
Siang hari sesuai jadwal, talent room padat dengan para pendaftar. Dan disinilah Ella dengan pamflet yang ia pegang antri untuk mendaftarkan diri di organisasi yang sama dengan Alex. Ya, sudah pasti kalau Ella akan mendaftarkan diri, terlebih ketua organisasi ini masih dipegang Alex.
Dan sekarang giliran Ella masuk ke dalam ruangan. Dan tentu saja didalam ruangan itu langsung terlihat Alex yang duduk dengan salah satu kaki ia tompangkan di kaki satunya. Tatapan Alex masih seperti biasanya, sangat dingin sampai menembus tulang Ella.
"Apa keahlianmu sampai kamu berani mendaftar di organisasi kami?" tanya perempuan yang duduk di samping Alex dengan ketusnya.
"Sebenarnya aku tidak tau apa keahlianku, tapi karena ini sebuah organisasi aku jadi berpikir untuk mulai mencari dan belajar dari organisasi ini." jawab Ella langsung membuat perempuan yang tadinya duduk langsung berdiri.
"Menurutmu ini tempat les? Di organisasi ini, tidak ada orang bodoh! Semua berbakat dan mau bekerja keras menaikkan nama organisasi ini!!" ucap perempuan itu seraya melipat tangannya kedepan.
Dari sini Ella langsung diam seribu bahasa. Ingin mengotot tetap ikut, tapi dirinya tidak punya alasan kuat untuk masuk ke organisasi ini. Dan sekarang tatapannya langsung mengarah pada anak laki-laki yang juga menatapnya dengan datar. Dan kemudian anak laki-laki itu berdiri dan berjalan mendekati Ella dan perempuan galak tadi.
"Biarkan aku yang urus, kalian bisa urus pendaftar lainnya." ucap anak laki-laki itu yang bernama Alex Bhalla.
Sesuai perintah Alex, semua pergi meninggalkan Ella dan Alex berdua saja. Dan disitulah Ella langsung memberikan tatapan penuh tanya untuk Alex. Sedangkan Alex menghela napasnya sembari menyadarkan punggungnya ditembok yang dingin sembari menatap Ella dengan datar.
"Apa kau pikir ini rumahmu atau rumahku sampai kau bisa bersikap seenaknya?" tanya Alex dengan nada kesal dengan kepala menghadap ke atas.
Ella yang mendengar Alex berkata seperti itu seketika menundukkan kepalanya. Benar kata Alex, ini bukan rumahnya ataupun rumah Alex yang dirinya bisa bertindak tanpa ada masalah apapun. Tapi yang Ella kenal disini hanyalah Alex, pria yang ia percayai di sekolah ini hanyalah Alex.
"Bu-bukan begitu, a-aku hanya...."
"Ternyata kau memang masih kecil." ucap Alex dengan kesalnya seraya menatap lurus ke Ella. Dan tak berapa lama dirinya berdiri dan meninggalkan Ella di ruangan itu sendiri.
Apa ini artinya semua usaha Ella sia-sia? Tapi kenapa Alex menerima taruhan itu dengan bilang akan bersama dirinya sesuai dengan keinginan orang tuanya kalau akhirnya Alex malah menjauh terus darinya? Dan rasanya hati Ella hari ini tercabik-cabik entah berapa lapis. Yang pasti kali ini lebih sakit dibandingkan dengan sikap Alex sebelum-sebelumnya.
Ella keluar dengan menahan air matanya yang bisa saja jatuh kapan pun saat air itu penuh. Dan Ella mencoba menahannya dengan sekuat tenaga agar tidak jatuh sampai dirinya ke toilet, tapi siapa sangka malah air mata itu lebih cepat jatuh saat dirinya masih berada di lorong menuju toilet.
__ADS_1
Walaupun memang benar dirinya masih kecil, ini terlalu berlebihan untuk Ella. Padahal dirinya sudah banyak sekali mendapati sifat Alex, tapi kenapa yang sekarang bisa membuatnya menangis? Ini tidak adil, karena Ella harus merasakan rasa sedihnya.
Bersyukurnya pendaftaran ini dilakukan saat jam pelajaran selesai, jadi setelah Ella membersihkan wajah dan menghapus air matanya, sekarang dirinya bisa pulang dan melupakan kejadian tadi. Karena sekarang Ella benar-benar tidak memiliki semangat dalam hidupnya.
Sampainya dirumah Ella langsung masuk ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya di kasur empuk yang bisa memberikan kenyamanan untuknya. Moodnya benar-benar hancur kali ini, tapi bagaimana lagi karna Ella yang memilih jalan ini sejak awal.
Sampai tidak tau berapa hari Ella terlihat lebih diam dari biasanya. Dan saat inilah sekeliling Ella merasakan aura tidak menyenangkan dari Ella. Orang tuanya yang pertama menyadarinya perubahan sikap Ella, dan itu membuat kedua orangtuanya sedikit khawatir pada anak semata wayangnya itu.
Dan kini pelajaran kelas sudah berjalan semestinya karena sudah tidak ada gangguan dari organisasi-organisasi yang mempromosikan organisasinya. Ella sangat yakin saat ini dirinya sedang diperhatikan terus oleh seseorang yang Ella sendiri tidak tau apa yang pernah ia lakukan sampai rasanya Ella di pantau entah di kelas maupun di kantin sekolah.
"Kau yakin tidak ada kejadian saat kau mendaftar organisasi itu?" tanya Jessie yang sudah lama Ella abaikan karena mood Ella yang benar-benar jelek belakangan ini.
"Cuman ngga lolos aja karena aku ngga punya bakat." jawab Ella tanpa melebih-lebihkan alasan kenapa dirinya tidak lolos.
"Okey sebagai gantinya nanti kau ikut aku! Kita cari suasana baru." ajak Jessie yang seketika membuat Ella yang tadinya sedikit mengabaikan Jessie, sekarang langsung menatap Jessie dengan serius.
"Okey!" ucap Ella dengan senyum yang kini mulai terlihat di wajahnya.
"Aku sudah bilang ayah dan ibuku kalau kau ada bersamaku, aku juga udah minta mereka untuk mengabari orang tuamu." ucap Jessie menenangkan Ella yang sepertinya sedikit ketakutan.
"Jessie pengertian sekali!!" girang Ella yang tiba-tiba reflek memeluk Jessie dengan erat.
Jessie yang terkejut sekarang jadi tau kalau hari ini adalah hari pertama untuk Ella keluar main, dan pertama kali untuk Ella memiliki teman seperti dirinya.
Setelah adegan berpelukan itu, Ella dan Jessie benar-benar menghabiskan waktu dengan bercerita dan berkeliling mall yang saat ini menjadi pilihan mereka. Bahkan Ella dan Jessie juga berbelanja sambil menunggu jadwal film yang saat ini sedang booming itu tayang.
"Ooouh jadi kau home schooling? Jadi rumor kalau keluargamu menyembunyikan anaknya bisa jadi kebenaran?" tanya Jessie dengan rasa penasarannya yang tinggi.
__ADS_1
"Kalau untuk home schooling itu karena orang tuaku yang takut kalau aku terluka saat diluar. Dan..." seketika kalimat Ella berhenti karena Ella belum siap untuk mengatakan pada Jessie kalau sebenarnya dirinya sudah dijodohkan dengan Alex yang notabene kakak kelas mereka.
"Dan apa?" tanya Jessie yang tak sabar menunggu kalimat Ella.
"Dan... Aku kan anak semata wayangnya, jadi mereka seperti memperlakukan aku seperti tuan putri." sambung Ella dengan tidak berbohong, hanya saja dirinya mengganti kalimat yang akan ia ucapkan tadi.
"Benar juga. Kalau aku ada kakak, mungkin karena itu orang tuaku tidak terlalu cemas denganku." ucap Jessie.
Setelah asik mengobrol, Film yang mereka tunggu-tunggu akhirnya akan segera diputar. Dan merekapun menontonnya sebelum akhirnya Jessie mengantarkan Ella pulang dengan selamat dan menaikkan mood Ella yang dalam beberapa hari ini turun drastis.
.......
.......
.......
.......
.... ...
...Hai semua ☺️...
...Maafkan aku yang telat up 😭...
...Aku baru selesai UAS 😭...
...Mohon pengertiannya yaa...
__ADS_1
...Jangan lupa like, komen dan vote 🌼...
...See you next part:)...