
Sebelumnya terimakasih untuk yang sudah bersedia membaca karya ku.,🙏🙏.
Kasih komen,like dan komen dong buat author biar semangat. Terimakasih 😊😊🙏🏻🙏🏻
Pagi yang cerah,dengan kicauan burung yang merdu menambah rasa cerah di pagi itu. Tapi tidak dengan suasana hati seorang wanita yang duduk di depan cermin kamarnya,ia beberapa kali menghembuskan nafas resah. Dia adalah Hilda Mauldya,hari ini adalah pernikahan kedua suaminya.
Suami yang baru saja beberapa bulan menikahinya,kini sudah menikahi wanita lain lag. Tapi sebisa mungkin ia ikhlas walau mungkin ada rasa sakit di hatinya.
"Sayang kok ngelamun"ucap seorang pria,yang sudah rapih dengan jubah warna putihnya.
Seketika Hilda terperanjat dan tersadar dari lamunannya,ia berbalik menghadap suaminya. Ia begitu terpesona oleh suaminya,suaminya begitu rupawan. Hilda menundukkan kepalanya,ia berfikir sebentar lagi ia akan berbagi semuanya tentang suaminya termasuk paras rupawan suaminya.
Hilda mengangkat kepalanya dan tersenyum pada sang suami walau di hatinya sakit menjalari hatinya,ia harus tersenyum ini adalah hari kebahagiaan suaminya.
"Hilda engga papa kok Mas"ucap Hilda sembari menghampiri sang suami,lalu mengusap rahang kokoh suaminya dengan lembut.
"Ganteng banget sih suami aku,tapi sayang nanti gantengnya bakal berbagi sama wanita lain" Hilda terkekeh sembari mengusap kembali rahang kokoh sang suami.
Gus Afnan yang mendengar penuturan sang istri pun merasakan sesak di dadanya. Ia merengkuh tubuh mungil istrinya yang rapuh,sesungguhnya ia tak tega,tapi ia tak punya pilihan lain.
"Maafkan aku sayang,aku tak bermaksud untuk menyakiti mu"ucap Gus Afnan sembari mengecup kepala sang istri.
Mobil-mobil mewah sudah berjajar di halaman masjid. Semua orang sudah duduk di tempat yang sudah di sediakan untuk menyaksikan ijab qobul Gus Afnan dan Ning Latifah.
Tempat di belakang Gus Afnan,Hilda duduk dengan tenang di temani ummi Khadijah. Ummi Khadijah setia menggenggam tangan Hilda untuk menyalurkan kekuatan untuk sang menantu.
Kiyai Ansor selaku ayah dari Ning Latifah,sudah duduk di depan Gus Afnan,walau pun ia sedang sakit tapi ia memaksakan untuk menjadi wali sang anak.
Terdengar suara penghulu untuk memulai ijab Qabul tersebut. Saat suara penghulu terdengar,mendadak dada Hilda berasa di himpit batu besar, sesak itulah yang ia rasakan.
__ADS_1
Kini tangan Gus Afnan dan Kiyai Ansor sudah berjabat,sebelum itu Gus Afnan menoleh ke belakang ke arah sang istri. Hilda yang menyadari itu pun hanya mampu tersenyum dan mengangguk,walau pun hatinya terasa sakit.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau ananda Muhammad Afnan Al-Farizi dengan anak saya Latifah Naura Azkiya binti Muhammad Ansor Abdurrahman dengan maskawin seperangkat alat sholat di bayar tunai"
"Saya terima nikah dan kawinnya Latifah Naura Azkiya binti Muhammad Anshor Abdurrahman dengan maskawin tersebut tunai"ucap Gus Afnan dengan satu tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi sah?"
SAHH....
Degg
Bebarengan dengan kata sah setetes air mata jatuh dari seorang wanita yang kini tengah menunduk dengan perasaan yang entah bagaimana rasanya.
Dengan perlahan ia mengangkat wajahnya untuk melihat suaminya yang tengah mencium kening yang kini menjadi istri kedua suaminya. Ia pun tersenyum.
"Nduk kita ke Afnan yuk"ucapan Ummi Khadijah membuyarkan lamunan Hilda.
Ummi Khadijah hanya tersenyum,ia tahu betul bagaimana perasaan menantunya kini,tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa,selain berdo'a semoag rumah tangga anaknya baik-baik saja dan selalu dalam lindungan Allah SWT.
Acara pun selesai dengan lancar,kini Hilda sedang duduk di depan rumah dengan segelas teh di tangannya.
Kini menunjukan pukul 8 malam,Hilda sengaja keluar rumah untuk menenangkan pikiran sekalian mencari angin.
"Dek,kok belum tidur?"suara bariton membuyarkan lamunan Hilda.
"Eh Mas,ini belum ngantuk,pengen aja sekali-kali cari angin"ucap Hilda sembari menggeser duduknya,karna sang suami yang berjalan ke arahnya.
"Bohong ya?kamu lagi ngelamunkan?"ucap Gus Afnan.
__ADS_1
"Engga Mas,bneran cuma cari angin aja kok. Mas kok disini?,Ning Latifah kemana?"ucap Hilda sembari celingak cekinguk ke arah pintu.
"Lagi di kamar,kenapa nanyain?"ucap Gus Afnan sembari menatap Hilda.
"Ya,engga kan sekarang malam pertama Mas sama Ning Latifah,kenapa Mas malah disini?udah sana masuk kasian Ning Latifah?"ucap Hilda sembari terkekeh.
Sedangkan Gus Afnan hanya menatap Hilda dengan intens.Hilda yang di tatap seperti itu gugup. Dengan cepat ia beranjak untuk masuk ke dalam rumah. Tapi pergerakannya di tahan oleh Gus Afnan.
"Ning are you oke?"ucap Gus Afnan dengan suara pelan.
Hilda hanya menghembuskan nafas pelan lalu menatap sang suami.
"Mas kalau aku boleh jujur,tidak ada wanita yang akan baik-baik saja ketika harus berbagi,tapi Mas jangan khawatir aku akan belajar ikhlas"ucap Hilda seraya tersenyum dan mencium pipi suaminya.
Perlahan kedua tangannya pun menangkap rahang kokoh sang suami dan mengusapnya lembut.
"Mas jangan khawatir,pergilah pada Ning Latifah penuhilah kewajiban Mas sebagai suami,dan perlakukan lah dia sama seperti ku Mas"ucap Hilda tulus.
Dia pun mulai beranjak dan melangkahkan kakinya,bebarengan dengan langkah kakinya di saat itu pula cairan meleleh dari kedua mata cantik nya.
"Aku ikhlas Mas"ucapnya seraya berlalu.
Maaf update nya lama banget 🙏🏻🙏🏻
Kasih komen dan vote dong biar aku semangat lagii 😁😁Maksa dikit.
Buat yang udah baca cerita aku maaksih yah maaf masih berantakan.
Semoga suka.
__ADS_1
makasih dan sehat selau.
Salam hangat 🥰🌹🌹