
Suara adzan subuh terdengar dari pengeras masjid,membangunkan Hilda ia melihat jam dinding yang berada di kamarnya ternyata sudah jam Setengah lima pagi,ia pun segera beranjak untuk bangun,ia kesiangan karna mungkin terlalu cape sehabis acara kemarin. Saat hendak beranjak badannya terasa berat di bagian perut. Saat meyingkap selimutnya ia kaget sebuah tangan kekar melingkar di perutnya,ia melihat ke samping ada Gus.Afnan yang kini telah menjadi suaminya.
Hilda sedikit menghadapkan badannya menghadap Gus.Afnan,Hilda mengamati wajah Gus Afnan yang sedang tertidur,karna ia tak akan berani jika Gus Afnan tidak sedang tidur. Dengan perlahan ia mengusap lengan Gus Afnan dengan lembut.
"Gus bangun sudah shubuh,ini sudah adzan kita kesiangan"ucap Hilda dengan pelan.
"Emmhhh" Gus Afnan menggeliat dan perlahan mata Gus Afnan terbuka. Dengan cepat Hilda mengalihkan pandangannya ke lain arah untuk menghindari tatapan Gus Afnan. Tapi dengan gesit Gus Afnan,memegang dagu Hilda untuk menatap ke arahnya membuat Hilda menatap netra Gus Afnan.
Dengan perlahan Gus Afnan memajukan wajahnya,Hilda yang tak tau harus melakukan apa hanya diam dengan detak jantuk yang tak bisa di kondisikan lagi.
Hingga tiba-tiba,
Cuuuuppp
Bibir Gus Afnan menyentuh bibir mungil Hilda dengan reflek Hilda memejamkan matanya dengan rapat. Gus Afnan melepaskan bibirnya dan beralih menatap Hilda yang memejamkan matanya. Gus Afnan hanya terkekeh.
"Udah dek jangan tutup mata terus,kalau mau di lanjut nanti aja pas udah sholat shubuh"ucap Gus Afnan di dengan berbisik di telinga Hilda.
Hilda pun membuka matanya lalu menunduk dengan wajah sudah merona,ia pun lalu mencubit lengan Gus Afnan dan berlalu pergi dengan rasa malu.
"Kok di cubit sih dek,bukannya di cium malah di cubit"ucap Gus Afnan sambil memegang lengannya yang di cubit Hilda.
Stelah Hilda dan Gus Afnan beres berwudhu mereka melakukan sholat shubuh berjamaah. Setelah sholat tak lupa Hilda mencium tangan sang suami. Gus Afnan memeluk Hilda dan mengusap kepalanya.
"Jangan pernah tinggalkan mas ya dek,mas sangat menyayangimu. Semoga kita menjadi keluarga yang bahagia sampai Jannah-Nya"ucap Gus Afnan masih memeluk Hilda.
"Aamiin bimbing aku mas,terimakasih karna sudah memilihku menjadi wanita yang menyempurnakan agama mu Gus"ucap Hilda dengan meneteskan air matanya.
Ia masih belum menyangka ia bisa menjadi istri Gus Afnan.
" Insya Allah tidak akan ada wanita lain selain dirimu yang mampu menempati hatiku"ucap Gus.Afnan sembari mengecup kening Hilda.
"Terima kasih Gus"
"Kok manggilnya masih Gus sih,ganti dong sayang"
__ADS_1
Hilda yang di panggil "sayang"oleh Gus Afnan pipinya merah merona karna ini baru pertama kali untuknya.
"Hilda harus panggil apa?"
"Terserah kamu,asal jangan Gus Gas Gus.
Mas aja gak apa-apa"ucap Gus Afnan mengusap kepala Hilda.
"Baik Mas"ucap Hilda sedikit malu.
Setelah perbincangan tadi Hilda dan Gus Afnan keluar kamarnya untuk sarapan,di meja makan sudah ada kakak dan ayahnya yang sudah menunggu. Gus Afnan duduk di dekat ayah Hilda.
"Maaf yah mbak Hilda gak bantuin masak,kesiangan tadi bangunnya"ucap Hilda dengan nada sedih.
"Engga papa Hil mbak ngert kok,biasa kalau pengantin baru suka kesiangan kalau bangun hari pertama nikah"ucap Kakak Hilda sembari sedikit cekikikan.
"Ihhh apaan si mbak,mbak mikirin apa coba"ucap Hilda malu.
"Sudah Nduk cepat ambilkan nasi untuk suami kamu, kasihan "
Setelah makan ayah Hilda dan Gus Afnan pergi ke depan rumah dan duduk di kursi di depan rumah Hilda.
"Yah,insya Allah besok saya akan kembali ke pesantren. Saya izin membawa Hilda"ucap Gus Afnan.
"Sudah mau pulanh yah nak?
Silahkan nak Hilda sekarang sudah tanggung jawab kamu,bapak hanya titip Hilda jangan sakiti dia,jika kamu suatu saat sudah tidak mencintainya lagi,tolong kembalikan pada bapak. Bapak akan siap menerimanya kembali"ucap Ayah Hilda dengan menatap Gus Afnan.
"InsyaAllah saya akan selalu mencintainya dan tidak akan menyakitinya pak,saya akan tetap mencintai dan melindunginya semampu saya dan selama nyawa masih berada dalam raga saya"ucap Gus Afnan sungguh-sungguh.
Ayah Hilda tersenyum dan menepuk pundak Gus Afnan
"Saya percaya padamu nak"ucap ayah Hilda tulus.
Tak terasa hari mulai beranjak malam,setelah melaksanakan sholat isya Hilda dan Gus Afnan memilih beristirahat karna ia akan pulang besok bersama istrinya. Hilda juga sudah mengemas baju dia dan suaminya ke dalam koper.
__ADS_1
"Besok kita berangkat jam berapa mas?"ucap Hilda pada Gus Afnan yang sedang berbaring di sampingnya
"Jam 8 pagi "ucap Gus Afnan,sembari menggeser tidurnya lebih dekat dengan Hilda.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"ucap Gus Afnan dengan serius.
"Silahkan mas"ucap Hilda.
"Apakah kamu menikah denganku sudah menyiapkan semuanya?"ucap Gus Afnan sedikit mengangkat badannya untuk menatap Hilda.
Hilda yang di tatap seperi itu pun gugup,dan coba mengalihkan pandangannya ke langit-langit kamar.
"Mmm-maksudnya menyiapkan apa mas?"ucap Hilda dengan sedikit gugup.
"Semuanya. Termasuk menunaikan kewajibanmu sebagai istri?"
"InsyaAllah sudah mas"
"Kalau begitu,bolehkah aku meminta hak ku malam ini?"ucap Gus Afnan membuat Hilda menoleh dengan cepat pada Gus Afnan.
Dengan gugup Hilda pun mengangguk denga pipi merah merona dan jantung yang tak dapat di ajak kompromi.
Gus Afnan tersenyum dam mulai.menciun kening Hilda dengan lembut agar Hilda tidak tegang atau gugup. Lalu ia beralih pada kedua mata indah sang istri,turun pada hidung,pipi dan terakhir bibir ranum milik Hilda.
"Jangan lupa baca do'a mas"ucap Hilda di tengah-tengah kegiatan mereka.
"Iya sayangg"Gus Afnan kembali mengecup kening sang istri.
Malam ini dengan cahaya bulan yang indah di gelapnya malam tak mengurangi keindahan sinarnya,menjadi saksi kedua insan yang sedang memadu kasih dengan di naungi dengan satu kata yaitu HALAL.
Ya,memang segala sesuatu yang berkata ka HALAL itu sangat indah.
Haiiii semuanya jangan lupa like,komen dan vote yah..🙏🙏🙏
Sedih karna gak ada yang like atau komen,tapi gak papa. Untuk yang sudah baca terimakasih yah,karna bersedia membaca tulisan yang masih berantakan ini.🥰🥰.
__ADS_1
Semoga sukses dan sehat selalu 😊😊🌹🌹