
Aku duduk di depan rumah Gus Afnan,setelah tadi aku beristirahat aku masih teringat penjelasan tentang Ning Latifah putri dari sahabat ayah sang suami.
Ayah Ning Latifah kini sedang sakit keras ia,dan tadi ia dengar dari ummi bahwa kiyai Ansor menanyakan Gus Afnan. Ia berfikir jernih tapi hati dan pikirannya bertolak belakang.
"Rabb,maafkan hamba atas pemikiran dan perasaan yang kini hamba rasakan,hamba hanya takut"ucapnya dalam hati.
Ia juga tak tau mengapa perasaannya menjadi sekalut ini,ia pun beristigfar berulang kali untuk menghilangkan rasa resah di hatinya. Sampai kedatangan seseorang membuyarkan nya dari lamunan.
"Lagi apa disini dek?"ucap Gus Afnan seraya mengusap kepalanya.
"Eehhh mas ngagetin aja,engga lagi apa-apa,cuman lagi mencari udara segar aja"ucap Hilda tersenyum.
Mereka pun terus berbincang dengan di selingi tawa ringan. Sampai suara Ummi Khadijah yang memanggil Gus Afnan mengalihkan pembicaraan mereka.
"Nak tadi Abi telpon,katanya kamu di suruh ke rumah kiyai Ansor ada hal penting yang mau di bicarakan"ucap sang Ummi sambil sesekali melihat ke arah Hilda yang melihatnya.
"Ada apa Mi ko mendadak banget?"ucap Gus Afnan dengan nada bingung.
"Kamu kesana dulu saja nak,Abi menunggu"ucap ummi.
"Baiklah ummi"ucap Gus Afnan.
Ia pun melirik pada sang istri,dan meraih tangannya untuk masuk ke dalam rumah.
Ia pun lalu mengajak sang istri masuk ke dalam kamar.
"Sayang mas pergi dulu yah,kamu sama ummi dulu yah?ucap Gus Afnan sembari mengecup kening Hilda lama dan sangat lembut.
"Baik mas,hati-hati"ucap Hilda dengan segala yang ia rasakan,takut,gelisah semua nya menjadi satu,tapi ia coba berfikir positif.
Hilda mengantarkan Gus Afnan ke halaman rumahnya,saat sampai di depan mobil.Hilda mencium tangan Gus Afnan.
"Hati-hati mas bawa mobilnya"ucap Hilda.
"Iya sayang,maaf yah mas ninggalin kamu dulu. Mas insyaAllah gak lama kok"ucap Gus Afnan seraya berlalu sembari masuk mobil.
Hilda melambaikan tangan saat mobil Gus Afnan melaju,setelah mobil sudah berlalu dari pandangan Hilda ia masih setia berdiri di halaman rumah.
"Rabb,tenangkan hati dan pikiran hamba.
Aku yakin apa pun yang Engaku takdirkan semuanya yang terbaik untukku"entah apa yang sekarang di pikirkan Hilda. Sampai adzan ashar membuyarkan lamunannya.
Ia pun pergi ke dalam kamar lalu mengambil wudhu,ia pun mulai sholat ashar dengan khuysu. Setelah selesai sholat ashar Hilda keluar kamar untuk membantu mbak-mbak santri dan ummi memasak.
__ADS_1
Sedangkan di kediaman Kiyai Ansor Gus Afnan sudah tiba,ia pun memarkir mobilnya di halaman rumah kiyai Ansor. Saat turun tampaklah sang Abi sedang menunggu kedatangannya. Ia pun menghampiri Abi nya.
"Assalamualaikum Abi"ucap Gus Afnan seraya mencium tangan sang Abi.
"Waalaikumsalam nak,ayo masuk dulu ada yang mau Abi bicarakan"ucap sang Abi dengan nada sedih.
Gus Afnan pun masuk dan langsung saja,di bawa Abi nya mesuk ke dalam sebuah kamar,dimana di kamar itu,seorang pria paruh baya yang sedang terbaring dan terkulai lemas,dan seorang wanita dengan hijab coklatnya. Ya,dia adalah kiyai Ansor dan sang anak Ning Latifah.
"Assalamualaikum kiyai,Ning"ucap Gus Afnan.
"Waalaikumsalam Gus"ucap Ning Latifah menjawabnya.
"Duduk dulu sini nak"ucap sang Abi menepuk pinggir sofa yang di duduki sang Abi di kamar tersebut.
"Abi mau ngomong sesuatu,tapi mungkin ini cukup mendadak untuk kamu dan istrimu"ucap sang Abi dengan nada sedih.
"Ada apa ini bi,jangan bikin Afnan takut?"ucap Gus Afnan dengan nada bingung
"Kiyai Ansor sakit keras ia sudah tak bisa apa-apa lagi,ia ingin menitipkan Ning Latifah pada kita untuk menjaganya,tapi ia ingin kamu menikahi Ning Latifah"ucap sang Abi menjeda ucapannya.
Gus Afnan yang sedari tadi menyimak obrolan sang Abi,kaget dengan kata "MENIKAHI"apa ia harus menikahi Ning Latifah sedangkan ia baru saja menikah beberapa hari yang lalu.
"Ya Allah bi,Afnan baru saja menikah beberapa hari yang lalu,masa iya Afnan harus menikahi perempuan lain,bagaimana perasaan Hilda bi"ucap Gus Afnan menahan gejolak yang ada di dalam hatinya.
"Abi mengerti nak Abi mengerti tapi kiyai Ansor hanya mempercayai kita"ucap Abi nya menenangkan.
"Abi mengerti nak,makannya Abi memanggil kamu kesini. Kiyai Ansor hanya tenang meninggalkan Ning Latifah bersamamu nak,ia hanya percaya padamu nak.
Tolong pikirkanlah nak"ucap Abi nya meyakinkan.
Di tengah pembicaraan mereka, suara kiyai Ansor mengalihkan pembicaraan mereka.
"Nak Afnan"ucap kiyai Ansor dengan parau.
"Ya,pak kiyai?"ucap Gus Afnan sembari menghampiri kiyai Ansor.
"Saya mohon tolong nikahi anak saya,saya yakin kamu mampu membimbing dia"ucap kiyai Ansor dengan parau.
"Tapi saya baru saja menikah beberapa hari yang lalu pak kiyai"ucap Gus Afnan.
"Tak apa nak biar anak saya menjadi yang kedua saya hanya percaya pada kamu,ibunya sudah meninggalkan dirinya,dan sekarang mungkin saya"ucap kiyai Ansor meneteskan air matanya.
Melihat begitu Afnan pun gelisah,bagaimana perasaan istrinya jika mendengar kabar inik,entah apa reaksinya,apa akan marah dan mencaci dirinya. Entahlah Gus Afnan cukup lelah untuk memikirkan itu semua.
__ADS_1
"Biar Afnan berunding dulu dengan istri Afnan kiyai"ucap Gus Afnan.
"Terimakasih sebelumya,semoga istri Sholehah mu dapat mengerti"ucap kiyai Ansor.
Gus Afnan pun berlalu pergi menemui Ning Latifah dan Abi nya yang sudah keluar kamar. Terlihat Ning Latifah sedang duduk di ruang tamu dengan tatapan kosong. Sedangkan Abi nya berada di teras luar.
"Saya pulang dulu Ning"ucap Gus Afnan seraya berlalu.
"Gus"panggil Ning Latifah,menghentikan langkah Gus Afnan.
"Ya ada apa Ning?"ucap Gus Afnan tanpa menoleh.
"Jika Gus berat untuk menikahi saya,tak apa Gus. Saya akan bicara baik-baik pada Abah"ucap Ning Latifah dengan menunduk.
"Tidak apa-apa Ning,saya akan coba bicarakan dulu dengan istri saya"ucap Gus Afnan sembari melihat Ning Latifah dan tersenyum.
"Kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum"ucap Gus Afnan berlalu pergi.
"Waalaikumsalam"lirih Ning Latifah.
Gus Afnan berlalu menghampiri Abi yang sedang duduk di kursi di teras rumah kiyai Ansor.
"Bi Afnan pulang dulu,kasihan Hilda pasti menunggu Afnan"ucap Gus Afnan sembari mencium tangan sang ayah.
"Pulanglah nak beritahu istrimu,maafkan Abi nak bukan maksud Abi ingin mencampuri rumah tanggamu atau pernikahanmu"ucap sang Abi sembari memeluk putra satu-satunya,yang mungkin perasaanya sedang di landa kebingungn.
"Tak apa bi,mungkin ini sudah kehendak-Nya,Afnan akan bicarakan dulu dengan Hilda,Afnan takut menyakitinya karna ia pun baru beberapa hari menjadi istri Afnan"ucap Gus Afnan sembari menatap sang Abi.
"Pulanglah nak,kasih tau dia biar nanti Abi yang bantu menjelaskan"ucap sang Abi menepuk bahu sang anak.
Gus Afnan pun menaiki mobilnya dan berlalu meninggalkan rumah kiyai Ansor,untuk pulang.
Sepanjang perjalanan ia beristigfar,ia berpikir bagaimana menjelaskan semuanya pada wanita ia cintai yang baru saja dinikahi olehnya. Entah reaski bagaimana yang akan di berikan Hilda Gus Afnan hanya bisa pasrah dengan semuanya,dan berserah diri pada sang Pencipta.
Haiii semuanya....😊
Penasaran gak nih bagaimana reaski seorang Hilda,mendengar bahwa suami yang baru saja menikahinya harus menikahi wanita lainn...
Tunggu episode selanjutnya yahhh..🥰🥰
Jangan lupa like,komen dan votenya yah,biar menambah semangat author.
Untuk teman-teman yang sudah menyempatkan membaca novelku yang masih berantakan ini.🙏🙏
__ADS_1
Terimakasih sehat dan sukses selalu yah..🥰🥰🌹🌹🌹🌹
Dan maaf juga jika author updatenya tak menentu yah,soalnya nunggu waktu luang.🙏🙏