
Hilda Maulidya gadis cantik berusia 20 tahun, yang sedang menuntut ilmu di salah satu pondok pesantren. Hilda hanya hidup bersama kakak dan ayah nya.
Sedangkan sang ibu sudah lama meninggal, Hilda sendiri masuk pondok pesantren atas keinginan kakaknya, yang tidak ingin adik nya terjerumus pergaulan bebas di luar sana.
Hilda juga salah satu abdi ndalem di pesantren tersebut.
Hilda merupakan santri kepercayaan Ummi khadijah istri dari pemilik pesantren tersebut. Hilda yang di kenal rajin,sopan,ceria dan taat pun mampu membuat Ummi khadijah menyayangi dirinya seperti anak nya sendiri.
Tanpa seorang pun yang tau kecuali sang pemilik hatinya. Ternyata Hilda sudah jatuh cinta pada seorang pemuda yang selalu ia panggil dengan sebutan "Gus" itu.
Rasa cinta nya itu selalu ia simpan rapat-rapat di dalam hatinya, biarlah rasa ini tetap ada dalam hatinya. Walau ia tau itu mustahil tapi ia selalu yakin jika sang Pencipta sudah berkehendak tidak ada yang tidak mungkin.
Saat ini ia hanya bisa berdo'a dan serahkan semua nya pada sang pemilik hati,karna tidak akan ada yang tahu hati akan mendamba atau terpaut pada siapa begitu pun hati Hilda. Walau pun ia tak tahu rasa itu akan terbalas atau tidak.
__ADS_1
Muhammad Afnan Al-Farizi.
Atau yang sering di panggil gus Afnan.Pemuda berusia 25 tahun dengan hidung yang mancung,kulit putih,dan senyumannya yang menawan. Dia ialah anak pertama dari pemilik pondok pesantren tempat Hilda menuntut ilmu.
Ia telah menyelesaikan study nya di salah satu pondok pesantren Al-Qur'an, setelah lulus gus Afnan memutuskan untuk pulang dan memilih mengajar di pesantren milik orangtuanya sambil mengamalkan ilmu yang ia dapat.
Gus afnan yang sibuk mengurus pesantren ia tidak terlalu memikirkan tentang pasangan.
Ia berfikir jika sudah waktunya ia akan memiliki pasangan, dan lagi pula umur nya masih muda. Walau pun orangtua nya selalu menanyakan kapan ia siap untuk menikah.
Hingga suatu sore, ketika Hilda melewati madrasah tak sengaja netranya melihat gus Afnan yang sedang mengajar para santri.
Dari jarak yang cukup jauh ia memperhatikan gus Afnan yang sedang mengajar. Dengan dada bergemuruh ia berkata dalam hati
__ADS_1
"Pantaskah aku yang bukan siapa-siapa ini menyebut namamu dalam do'aku gus ?" ucapnya dalam hati.
Sadar akan apa yang barusan ia lakukan ia segera beristigfar , karna memandang yang bukan mahramnya. Ia pun berlalu memilih pergi dan duduk di taman yang berada di area pondok santriwati dan duduk di salah satu kursi yang ada di taman tersebut.
Ia mengadahkan kepalanya melihat ciptaan sang kuasa bentangan langit yang biru nan luas, tak lupa dzikir yang selalu terucap dari bibir cantiknya. Ia memejamkan matanya beberapa saat merasakan hembusan angin yang begitu menyejukan tanpa ia rasa cairan bening perlahan turun dari mata indahnya.
Dan bibirnya pun bergumam.
"Rabb,salahkah aku menyimpan rasa ini di hatiku,salahkah aku jika selalu menyebut namanya dalam setiap do'aku" ucapnya masih dengan mata terpejam.
Lima belas menit berlalu, suara adzan ashar dari pengeras suara di mesjid membuyarkan lamunannya ia pun bergegas meninggalkan taman untuk kembali ke kamarnya untuk melaksanakan sholat ashar berjamaah. Dan untuk rasa ini biarlah rasa ini ia pendam sampai waktunya tiba dan menentukan rasa ini akan terbalas atau hanya akan menjadi perasaan yang hanya ia pendam.
Mau tau bagaimana kelanjutannya?
__ADS_1
ikuti terus yah. Selamat membaca.