
Setelah makan malam bersama keluarga besar Regan, Adel selalu mendapatkan perhatian dari keluarga besar itu. Mulai dari di ajak shopping sampai kuliner dan rekreasi. Seperti mereka menerima Adel jika memiliki hubungan dengan Regan.
Dan rencananya juga keluarga Regan tak lama ini akan mengajukan lamaran pada Adel. Mengingat Adel yang tidak memiliki orang tua lagi, proses lamaran itu rencana akan di adakan di rumah keluarga Regan. Proses lamaran yang rencana akan digelar megah karena Regan penerus satu-satunya saat ini di keluarga Bhalla. Keluarga yang lain memiliki putri, jadi sudah pasti Regan yang pria mendapatkan kesempatan besar di keluarga Bhalla.
Dan kini Adel berbelanja dengan para Tante keluarga Bhalla. Semua sangat antusias memilihkan dress, high heels, tas , aksesoris untuk Adel. Sangat mudah mencocokan semua hal pada Adel, karena Adel sendiri memiliki kulit dan wajah yang cantik.
"Semua sangat cocok sama Adel. Lusa pasti akan menjadi momen yang paling spektakuler karena pemilik perusahaan ternama akan menikahkan putra semata wayangnya." ucap Tante Regan sembari menatap Adel yang mengenakan gaun yang ia pilihkan.
"Kalau besok Adel pergi ke rumah lama Adel dulu bisa kan ya, Tante?" tanya Adel yang langsung mendapat anggukan kepala dari Tante Regan.
...****************...
Rumah sederhana dipinggiran kota. Terlihat kecil sampai-sampai terlihat seperti gubuk yang tak berpenghuni. Adel tau betapa sakitnya saat tinggal dirumah kecil ini, tapi Adel bersyukur bisa menghabiskan waktu bersama ibunya selama 17 tahun. Terhitung sudah 3 tahun ibunya meninggalkan dirinya sendiri di dunia yang aneh untuk ditinggali dirinya seorang diri.
Kali ini Adel tidak sendiri, ada Regan dan juga ayah Regan yang menemani dirinya. Padahal Adel ingin pergi sendiri, tapi ayah Regan bersikeras untuk ikut dan Regan yang selalu ingin mendampingi Adel kemanapun Adel pergi.
"Selamat datang, Ayah. Ini rumah Adel sebelum Adel ke kota untuk kuliah. Maaf kalau kecil, karena hanya saya dan ibu yang terakhir kali menempatinya." ucap Adel mempersilahkan ayah Regan masuk ke dalam rumahnya.
"Rumah ini penuh kenangan mu, mau kecil atau apa tapi rumah ini terasa hangat." ucap ayah Regan seraya duduk di kursi kayu yang sedikit berdebu.
Adel bersyukur bisa bertemu manusia-manusia baik yang mau menerima dirinya. Setidaknya 3 tahun perasaan ditinggal seorang ibu itu, kini perlahan mulai terisi kekosongan di hati Adel.
Regan yang sejak tadi diam, berjalan mengelilingi sudut rumah. Mata Regan terpaku pada foto dua manusia yang dimana satu diantaranya adalah Adel saat remaja. Regan tersenyum sembari mengambil figura itu dan membawanya ke samping ayahnya.
__ADS_1
"Apa ini ayahmu?" tanya Regan pada Adel sembari memperlihatkan foto yang ia maksud.
Adel menggeleng sembari tersenyum. "Bukan, itu bukan ayahku. Aku tidak tau dimana ayah berada, tapi ibu bilang kalau ayah laki-laki sempurna dalam hidupnya. Tapi aku tidak pernah bertanya ayah dimana, karena setiap menceritakan tentang ayah pasti ibu menangis. Dan foto itu adalah aku dan ibuku." jawab Adel membuat Regan menatap tak percaya pada Adel.
Foto yang saat ini berada di tangan Regan adalah foto Adel yang menggunakan seragam SMP dengan manusia berambut pendek, badan kurus, mengenakan kemeja dan celana, lalu wajah yang sedikit tersembunyi karena dari samping. Siapapun yang melihat pasti akan mengira anak dan ayah yang berfoto bersama.
"Ibu yang aku tau, tidak pernah berambut panjang. Bahkan pakaiannya tidak pernah menggunakan dress dan semacamnya. Katanya tidak ribet untuk bergerak kalau pakai celana." ujar Adel sedikit tertawa saat menceritakan tentang ibunya.
Regan mengerti kalau sekarang dirinya salah, maka dari itu segera dirinya mengembalikan foto itu ke tempat semula. Baru saja Regan mau membuka topik, malah sudah sedih duluan.
"Haha, ibumu pasti pekerja keras. Terlihat sekali ibumu sayang padamu." ucap ayah Regan mengakhiri kecanggungan yang terjadi.
"Iya, ibu sangat sayang pada saya. Terakhir dia berpesan agar saya selalu sehat, jangan pernah sakit." ucap Adel seraya menyeka air mata yang entah sejak kapan sudah mengalir dipipinya.
Regan menunduk memainkan jarinya, entah mau berkata apa saat berduaan dengan ayahnya. Regan yang notabene anak yang aktif jadi jarang berada dirumah atau menemui ayahnya.
"Ayah suka dengan Adel. Dia anak yang baik, ibunya pasti akan bangga pada Adel." ucap ayah Regan sembari menepuk pundak Regan.
"Ya, Adel punya semangat yang penuh. Regan suka dengan Adel karena rasanya saat bersama Adel, Regan seperti punya saudara." balas Regan yang langsung mendapatkan tawa kecil dari ayahnya.
"Ibumu pasti juga bangga kamu bisa menemukan Adel. Ayah rasa jika Adel yang menjadi anak ayah, ayah pasti juga bangga padanya." ucap ayah Regan seraya memandang figura kecil yang tadi sempat diambil Regan.
Saat ini, gerbang menuju ke tempat peristirahatan terakhir ibunya sudah didepan mata. Senyum Adel terlukis jelas di wajahnya. Entah sudah berapa lama Adel tidak datang, tapi yang pasti sekarang Adel datang dengan informasi yang mungkin akan mengejutkan ibunya.
__ADS_1
Regan dan ayah Regan yang ikut berjalan di belakang Adel, berhenti saat Adel yang berjalan duluan berhenti tepat didepan nisan bertuliskan nama yang Regan duga adalah nama ibunya Adel.
"Ayah, Regan ini adalah makam ibu saya. Rosella Welboen."
"Ro-Rosella Welboen?"
.......
.......
.......
.......
.......
...Hai semua ☺️...
...Makasih buat yang udah mampir😘...
...Jangan lupa like, komen dan vote ya🤭...
...Dukungan kalian semangat author 🔥...
__ADS_1
...See you next part:)...