
... "Rabb maafkan aku jika rasa kagum ku berubah menjadi rasa yang mampu menggetarkan hati."...
Adzan shubuh berkumandang dari pengeras suara masjid memanggil umat muslim untuk segera melaksanakan kewajiban sholat shubuh.
Para santri pun bergegas memasuki masjid untuk sholat berjamaah begitu pun dengan hilda, dan Nayla teman sekamar Hilda. Saat hendak memasuki masjid, netra hilda tidak sengaja menangkap sosok laki-laki yang nama nya selalu ia sebut dalam setiap untaian doanya.
Ya,ialah gus Afnan sosok laki-laki yang Hilda kagumi dan tanpa sadar,rasa kagum itu berubah menjadi rasa cinta.
"Hayo malah ngelamun kamu Hilang." Ucap Nayla menepuk pundak Hilda.
Lamunan Hilda pun buyar,segera ia beristigfar karna sadar telah memandang yang bukan mahram nya. Sembari beristigfar ia pun menoleh pada Nayla.
"Siapa yang ngelamun sih Nay." ucapan Hilda dengan gugup.
"Terus kenapa ngeliatin Gus Afnan,,jangan-jangan kamu naksir yah?"ucapnya penuh slidik.
"Huss kamu kalau ngomong suka ngawur,udah ayo cepet masuk keburu mulai nanti." ucap hilda sembari memasuki masjid dan di susul oleh Nayla.
Saat memasuki masjid Hilda dan Nayla berada di barisan paling depan,karna tirai yang cukup pendek yang hanya sebatas dada karna tirai yang biasa di pakai sedang di cuci,jadi ia dapat melihat santri laki-laki di depan sana. Dan tanpa sengaja netra Hilda dan Gus Afnan bertemu,segera keduanya memalingkan pandangan masing-masing.
Sholat shubuh berjalan dengan lancar dan khidmat,stelah beres sholat para santri melakukan istigosah.
Karna ustadz yang mengajar sedang libur santri pun di liburkan. Santri pun kembali ke kamar masing-masing begitu pun dengan Hilda. Saat hendak meninggalkan halaman masjid suara laki-laki menghentikan langkah kaki Hilda dan Nayla.
"Assalamualaikum mbak."ucapnya.
Hilda dan Nayla pun sontak memutar badan dan kaget yang kini di hadapannya ialah Gus Afnan, Hilda dan Nayla menundukan pandangannya.
"Waalaikumsalam Gus,ada apa ya?"ucap Hilda.
"Tadi di suruh umi kalau ketemu mbak Hilda di suruh ke rumah,umi minta di bantuin masak."
"Oh iyah gus nanti saya kesana sama Nayla."ucap nayla seraya masih menunduk.
"Kalau gitu saya permisi mbak,sebelumnya terimakasih. Assalamualaikum."ucapnya.
"Waalaikumsalam"ucap keduanya.
__ADS_1
Setelah menyimpan perlengkapan sholatnya Hilda dan Nayla pun pergi ke rumah pak.Kyai. Sesampainya di rumah pak.Kiyai ternyata sedang ada tamu, Hilda dan Nayla pun menuju pintu belakang yaitu pintu dapur.
"Assalamualaikum umi."ucap keduanya.
Umi khadijah yang sedang memasak pun menoleh "Waalaikumsalam sini nduk bantu umi masak,lagi ada tamu."ucapnya.
Mereka berdua pun langsung membantu umi khadijah memasak, saat sedang mengiris bawang umi khadijah meminta Hilda untuk mengantarkan teh untuk tamu nya.
Saat akan sampai ke ruang tamu Hilda tak sengaja mendengar percakapan antara pak.Kiyai dan tamu tersebut. Karna tidak ingin di sangka menguping Hilda melanjutkan langkahnya. Dengan menunduk ia mulai menata teh ke atas meja satu per satu.
"Waahh Gus Afnan sudah dewasa saja yah,dulu saat saya silaturahmi kesini masih SMA sekarang sudah dewasa. Sudah ada calon belum Gus Afnan ?"ucap tamu tersebut.
Gus Afnan hanya tersenyum
"Insya Alloh sudah om."ucap Gus Afnan sambil melihat Hilda yang sedang menata teh ke atas meja dengan pandangan yang sulit di artikan.
Pak.Kiyai yang sadar tatapan putranya langsung berdehem dan menepuk bahu Gus Afnan. Gus Afnan yang sadar akan apa yang ia lakukan langsung beristigfar dan mengusap wajahnya pelan.
"Alhamdulillah jika sudah punya yang pas tadinya mau di jodohin sama anak om."ucap tamu tersebut lagi sambil tertawa.
"Mudah-mudahan secepatnya om,nunggu waktu yang tepat." Jawab Gus Afnan dengan tersenyum.
"Jangan lama-lama Gus nanti di ambil orang" ucapnya.
Mereka pun tertawa,berbeda dengan Hilda yang ingin segera pergi dari sana,karna obrolan mereka tidak baik untuk hatinya.
Setelah selesai menata tehnya Hilda segera meninggalkan ruang tamu,tanpa mengetahui bahwa ada seseorang yang memperhatiaknnya dalam diam. Siapa lagi jika bukan Gus Afnan.
Hilda pun kembali ke dapur,entah bagaimana sekarang hati Hilda. Mendengar jika Gus Afnan sudah mempunyai calon istri.
Itu ia dengar dari mulut Gus Afnan sendiri,sekarang masih pantaskah ia menyebut namanya di setiap untaian do'anya.
Hatinya bagai tertekan benda berat sesak sangat sesak,tapi ia segera sadar ia tahu bahwa resiko berharap pada manusia ialah kecewa.Biarlah rasa yang berada di hatinya akan ia simpan dalam diam. Tak perlu ada yang tau sekali pun itu orang yang ia cintai cukup dirinya dan Alloh yang tau.
Sejak kembali dari mengantar teh tadi Hilda tidak banyak bicara,ia hanya fokus dengan pekerjaannya. Ia ingin cepat selesai dan kembali ke kamar.Sampai Nayla pun bertanya karna bingung melihat Hilda yang hanya diam saja.
"Kamu kenapa Hil kok dari tadi diem aja."
__ADS_1
Dengan cepat Hilda mengusap air matanya,karna takut Nayla akan curiga
"Gapapa cuman lagi pengen diem aja."ucapnya seraya melanjutkan mengiris bawang.
"Loh kamu nangis Hil,kenapa?." ucap Nayla khawatir.
"Enggak mataku cuman perih karana ngiris bawang."
"Bener bukan karna denger yang aneh-aneh di dalem?"ucap nayla.
"Iiihh apaan sih Nay,udah cepetan beresin biar cepet beres,aku baik-baik saja."
Nayla pun hanya mengangguk tanda mengerti dan kembali mengerjakan pekerjaannya. Sedangkan ummi Khadijah ia kembali ke dalam untuk menyiapkan meja makan.
Setelah selesai membantu ummi Khadijah Hilda dan Nayla pun kembali ke kamar mereka,Nayla pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat dzuhur berjamaah,sedangkan Hilda memilih sholat di kamar.
Selesai sholat ia pun berdo'a :
" Ya Rabb,maafkan hamba jika ciinta hamba terhadap Hamba ciptaan-Mu lebih besar,maafkan hamba jika hamba berharap pada manusia yang pada akhirnya hamba merasakan kecewa.
Rabb apakah kini aku masih pantas menyebut nama seseorang yang jelas-jelas sudah milik oranglain".ucapnya tak mampu menahan air mata nya.
Kini ia tahu bahwa berharap pada manusia itu ternyata hanya akan kecewa,jika kau menginginkan sesuatu mintalah pada yang menciptakannya karna penciptanya lah yang lebih berhak atas apa yang ia ciptakan.
... "Aku pernah merasakan semua kepahitan di dunia,dan yang paling pahit ialah berharap pada manusia." ...
...( Ali bin abi thalib)...
Haiii guys 😊.
Masih ada yang mau membaca novelku ?
Maaf baru update lagi soalnya baru ada waktu senggang. Buat yang udah baca novel aku makasih yah.
Jangan lupa vote dan like yah..😊😊
Makasih.
__ADS_1