Aku, Ikhlas Mas

Aku, Ikhlas Mas
Dugaan yang menjadi kenyataan


__ADS_3

Malam hari Gus Afnan baru saja sampai di rumah,ia pun segera keluar dari mobil dan memasuki rumah. Ia ingin cepat-cepat istrinya.


"Assalamualaikum"ucap Gus Afnan sembari membuka pintu. Tapi rumah sudah sepi mungkin penghuninya sudah istrahat.


Padahal ini masih jam 9 malam,ia pun bergegas memasuki kamarnya,dan terlihatlah sang istri sudah tertidur. Ia pun menghampirinya dan berjongkok di depan wajah Hilda,ia mengusap pelan pipi sang istri.


"Bagaimana aku harus memberitahumu sayang,bagaimana aku memberitahu bahwa suamimu ini akan menikahi wanita lain. Aku tak sanggup menyakiti mu"ucap Gus Afnan dalam hati


Satu tetes air matanya jatuh di kedua pipinya,ia tak mampu mengatakan semuanya. Ia terlalu takut untuk menyakiti istri yang baru beberapa hari ia nikahi.


Hilda yang merasakan ada elusan lembut di pipinya perlahan membuka matanya,dan tampaklah wajah sang suami yang ia tunggu kepulangannya sedari tadi. Tapi ada yang aneh suaminya menangis.


Ia pun bertanya,


"Mas kenapa menangis?ada masalah kah?"ucap Hilda seraya bangkit dari tidurnya.


Gus Afnan yang menyadari sang istri bangun segera menghapus air matanya. Dan ia pun duduk di sebelah sang istri sembari terus menatap manik teduh istri tercintanya.


Ya,Gus Afnan memang baru beberapa hari menikahi Hilda,tapi rasa sayangnya sangat besar untuk Hilda. Entahlah ia sendiri pun tak tahu.


"Mas kenapa?kalau ada masalah boleh berbagi dengan Hilda mas"ucap Hilda khawatir melihat sang suami seperti ini.


Gus Afnan tanpa berbicara apa pun langsung memeluk sang istri,memeluknya dengan erat seakan-akan ia tak ingin kehilangannya.


"Mas kenapa?cerita pada Hilda,jangan buat Hilda khawatir mas"ucap Hilda dengan mengelus lembut punggung Gus Afnan.


"Bagaimana aku bisa menceritakan pada istriku bahwa aku harus menikahi wanita lain"Gus Afnan tanpa sadar dan air matanya mengalir.


Deggg....


Elusan tangan Hilda di punggung Gus Afnan mendadak berhenti,dunia dan organ tubuhnya berhenti sejenak mencerna ucapan Gus Afnan. "Menikahi wanita lain" hanya tiga kata tapi mampu meremuk redamkan hati seorang Hilda Maulidya.

__ADS_1


Ia pun mencoba tenang,menghirup nafas dalam lalu melepaskan pelukan sang suami dan melihat netra sang suami.


"Menikahi siapa mas?"ucap Hilda dengan masih tenang.


Gus Afnan yang masih berat memberitahukan semuanya hanya diam menunduk.


"Jelaskan mas,kita cari jalan keluarnya"ucap Hilda menyentuh pipi sang suami dengan lembut.


Gus Afnan menghirup nafas dalam,mulai menceritakan semuanya dari mulai kiyai Ansor sakit keras tiba dimana ia menceritakan ia harus menikahi Ning Latifah.


Hilda yang mendengarkan semua cerita sang suami tak sadar air matanya menetes. Ia menghirup oksigen sebanyak mungkin mencoba menenangkan diri dan beristigfar.


Gus Afnan tak mampu melanjutkan ceritanya ketika melihat sang istri meneteskan air mata. Ia segera memeluk sang istri terus menerus meminta maaf.


"Maafkan mas sayang maafkan mas"ucap Gus Afnan dengan nada menyesal.


"Bolehkah aku egois mas?"ucap Hilda seraya melepaskan pelukan Gus Afnan sembari mengusap air matanya.


Hilda tersenyum melihat ekspresi suaminya,ia pun mengelus rahang kokoh sang suami dengan lembut.


"Nikahilah Ning Latifah,insyaAllah aku ikhlas mas"ucap Hilda sembari tersenyum.


Senyum yang sangat tulus,ya dia mencoba untuk ikhlas,mungkin ini sudah takdir dari sang maha kuasa.


Gus Afnan yang mendengar penuturan sang istri hanya mampu memeluk sang istri dengan erat,dan terua meminta maaf.


"Maafkan aku sayang,,maafkan aku"ucap Gus Afnan dengan nada bergetar akibat menangis.


"Jangan meminta maaf mas,insyaAllah aku ikhlas"ucap Hilda dengan masih berusaha tegar.


"Kapan mas akan menikahi Ning Latifah?ucap Hilda melanjutkan.

__ADS_1


Gus Afnan melepaskan pelukannya dan menatap dalam manik sang istri.


"InsyaAllah ninggu depa,sayang,apa kamu tak keberatan?"ucap Gus Afnan ragu.


"InsyaAllah atas izin Allah aku ikhlas mas,mungkin ini salah satu caraku untuk memperjuangkan surga Allah,aku ikhlas mas"ucap Hilda tersenyum.


"MasyaAllah,kamu istri Sholehahku sayangg"ucap Gus Afnan dan hanya di balas dengan senyuman oleh Hilda.


"Sekarang mas mandi dulu yah,terus istrahat"ucap Hilda pada Gus Afnan.


"Iya sayang"ucap Gus Afnan seraya masuk ke kamar mandi.


Setelah Gus Afnan masuk ke kamar mandi,air mata Hilda pun jatuh.


"Ikhlaskan aku Rabb,kuatkan hatiku untu tidak merasa sakit ketika ijab qobul kedua suamiku berlangsung,kuatkan hatiku ketika nanti aku harus membagi cinta,perhatian sumaiku"ucap Hilda kemudian ia mengusap air matanya dan menyiapkan baju untuk Gus Afnan sebelum ia melanjutkan untuk tidur.


Setelah selesai membersihkan dirinya Gus Afnan keluar dari kamar mandi dan melihat sang istri sudah tertidur kembali. Dengan segera ia pun memakai baju yang tadi di siapkan oleh Hilda. Kemudian ia naik ke ranjang dan merebahkan dirinya di samping sang istri.


Sebelum itu ia melihat wajah sang istri yang begitu cantik saat tertidur,perlahan ia pun mengelus pipi sang istri dengan lembut.


"Maafkan mas sayangg,bukan maksud mas ingin menyakiti hatimu,tapi perlu kamu ketahui cuma kamu yang ada di hati mas"ucap Gus Afnan sembari mengecup kening sang istri dan menarik selimut dan tidur sembari memeluk sang istri.


Hilda yang sebenarnya belum tidur mendengar apa yang di ucapkan Gus Afnan,tapi ia memilih untuk tidak membuka matanya. Hatinya cukup terluka,walau pun mulut dan lidahnya mengatakan ia ikhlas tapi ia harus mencoba berdamai dengan hatinya.


Haii guys maaf yah baru update sibuk banget akhir-akhir ini.


Untuk yang sudah mampir dan membaca tulisan amatir aku terima kasih.


Jangan lupa like,komen dan vote yah,karna itu bisa menjadi salah satu semangat author untuk terus update.


Terimakasih,sukses dan sehat selalu yah.🥰🥰🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2