
Di tengah hutan gelap seorang pria berwajah tampan berjalan tergopoh-gopoh karna lukanya, dari arah belakang terdengar langkah mendekat dengan cepat
"cepat ! bunuh pangeran ke 9 karna berani berkhianat pada raja !!" langkah tersebut terus terdengar dan semakin dekat ,pria itu terbatuk sejenak lalu mengambil langkah besar untuk melarikan diri
ditengah pelarian ia teringat hidupnya yg sebelumnya penuh dengan kekayaan, selir bahkan pelayan sedangkan sekarang, tidak ada satupun yg tersisa, semuanya pergi karena kesalahpahaman yg bukan ia lakukan ,tidak ada siapapun yg akan menolongnya hidupnya sangat berantakan.
'akhir dari ketamakan ku' tiba-tiba saja pasukan yg mengejar sudah berada tepat di belakangnya "pangeran lebih baik anda diam dan menunggu kematian mu"
"siapa yg menyuruh kalian membunuh ku !" para prajurit hanya membalas dengan tatapan rendah "anda sudah kehilangan semuanya, anda bekerja sama dengan Marquis musuh untuk menjatuhkan raja"
"aku tidak pernah melakukan itu !!, ini adalah salah paham" para prajurit segera mengangkat senjata mereka "yg terpenting saat ini pangeran diam saja menunggu kami membawa mayat anda ke hadapan Yang Mulia ratu" pangeran ke 9 terdiam tak bisa lagi berkata ia tidak tahu harus bagaimana, jika ia lari itu percuma karna mereka sangat banyak dan mustahil bisa lolos tapi bukan sikapnya untuk menerima kematian seperti ini.
"aku jendral yg memimpin pasukan di perang melawan para bandit barbar, aku tidak akan diam" ia mengambil belati di pinggangnya dan mengacungkan untuk membela diri jika diserang .
para prajurit menatap geli, "kalau begitu serang !!" para prajurit mulai maju ,baru saja akan menyerang sosok tinggi berdiri didepan untuk menghalangi
para prajurit segera mundur "nyonya Wei....kenapa anda disini" wanita itu tidak menjawab "kalian lebih baik mundur, jika berani menyerang aku akan membunuh kalian" para prajurit bertukar tatapan "nona pertama ,dia bukan suami yg baik untuk anda kenapa anda membela nya ? bukankah dia penyebab anda menjadi seperti sekarang, dianggap remeh oleh keluarga sendiri, tidak bisa mengikuti pembelajaran untuk bangsawan seperti nona"
__ADS_1
"Diam ?!, kau siapa berani mengatakan hal ini ,hidup ku aku yg tentukan alasan aku tidak bisa mengikutinya bukan salahnya tapi karna ketidakmampuan ku sendiri , sekarang kalian ingin mundur atau...." para prajurit terdiam sejenak "kalau begitu besar anda ingin melindunginya maka....habisi keduanya"
semua prajurit maju menyerang, wanita itu menyadari ia tidak akan bisa menang "pangeran pergilah ,aku akan mengurus yg disini pergilah, jangan pernah berbalik terus berlari hingga ke perbatasan desa dan bersembunyi" pangeran ke 9 terdiam "kau...."
wanita itu diserang banyak pasukan hingga tak bisa mendengarkan perkataan sang pangeran, ia sibuk bertahan dan melindungi pangeran sebisanya.
sebuah celah terlihat , pemimpin pasukan maju dan menusuk perut nya hingga darah keluar menodai jubah putih bersih itu menjadi merah ,pangeran ke 9 terdiam "tidak !!!" wanita itu ambruk ke tanah , lukanya tidak ringan mustahil untuk kembali bangun dan menyembuhkan diri tapi
"pangeran !! cepat pergi jangan pedulikan hamba !!" sang pangeran menggeleng ,ia melompat dan meraih pedang yg dibawa wanita itu lalu mulai menyerang beberapa prajurit, melihat celah cukup baik ia menggunakan pedang dan pohon disana untuk mengacaukan para prajurit
setelah keadaan sulit tadi ,pangeran meraih tubuh wanita itu dan mendekati kuda yg terikat "kau ?!, kenapa menolong ku" wanita itu menepis lembut tangan sang pangeran yg sudah menyentuh luka di perutnya "tidak ada alasan, anda cukup baik memberikan kehidupan sederhana pada hamba sebelumnya dan itu sangat berarti.....hamba sudah membayarnya pangeran pergilah tinggalkan kota dan meminta bantuan bupati Ling"
jalan sudah buntu , dihadapan hanya ada jurang besar pangeran ke 9 ingin berbalik tapi kaki kuda sudah terlebih dulu dipanah hingga mereka terlempar dari kuda dan jatuh ke tanah .
pangeran ke 9 segera berusaha bangkit dan menghampiri istrinya itu "Shuwan Wei !!" Shuwan dengan berat berusaha membuka matanya, luka di perutnya sangat sakit akibat jatuh tadi ,sudah berapa banyak darah yg keluar ia tidak akan sanggup lagi untuk berjalan .
pangeran ke 9 bernafas lega wanita ini setidaknya masih hidup, ia bisa melarikan diri bersama nya mungkin ,baru saja berpikir seperti itu pangeran di dorong menjauh dan cipratan merah menodai wajah dan jubah nya .
pangeran ke 9 terdiam melihat noda darah itu ia bertanya darah siapa ini, ia mengangkat wajahnya dan terlihat sosok putih anggun itu sekarang ternoda darah, wajah putihnya tidak seperti sebelumnya yg memberikan kehangatan tidak ada lagi ada raut wajah lembut ,hanya ada wajah pucat yg berusaha terlihat baik
__ADS_1
didada tempat jantung berdetak sebuah panah sudah menembus masuk ,sudut bibirnya tidak sanggup menahan darah yg memaksa keluar itu ,pangeran menegang ia merengkuh tubuh yg hampir limbung karna tidak memiliki energi lagi ,ia menatap panah yg masih tertancap menembus didadanya itu
"kenapa....kau seharusnya tidak menolong ku kau bisa pergi seperti yg lain" Shuwan terbatuk beberapa kali ketika ingin berbicara, tubuhnya sudah tidak sanggup lagi tapi ada hal yg ingin ia sampaikan "aku tidak menyalahkan mu, ini memang karna takdir yg membuat seperti ini ,kau tidak melakukan kesalahan.....tidak sama sekali kau....juga Koban yg terintimidasi oleh ketamakan"
tenggorokannya tersengal, ia mengerjapkan mata untuk menstabilkan penglihatannya "hiduplah tanpa terganggu kau sudah berjuang keras....aku senang dengan...." pangeran ke 9 masih dengan sabar mendengarkan setiap kata ,tapi tidak akan ada lagi kata yg akan keluar wanita yg ia nikahi 5 tahun lalu dan ia permalukan tanpa ragu itu sekarang memujinya setelah ribuan orang mencacinya, memintanya hidup baik dan menghargai perjuangannya.
hati nya sakit "Shuwan....maaf dan terimakasih aku tidak rela lagi, aku salah karna meninggalkan mu sebelumnya mulai sekarang bahkan dineraka juga aku rela menemanimu" pangeran bangkit matanya merah entah sejak kapan ia menangis ,ia melangkah ke ujung jurang itu
"aku akan membayarmu lagi entah dikehidupan selanjutnya ataupun dimasa depan, aku akan membayar mu dengan benar dan tidak akan pernah mengecewakan mu" pangeran melompat terjun ,para prajurit terdiam melihat itu "segera pergi cari mayat mereka ,tidak peduli bagaimana kita tetap harus membawa mayat ke 2 pengkhianat itu dan ditunjukkan sebagai peringatan !!"
pangeran menutup mata dan mengeratkan pelukannya pada tubuh dingin Shuwan Wei
"Yang mulia....jendral !!" pangeran seketika terbelalak ia mengalihkan pandangannya, sosok tinggi berdiri dengan khawatir "jendral anda..." pangeran mengusap wajahnya dan menghela nafas 'a-aku hidup ? jelas-jelas aku melompat ke jurang lalu bagaimana dengan Shuwan'
"dimana Shuwan !!" Jing Wu terkejut "hah ? Shuwan ? maksud anda nona pertama Wei ? dia ada dirumahnya lah bersama keluarganya kenapa pangeran menanyakan nya tiba-tiba ?"
"Jing Wu tanggal berapa sekarang ?" Jing Wu kearah meja menuangkan air dan memberikannya dulu pada sang pangeran "dinasti Han ,pangeran anda kenapa tiba-tiba melupakan ini apa sesuatu terjadi ?" pangeran ke 9 menggeleng pelan "kapan persiapan untuk kembali selesai ?" Jing Wu merenung "sudah hampir ,para prajurit siap kembali apa kita akan segera kembali saja ?" pangeran bangkit dari duduknya dan melangkah kearah jendela "hm, hari ini kembali kirimkan surat pada raja tentang kepulangan" Jing Wu mengangguk dan segera pergi .
'tuhan sungguh baik, Shuwan aku janji dikehidupan ini akan menjagamu dan membayar semua yg kau berikan padaku sebelumnya ,tunggu aku Shuwan'
__ADS_1