Aku, Ikhlas Mas

Aku, Ikhlas Mas
Omongan Tetangga


__ADS_3

Pagi yang sangat cerah, dengan di awali dengan indahnya mentari pagi dan kicauan burung menambah indah suasana pagi itu.


Di halaman rumahnya Hilda sedang menyiram tanamannya,sembari bibir indahnya melantunkan sholawat.


"Dek,tolong mbak belikan minyak goreng ke warung yah,mbak lupa kemarin enggak beli."ucap kakak Hilda sembari memberikan uang pada Hilda.


"Iya mbak." dengan cepat mengambil uang tersebut.


"Hilda ke warung sekarang mbak"seraya meletakan alat penyiraman tanaman.


Sepanjang jalan ia tak hentinya berdzikir di dalam hati. Saat sedang berjalan ada seseorang yang menyapanya.


"Eehhh ini neng Hilda yah,ibu denger-denger udah mau nikah yah." Ucap ibu tersebut tak lain adalah tetangganya.


"Alhamdulillah Bu,Allah sudah memberi jodoh."ucap Hilda sembari tersenyum.


"Ko ngedadak banget sih nikahannya?


Engga ada sesuatu kan?" ucap ibu tersebut.


"Maksudnya sesuatu gimana ya Bu?"


"Ya,sesuatu yang bikin nikah nya mendadak".ucap ibu tersebut.


Hilda hanya beristigfar dalam hati sraya tersenyum "Alhamdulillah kalau sudah menemukan yang serius kenapa harus di tunda lama-lama,menikah juga salah satu ibadah"ucap Hilda dengan tersenyum.


"Kalau begitu saya permisi Bu.Assalamualaikum". Ucapnya seraya berlalu pergi.


Sepanjang jalan ia beristigfar seraya mencoba menahan sesuatu yang ingin keluar dari matanya,ia bukannya tidak mengerti dengan ucapan ibu tadi tapi ia hanya tidak ingin bersu'udzon.


Sesampainya di warung ia pun membeli apa yang tadi di suruh oleh kakaknya.Saat sedang di warung ia tidak sengaja bertemu dengan teman semasa sekolahnya dulu.


namanya Firda,Firda kurang menyukai Hilda enta karena apa Hilda pun kurang mengetahuinya.Tapi Hilda tak pernah ambil pusing.


"Ehh,ada Hilda tumben ada di rumah?


ohh Iyah lupa mau nikah yah?"ucap nya dengan nada yang sedikit mengejek.


"Alhamdulillah,mohon do'anya."ucap Hilda dengan tersenyum.


"Ko ngedadak banget sih nikah nya,apa jangan-jangan udah nabung duluan yah"ucap nya dengan mengejek.

__ADS_1


"Huusss istigfar kamu Firda jangan su'udzon,gak baik."ucap ibu warung.


"Saya gak su'udzon,tapi aneh aja kata nya mondok tapi kok pulang-pulang,mau nikah aja,jadi pengen tau kaya apa sih calon suaminya."ucap Firda seraya berlalu pergi sambil menyenggol pundak Hilda.


Hilda hanya menarik nafas dan kembali beristigfar,air mata yang sejak tadi ia tahan sekuat tenaga pun akhirnya jatuh membasahi pipi wajah indahnya.


"Udah engga papa Hil,jangan di masukin hati,orang-orang disini emang kaya gitu."ucap ibu warung menguatkan Hilda.


Hilda pun mengusap air matanya dan tersenyum.


"Iya Bu,mksih."Hilda pun membayar belanjaannya dan berlalu pulang kerumah.


Saat sampai kerumah ia pun menyimpan belanjaannya di dapur dan berlalu pergi ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Kakaknya yang melihat itu pun heran dengan adiknya,karena khawatir ia pun menyusul Hilda ke kamarnya.


Tok...tokk.tokk


"Hilda ini mbak boleh mbak masuk?"


"Masuk aja mbak engga di kunci kok."


Kakak Hilda pun membuka pintu kamar Hilda,dan terlihat lah Hilda sedang berbaring dengan telungkup. Ia pun duduk di sisi kasur adik nya.


"Hilda gak papa kok mbak."ucap nya dengan masih telungkup.


"Gak papa kok gak bangun,sini bangun dong cerita sama mbak kenapa?".


Hilda pun bangun dan duduk menghadap sang kakak,terlihat lah wajah sembabnya yang menangis.


"Mbak,emang kalau nikah dadakan atau cepet engga boleh yah?"ucap Hilda sembari menahan air matanya.


"Kata siapa?boleh kok,kalau udah di pertemukan dengan yang cocok dan serius kenapa harus di tunda-tunda. Kenapa,kok nanya gitu?"


"Tadi pas Hilda ke warung Hilda ketemu sama tetangga dan temen Hilda,mereka bilang Hilda nikahnya mendadak banget pasti ada sesuatu." Ucap Hilda sembari mengusap air matanya.


Kakak Hilda hanya tersenyum "Udah jangan di pikirin,yang tau maksud dan hati kita cuma Allah,terserah manusia mau menilai apa,yang penting kita jangan pernah membenci." Ucap kakak Hilda dengan memeluk adik nya.


Seminggu berlalu,besok adalah hari dimana Hilda akan menjadi seorang istri,istri dari seorang laki-laki yang selalu ia sebut namanya dalam setiap do'anya.


Sedangkan di kediaman Gus Afnan,para santri sedang sibuk menyiapkan persiapan untuk besok.dari mulai mahar dan dll.

__ADS_1


Sedangkan Gus.Afnan sendiri ia sedang duduk di kursi depan rumahnya.


Sembari melihat santri yang berlalu lalang,ia sedang berfikir ia begitu gugup padahal acaranya masih besok.


"Mikirin apa Nak."Ucap sang ayah sembari duduk di sebelah putranya.


"Ehh engga bi,Afnan cuma merasa gugup"jawabnya sembari tersenyum.


"Engga usah gugup serahkan semua pada yang Kuasa,semoga besok berjalan dengan lancar."


"Iya bi,Aamiin."


Mereka pun lanjut berbincang,sampai tak terasa hari pun mulai sore.


"Udah sore kita masuk Nak,siap-siap sholat Maghrib." Ajak sang ayah sembari berlalu ke dalam rumah.


"Iyah bi."


Di kediaman Hilda malam ini sangat ramai,di karenakan sanak saudara Hilda dari luar kota datang untuk menyaksikan pernikahan Hilda besok.


Di dalam kamar Hilda sedang duduk di kursi sambil melihat langit malam yang bertabur bintang yang sangat indah.


"Nak,belum tidur?"Ucap ayah Hilda sembari masuk ke dalam kamarnya.


"Ehh ayah ngagetin aja,kirain Hilda siapa,belum yah."


"Maaf yah,tadi ayah udah ketok-ketok,tak ada jawaban,kiarain ayah Hilda udah tidur."ucap ayah seraya duduk di di dekat sang putri.


"Hemm tak terasa besok ayah akan menyerahkan putri cantik ayah pada seorang laki-laki yang akan menggantikan tanggung jawab ayah."ucap sang ayah sembari melihat ke atas langit malam sembari menahan air matanya.


Hilda pun menoleh pada sang ayah lalu ia tersenyum"Walau pun nanti Hilda sudah menjadi istri seseorang,Hilda tidak akan pernah melupakan ayah,karena cinta pertama Hilda ialah ayah."Ucap Hilda dengan mata berkaca-kaca.


Ayah Hilda pun tak sanggup menahan air matanya,ia pun mengusap lembut puncak kepala sang ayah"Jadilah istri Sholehah sayangg,jadilah wanita yang kuat,berakhlakul Karimah untuk suami dan anak mu kelak." Ucap sang ayah sembari memeluk sang putri tercintanya.


Hilda pun membalas pelukan sang ayah.


"Terimakasih ayah sudah membesarkan dan merawat Hilda hingga saat ini."


"Yaa Rabb tolong jaga ayahku dan sayangi dia sebagaimana ia menyayangiku."Ucap.Hilda dalam hatinya.


Haiii Guys.

__ADS_1


Maaf baru update ada kendala belakangan ini,semoga suka sama novelku.


Terima kasih dan sukses selalu untuk yang sudah bersedia membaca.


__ADS_2