
sedangkan didalam taman keluarga Shu ,Shuwan tertidur sejenak lalu terbangun dengan gelisah, pelayan segera menghampirinya dengan teh yg sudah disiapkan
"nona....anda tidak apa ?" Shuwan mengangguk pelan "emh, aku hanya memimpikan sesuatu yg aneh apa itu sebuah pertanda ?" sang pelayan menunduk "jika itu baik maka anggap itu adalah takdir baik nona Jika bukan lebih baik untuk tidak anda pikirkan saja" Shuwan mengangguk ia meminum lembut teh di cangkir itu
"di aula ramai membicarakan pangeran ke 9 berhasil memenangkan pertempuran, para pelayan mengatakan pangeran akan segera kembali dalam waktu dekat, apa nona juga akan pergi mengucapkan selamat ?" Shuwan menggeleng "sepertinya tidak perlu, aku tidak ingin datang mungkin adik yg akan pergi dengan ayah untuk mengucapkan selamat" sang pelayan mengangguk
Shuwan Wei berbalik menatap langit 'aku punya firasat kurang baik , sebaiknya hindari pangeran ke 9 kecuali keadaan memaksa' .
pangeran ke 9 akhirnya tiba setelah rumor yg dibicarakan, dengan gagah ia memasuki gerbang kota dan menuju istana Yang Mulia kaisar .
pangeran ke 9 sebelum pergi memberi salam ia mandi terlebih dahulu untuk menjaga kesopanan dan kecurigaan tentangnya, para menteri yg bertemu di jalan memberikan selamat atas kemenangannya itu .
ia segera menghadap dan memberi salam ,sang raja memberikan pujian atas kemenangannya dan membiarkan nya kembali untuk beristirahat tapi permaisuri menghentikan nya "pangeran ,jika anda tidak keberatan bisakah anda membantu memanggil kan dekan Feng di pelatihan para bangsawan ?"
pangeran ke 9 mengingat Shuwan Wei yg juga berada disana menerimanya dengan hati-hati agar tidak mengundang kecurigaan ,ia segera berangkat bersama Jing Wu untuk menuju kesana.
__ADS_1
di pusat pembelajaran Shuwan Wei masih ada disana walau sebenarnya ia bisa kembali lebih awal tapi ia merasa di rumah kediaman Shu tidak akan ada hal penting dan hanya akan ada kecaman jadi lebih baik tinggal sebisa mungkin di tempat ini .
semua ruangan sudah terkunci karna akan ditutup ,Shuwan merasa belum saatnya kembali jadi ia memilih membaca di taman ,tidak ada yg menemani selain dirinya, angin ,pohon dan langit cerah
Shuwan sejujurnya merasakan kesepian setelah lebih dari 15 tahun lalu dibawa ke ibu kota kaisar ,menjadi putri pertama menteri juga tidak menjadikan dirinya hidup bahagia karna dirinya hanya lah putri yg lahir setelah sang ibu diusir dari rumah menteri, alasan aku kembali kemari karna kakek yg tak sengaja menemui ku mengajakku tinggal dan mengajari ku ilmu pedang , pengetahuan bahkan siasat juga cara mendapatkan bantuan di saat-saat tertahannya.
sang kakek sedang berada di umur sehingga sering sakit ,ayah ku yg merupakan menteri mulai mengawasi setiap keadaan kediaman dan memimpin mengganti kan kakek ,dirumah itu satu-satunya yg mau menyemangati hanyalah sang kakek tidak ada yg lain .
Shuwan merasa sedikit dingin karna hari sudah mau gelap ,dan angin sudah sangat kuat jadi ia bertujuan untuk kembali saja sebelum keadaan menjadi semakin ribut di rumah .
didepan gerbang ia tanpa sengaja malah bertemu pangeran ke 9 dan juga gurunya "salam kepada pangeran dan guru..." Feng Qin tersenyum "nona Shu, kau belum kembali ? hari sudah hampir gelap loh" Shuwan menunduk "saya membaca buku dan melupakan waktu ,ini berniat kembali ke kediaman"
Feng Qin menyadari tatapan pangeran "ehem, Shuwan apa tugas yg terakhir kali sudah dikerjakan ? bagaimana dengan persiapan ujian mu" Shuwan terdiam sejenak lalu tersenyum "ayah belum memutuskan, tapi untuk tugas sudah terselesaikan dan diberikan esok" dekan Feng mengangguk "sangat baik, ku harap kau mengikuti ujian nya hingga bisa mendapat gelar yg berbeda dengan wanita lainnya" Shuwan hanya diam untuk sebentar
"semuanya keputusan ayahanda, lagi juga aku tidak merasa mungkin untuk mendapatkan gelar sarjana sebagai wanita jadi tidak terlalu memikirkan, hidup begini juga sudah cukup baik" Feng Qin mengangguk pasrah "ya kalau begitu hati-hati lah dalam perjalanan" Shuwan memberi salam sebelum benar-benar pergi
__ADS_1
setelah memanggil dekan Feng pangeran juga meninggalkan tempat untuk kembali ke kediamannya sendiri ,dan bersiap untuk pesta penjamuan yg akan diadakan untuk kemenangan nya .
pangeran berdiri menyaksikan bulan malam itu ,Jing Wu yg datang dengan teh baru terdiam melihat itu , pangeran ke 9 bukanlah tipe yg suka menyaksikan hal seperti bulan ,ia lebih suka berdiri berlama-lama tentang rapat dan pekerjaan ini benar-benar aneh .
"tuan..." pangeran menoleh "tuan ,dari berita yg anda minta pasukan sudah ditempatkan dengan aman tapi...untuk membuat taman diluar dan ruangan lain itu.." sang pangeran mengambil teh yg sudah di tuang ke gelas lalu meminumnya perlahan
"lakukan saja sesuai perintah, juga jangan berita terdengar biarkan saja untuk saat ini, aku sendiri yg akan menyiapkan ruangan itu" Jing Wu mengangguk "kalau begitu, hamba akan pergi memeriksa yg lain" pangeran tidak menyahut ia masih diam menatap bulan dari jendela kamar nya
"Shuwan... dikehidupan ini aku akan membantu mu mendapat semua yg kau inginkan, akan melindungi mu dengan baik juga mencintai mu ,tidak akan kubiarkan siapapun menyakiti mu terlebih lagi aku ,aku berhutang di kehidupan sebelumnya, kau istri yg ku telantarkan tapi diakhir hidup masih bisa mengatakan berterimakasih dan menghargai semua yg ku lakukan, aku yg bodoh menelantarkan mu" tatapannya sangat sedih mengingat matinya Shuwan Wei di ingatan nya tepat berada di pelukannya , didekapan nya tapi tetap menyebabkan kematian.
Shuwan Wei yg berada di ruangan terdiam merasa kupingnya seolah mendengar sesuatu, pelayan yg melihat bertanya "nona ,ada apa ? apa ada serangga ?" Shuwan menggeleng "tidak ,tidak ada serangga aku hanya merasa ada yg berbisik saja besok minta nenek Wu untuk membantu siapkan kereta aku ingin menjenguk kakek" pelayan itu mengangguk "baik nona"
pelayan pergi meninggalkan kamar , Shuwan kembali sendirian dan teringat sesuatu ,lebih tepatnya mengingat kejadian sore tadi saat ia akan kembali
__ADS_1
"tatapan pangeran ke 9 kenapa terasa buruk ya ? apa dia mengasihani ku ,tapi kami tidak pernah bertemu kenapa menunjukkan ekspresi begitu benar-benar aneh" Shuwan Wei sedikit terganggu dengan itu hingga memikirkannya tapi entah bagaimana mengingat harapan dekan Feng untuknya ia merasa sedikit bahagia
"aku tidak ingin hidup dibawah aturan orang lain ,juga ingin mendapat gelar sarjana tapi sudah jelas ibu akan menentangnya karna jarang yg ada seperti itu ,dan hanya orang-orang kerajaan seperti putri raja bukan gadis seperti ku" harapan nya sedikit meredup merasa lelah memikirkannya Shuwan Wei menyerah ia lebih baik istirahat untuk hari ini dan memikirkan bagaimana dia hidup tenang tanpa terlibat hal lain nya.