
Pagi yang cerah dengan udara yang sejuk dan kicauan burung yang menambah hangatnya cuaca pagi ini,tapi tidak dengan hati seorang wanita yang sedang duduk di sebuah bangku di salah satu taman pesantren. Ya,siapa lagi kalau bukan Hilda mauldya istri dari Gus Afnan tersebut,tengah melamun,sudah empat hari yang lalu semenjak sang suami memberitahu bahwa ia akan menikah lagi,hati Hilda mencoba iklhas.
Sembari duduk di bangku tersebu,ia pun mengarahkan kepalanya untuk melihat ke atas betapa indahnya langit yang membentang tanpa batas,salah satu kekuasaan sang pencipta.
Ia memejamkan matanya,mencoba menenangkan semua rasa yanh bergejolak dalam hatinya.
"Rabb apa Engkau masih ingat ketika aku duduk disini,aku bercerita pada-Mu bahwa aku mencintai hamba-Mu,dan Engkau pun mengabulkannya dengan Engkau memberikan ia padaku"ucap Hilda masih dengan mata tertutup.
Ia menarik nafas sebentar sebelum melanjutkan ucapannya,rasanya lidahnya terlalu kelu.
"Dan kini aku kembali ke tempat ini, Rabb suami yang aku cintai itu kini akan membagi cintanya,cintanya tak akan menjadi satu-satunya milikku lagi,Rabb aku hanya ingin ikhlas,ikhlaskan hatiku"ucap Hilda tanpa sadar air matanya pun turun dari mata indahnya.
Ia tak tau harus bercerita pada siapa tentang keluh kesah nya selain pada sang maha pencipta. Kini ia harus ikhlas dengan semua yang telah di takdirkan oleh sang pencipta.
Ia menurunkan kepalanya dan menunduk ia menangis tanpa air mata,untung saja di taman ini sepi karna para santri tengah belajar.
"Nduk,ko disini sendirian?"ucap Ummi membuyarkan lamunan Hilda.
Dengan cepat Hilda mengusap air matanya.
"Ehh ummi,engga ini Hilda lagi cari angin"ucap Hilda sembari tersenyum.
Umii Khadijah pun duduk di sebelah sang menantu,ummi Khadijah tau bahwa istri dari anaknya ini,baru selesai menangis,dengan lembut ia mengusap pipi Hilda.
"Ummi mengerti perasaan kamu Nduk,semua wanita pasti sakit jika harus membagi suami,apalagi kamu yang baru saja menikah beberapa hari"ucap sang Ummi berkata dengan lembut.
"Tak apa ummi insyaAllah Hilda ikhlas jika Hilda harus berbagi suami dengan wanita lain,mungkin ini salah satu bentuk kasih sayang Allah pada Hilda"ucap Hilda dengan tersenyum.
"Kamu memang menantu sholehah ummi sayang"ucap sang Ummi sembari memeluk Hilda dan Hilda pun membalas pelukan itu.
Setelah pembicaraan itu,Hilda pun pergi ke kamarnya untuk mandi. Setelah selesai mandi ia pun keluar dari kamar mandi dan mendapati sang suami sedang duduk di pinggir kasur.
"Mas sudah pulang?"ucap Hilda sembari menghampiri suaminya.
Gus Afnan akhir-akhir ini memang sibuk menyiapkan beberapa keperluan untuk ia menikah nanti,seperti hari ini ia baru selesai mengurus surat-surat yang di butuhkan.
__ADS_1
"Sudah sayang,mas cape banget"ucap Gus Afnan sembari memeluk Hilda.
"Kalau begitu mas mau mandi,istirahat,makan atau minum?"ucap Hilda beruntun sampai membuat Gus Afnan terkekeh karna pertanyaan yang tak henti dari sang istri.
"Bawel banget sihh istri mas ini"ucap Gus Afnan sembari menarik hidung mancung sang istri.
"Iiiihhh sakit mas jangan di tarik nanti tambah mancung"ucap Hilda dengan sedikit terkekeh tapi juga kesal.
"Iyah maaf-maaf sayang"ucap Gus Afnan sembari mencium hidung sang istri.
"Dek,mas mau nanya boleh?"ucap Gus Afnan dengan tatapan serius.
"Nanya apa mas?"ucap Hilda dengan menatap manik sang suami.
"Apa kamu tidak sakit hati melihat suamimu akan menikah lagi?"ucap Gus Afnan,ia juga bingung entah kenapa pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Tapi ia terlanjur bertanya dan ingin mendengar jawaban sang istri.
Dengan tersenyum dan mencoba menenangkan hati yang tiba-tiba saja bergejolak,ia beristigfar dan menatap mata sang suami,mata yang ia selalu kagumi,mata yang selalu ia suka,tapi tak lama lagi ia akan berbagi mata indah itu dengan wanita lain.
"Bohong jika aku tidak sakit hati mas,aku hanya wanita biasa hanya wanita akhir zaman yang akan sakit hati jika,suaminya menikah lagi,tapi aku mencoba ikhlas mas,aku mencoba ridho untuk berbagi suami dengan wanita lain"ucap Hilda dengan mata yang berkaca-kaca.
Gus Afnan langsung memeluk istrinya dengan erat,pertanyaan bodoh,ia mengumpat dalam hati,ia sudah tau jawabannya tapi masih saja ia pertanyakan.
"Tak apa mas,sekarang mas mandi,makan lalu istrahat yah"ucap Hilda sembari melepaskan pelukan suaminya dengan perlahan.
"Ia sayang,sekali lagi mas minta maaf yah?"ucap Gus Afnan dengan menggenggam tangan sang istri lembut,yang di tanggapi Hilda dengan senyum tulusnya.
Setelah menyiapkan pakaian untuk suaminya Hilda pun pergi keluar untuk membantu memasak di dapur.
Saat sampai di dapur ia tak sengaja mendengar percakapan para santri yang sedang memasak di dapur ndalem.
"Aku dengar Gus Afnan akan menikah lagi yah?"ucap santri dengan hijab coklat.
"Iya,kasian yah Ning Hilda padahal baru sebulan menikah sudah harus di poligami"ucap santri dengan hijab abu.
"Heh,istigfar kalian,gak baik gibahin orang apalagi gibahin guru sendiri durhaka nanti kalian"ucap santri dengan hijab merah memperingati.
__ADS_1
Mereka pun langsung beristigfar dan lanjut dengan kegiatan memasak mereka.
Hilda yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka pun hanya tersenyum.
"Ikhlaskan,aku Rabb"ucap Hilda dalam hati.
"Assalamualaikum,mbak-mbak lagi masak apa nih?"ucap Hilda sembari menghampiri mereka dengan senyuman tulusnya.
"Ehhh,waalaikumsalam Ning,ini lagi masak ikan goreng sama tahu aja"ucap santri dengan hijab abu.
"Yaudah,aku bantuin yah"ucap Hilda mengambil pisau dan mengupas bawang.
"Ehh gak usah Ning biar kami saja"ucap santri hijab abu lagi.
"Gak papa biar cepet beres"jawab Hilda tersenyum.
Mereka pun mulai mengerjakan tugasnya masing-masing,setelah beberapa saat masakan mereka pun matang. Hilda di bantu dengan santri pun menyusun makanannya di atas meja.
Setelah mengucapkan terimakasih,Hilda pun berlalu pergi ke kamarnya untuk memanggil sang suami. Tapi begitu masuk kamar,ia melihat suaminya tertidur dengan lelap. Ia pun menghampiri suaminya dan duduk di pinggir kasur,smebari melihat wajah tampan,wajah selalu ia kagumi.
Tangannya pun terulur untuk menyentuh wajah sang suami dan mengusapnya pelan.
"Mas,bangun kita makan dulu,udah sore"ucap Hilda dengan lembut.
Gus Afnan pun membuka matanya dan tersenyum ketika mendapati wajah cantik sang istri yang membangunkannya,ia pun duduk di tepi kasur.
"Iyah mas mau cuci muka dulu,nanti mas nyusul"ucap Gus Afnan mencium kening sang istri sebelum berlalu masuk ke kamar mandi.
Hilda pun hanya tersenyum dan berlalu keluar,tak lama Gus Afnan pun menyusul dan istri untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan.
Haiii guyss 🥰
Jangan lupa like,komen dan vote yah.
untuk kalian yang sudah mau membaca novel aku yang masih acak-acakan ini aku ucapkan terimakasih.😊🙏🙏
__ADS_1
Jangan bosen-bosen yah untuk mampir.
Terimakasih sehat dan sukses selalu untuk kita semua 😊🥰🌹🌹🌹