salah satu dari tiga orang yang selalu mendekati Alex walaupun pria itu tak pernah menganggap mereka.


"Kenapa bertanya lagi, sudah pasti Alex Bhalla ada di kelas pertama. Bukan begitu Alex?" sahut salah satu dari ketiga orang-orang itu. Sementara Alex hanya mengangkat sudut kanan bibirnya seakan memberi respon bahwa memang benar kalau dirinya ada di kelas pertama.


Regi, Leon, dan Raka. Ketiga orang yang selalu mengikuti Alex walaupun Alex hanya diam tanpa menggubris mereka bertiga. Padahal sudah dari elementary school mereka bersama, tapi tetap saja Alex diam. Hanya hal penting maka Alex akan berbicara dengan mereka.


"Baiklah-baiklah, Regi kau benar. Tapi kenapa kita masuk kelas kedua? Apa mereka tidak melihat kalau kita selalu bersama Alex? Mungkin mereka perlu ke THT." kesal Leon karena hanya Alex yang masuk kelas pertama.

__ADS_1


"Gunakan otakmu, Leon. Kau bodoh, makanya tidak masuk." kesal Regi karena harus bertemu Leon lagi dikelasnya.


Berbeda dengan Regi dan Leon, Raka salah satu yang diam juga seperti Alex. Hanya saja Raka tidak sedingin Alex, dirinya masih mau tersenyum atau bertukar sapa dengan yang lain. Kalau Alex benar-benar murni kalau dirinya dingin.


"Lex, katakan apapun kalau kau perlu bantuan kami." ucap Raka sembari menepuk pundak Alex.


"Heh, Aku tidak butuh." balas Alex setelah mendengus karena ucapan Raka yang seperti merendahkannya.


.......


.......


.......


.......


.......


...Hai semua ☺️...


...Jumpa lagi dengan aku🌼...


...Jangan lupa like, komen dan vote 🌼...


...Dukungan kalian semangat author 🔥...


...See you next part:)...

__ADS_1


__ADS_2