
Tepat pukul 8 pagi,Hilda,Gus Afnan dan keluarga Hilda sedang berkumpul di halaman rumah Hilda untuk mengantar Hilda yang akan kembali ke pesantren.
"Ayah Hilda pergi dulu yah?"ucap Hilda seraya mencium tangan ayahnya.
"Hati-hati Nduk,jadilah istri Sholehah,turuti apa kata suamimu yah"ucap ayah Hilda dengan mengusap kepala sang anak.
Hilda beralih pada sang kakak yang sedang menahan sedih dan bahagia,ia memeluk Hilda dengan erat seolah tak mau melepaskannya. Hilda adalah adik satu-satunya.
"Jadi istri Sholehah yah jangan bandel"ucap sang kakak sembari meneteskan air mata.
"Hilda nitip bapak yah mbak,jaga kesehatan kalian berdua" Hilda menjawab sembari mengusap air mata sang kakak,lalu mencium tangannya.
Gus Afnan pun melakukan hal yang sama dengan Hilda mencium tangan sang mertua dan di balas pelukan oleh Ayah Hilda.
"Bapak nitip anak bapak yah nak"ucap sang ayah di telinga Gus Afnan.
"Baik pak saya akan menjaga anak bapak sekaligus juga istri saya"ucap Gus Afnan .
Setelah berpamitan Hilda dan Gus Afnan pun memasuki mobil yang sengaja di tinggalkan untuk Gus Afnan bila akan pulang ke pesantren.
Saat di perjalanan tak ada yang berbicara membuat suasan di dalam mobil sunyi sepi. Hingga Gus Afnan memecahkan keheningan tersebut dengan bertanya pada Hilda.
"Kok diem aja?kenapa sayang?"ucap Gus Afnan sembari tangan kirinya memegang tangan Hilda dan satunya lagi untuk menyetir.
"Tidak apa-apa kok mas,hanya sedikit sedih"ucap Hilda dengan tersenyum ke arah suaminya.
"Maafkan saya yah"ucap Gus Afnan sembari mengusap kepala sang istri yang di tutupi hijab.
"Dulu jika akan pergi ke pondok perasaan saya biasa saja tidak ada rasa sedih,karna mungkin saya pergi untuk menuntut ilmu"ucap Hilda menjeda ucapannya.
"Tapi sekarang saya berangkat sebagai istri dari seorang laki-laki yang Allah takdirkan menjadi pembimbing saya"ucap Hilda sembari menunduk.
"Kamu juga nanti disana akan lebih banyak mendapatkan pahala selain dari menuntut ilmu,yaitu melayani saya sebagai seorang istri"ucap Gus Afnan dengan tersenyum.
Setelah beberapa jam perjalanan kini Hilda dan Gus Afnan telah sampai di gerbang pondok pesantren,banyak santri yang menyambutnya di sisi kanan dan kiri. Melihat itu Hilda sangat gugu sekaligus malu.
"Kenapa hmm?"ucap Gus Afnan melihat Hilda.
"Saya gugup dan malu mas"ucap Hilda masih menunduk.
"Jangan gugup saya ada di sisimu,kamu adalah istri saya jadi jangan khawatir"ucap Gus Afnan meyakinkan istrinya tersebut.
Mobil telah sampai di depan rumah milik keluarga Gus Afnan,para santri datang untuk membantu Gus Afnan dan Hilda membawa barang-barang mereka.
"Biar saya yang bawa Ning?"ucap santri putri ketika melihat Hilda membawa kopernya.
__ADS_1
"Ahhh engga usah mbak biar saya saja"ucap Hilda dengan halus.
"Eehhhh anak-anak ummi sudah pulang"ucap ummi Khadijah yang tak lain adalah ibu dari sang suami.
"Iya ummi"ucap Gus Afnan sembari menyalami umminya di susul oleh Hilda.
"Yaudah ayok kita masuk,kalian pasti cape"ucap ummi sembari menggandeng Hilda.
Mereka duduk di ruang tamu,Gus Afnan melirik ke sana kemari yang tak melihat Abi nya.
"Abi kemna Mi?"tanya Gus Afnan pada umminya yang duduk di sebelah Hilda.
"Oh Abi berangkat melihat sahabatnya Kiyai Ansor,katanya ia sakit keras"ucap Umminya sembari menatap san putra.
"Minggu lalu juga Abi silaturahmi kesana kiyai Ansor,menanyakan kamu"ucap Umminya pada Gus Afnan.
"Kenapa menanyakan Afnan Mi?"ucap Gus Afnan,walau pun ia sudah tau tujuannya pasti tentang Ning Latifah. Tapi Gus Afnan tidak terlalu memikirkannya.
"Ohh kenapa Ummi tidak ikut?"lanjut Gus Afnan mengubah topik pembicaraannya.
"Tidak,Ummi mau nunggu mantu Ummi pulang"ucap Ummi Khadijah sembari mengusap lengan Hilda.
Hilda yang di perlakukan seperti itu hanya menunduk dan tersenyum.
"Nduk pasti kamu lapar kan?kita makan dulu yah."ucap ummi Khadija pada Hilda.
"Tapi kalau Ummi belum makan biar Hilda temani."ucap Hilda melanjutkan.
"Tidak Nduk,ummi sudah makan tadi sama Abi sebelum ia berangkat"ucap Ummi Khadijah dengan senyuman.
"Ya sudah kalian istrahat lah dulu,pasti kalian cape habis perjalanan jauh"ucap sang Ummi.
"Ya sudah kami istrahat dulun ya Ummi"ucap Gus Afnan dan beranjak.
"Hilda tinggal istrahat dulu ya Ummi?" ucap Hilda.
"Ya silahkan Nduk ."ucap Ummi Khadijah.
Setelah berpamitan dengan Umminya ia pun mengajak Hilda pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
"Silahkan masuk dek,maaf yah kamarnya berantakan"ucap Gus Afnan mempersilahkan sang istri masuk.
"Terimakasih Mas"ucap Hilda sembari masuk dan melihat sekeliling,terdapat lemari baju dan lemari khusus buku-buku dan kitab,dan terdapat kamar mandi.
Hilda pun duduk di atas kasur dan memperhatikan Gus Afnan sembari ingin menanyakan sesuatu.
__ADS_1
Gus Afnan yang menyadari itu pun,menghampiri sang istri dan duduk di dekatnya.
"Kenapa Dek?apa ada yang ingin di tanyakan?"ucap Gus Afnan pada sang istri.
Hilda yang ragu untuk menanyakan sesuatu itu pun hanya menunduk dan menggeleng dengan ragu. Gus Afnan yang melihat keraguan pun,segera menangkap pipi sang istri.
"Mau nanya apa sayang?jangan ragu ,jika saya mampu menjawab pertanyaan kamu,insyaAllah saya akan jawab"ucapnya lembut.
Hilda yang tadinya menunduk perlahan mengangkat kepalanya menatap netra sang suami.
"Maaf jika pertanyaan saya lancang Mas"ucap Hilda.
"Saya hanya ingin tau,siapa Kiyai Ansor itu?"ucap Hilda ragu-ragu.
"Saya akan menjawabnya tapi saya mohon kamu jangan marah yah?"ucap Gus Afnan dengan sungguh-sungguh dan Hilda pun hanya mengangguk.
"Kiyai Ansor adalah sahabat Abi saat dulu sekolah dan menuntut ilmu di pesantren,Kiyai Ansor juga sama seperti Abi mendirikan pondok pesantren. Ia mempunyai anak satu-satunya yaiutu Ning Latifah"ucap Gus Afnan dengan menatap Hilda yang juga menatapnya.
"Lanjutkan Mas"Hilda bersuara.
"Ibu Ning Latifah sekaligus istri dari Kiyai Ansor sudah lama meninggal karna sakit,dulu sebelum saya lulus kuliah Abi dan kiyai Ansor sudah menjodohkan saya dengan Ning Latifah,tapi saya menolaknya karna saya ingin menuntut ilmu tanpa harus memikirkan seseorang yang menunggu saya"ucap Gus Afnan dengan mengeratkan genggamannya pada tangan Hilda.
Hilda masih diam mendengarkan cerita Gus Afnan dengan tenang,seolah ia tak merasakan apa pun. Tapi jauh di dalam hatinya ia sedikit merasakan perih.
"Apa aku telah merebutmu darinya Mas?"ucap Hilda dengan masih menatap Gus Afnan.
"Tidak sayang,kau tidak merebut aku dari siapa pun,Allah yang telah mempertemukan kita dan Allah pula yang menuliskan takdir"ucap Gus Afnan memeluk Hilda.
"Sudah yah sayang,itu hanya cerita masa laluku sebelum bertemu denganmu"ucap Gus Afnan meyakinkan.
"Iyah mas aku mengerti,mas tak perlu khawatir"ucap Hilda mengusa punggung Gus Afnan yang memeluknya.
"Baiklah sekarang kita bersihkan badan,masih ada waktu untuk istirahat sebelum adzan ashar"ucap Gus Afnan sembari melepaskan pelukannya.
Mereka berdua kini sudah beres bersih-bersih dan bersiap untuk istrahat.
"Mas apakah aku satu-satunya wanita yang akan berada di hatimu setelah Ummi?ucap Hilda dengan berbaring di sebelah Gus Afnan.
Gus Afnan pun yang mendengar itu pun langsung menghadap Hilda dan memeluknya,
"Tentu sayang,kamu akan menjadi satu-satunya yang mengisi hatiku setelah Ummi,sudah yah sekarang kita istrahat"ucap Gus Afnan sembari mengelus punggung Hilda,tidak butuh waktu lama suara dengkuran halus sudah terdengar dari mulut Hilda.
Haii Guys...😊😊
Jangan lupa like,komen dan vote yah...
__ADS_1
Terimakasih untuk kalian yang sudah mau mampir dan membaca novel yang masih berantakan ini...🥰🥰🌹🌹🌹
Terimakasih,sukses dan sehat selau 🥰🥰