Aku Istrimu Bukan Patung

Aku Istrimu Bukan Patung
Pulang


__ADS_3

Melihat nya berjalan dengan sesekali mencium bunga yang ia bawa membuat hatiku bergemuruh hebat, aku tidak ingin berprasangka apa apa dulu, takut semuanya salah, aku juga tidak ingin melihat lebih jauh pria itu datang untuk mengunjungi siapa, takut hati ku belum siap.


Aku kembali ke kamar rawat, pikiran ku kacau, aku terus berharap Fahri menghubungi ku, setidaknya menayangkan keberadaan ku, tapi sekali pun Fahri tidak melakukannya.


...


Aku sedang menunggu taxi online yang sudah ku pesan, Aku ingin segera pulang karena keadaan ku belum pulih benar, masih terasa pusing jika terlalu lama berdiri atau duduk, untungnya aku tidak menunggu lama, karena taksi nya datang tepat waktu.


Sesampainya di rumah, aku langsung saja mengistirahatkan tubuh, memijat pelan pelipis ku yang mulai berdenyut lagi.


Braak!!!


Dobrakan pintu membuat ku kaget, aku bahkan langsung duduk kembali di atas kasur, ku dapati Fahri dengan raut wajah berbeda saat di rumah sakit, pria itu marah, entah apa lagi kesalahan yang ku perbuat, rasanya aku baru saja pulang dan bertemu dengannya.


"Fahri, Ada apa dengan mu" tanya ku kesal, karena dia membuat ku kaget.


"dari mana aja kau, HAH!" aku memejam karena kepala ku semakin berdenyut di tambah dengan bentakan Fahri. panggilannya juga berubah, kasar sekali.


"kamu yang kem---" ucapan ku kembali ia potong dengan melempar asal pajangan bunga di atas lemari, aku menutup telinga.


"DARI MANA, KU TANYA KAU DARI MANA, CEWE MURAHAN, KAMU ITU SUDAH BERSUAMI, APA PANTAS BUAT MU KELUYURAN BERHARI-HARI TANPA PAMIT" ku teguk air liur ku kala kerongkongan semakin ku rasa kering, aku tidak tau harus bersikap seperti apa di depannya sekarang, ku kedip kan mataku hingga air mata yang ku simpan di pelupuk mata turun juga, sekuat apapun aku berusaha menahannya jika sudah Fahri berucap kasar , air mata ku akan turun juga, kepala pusing, kondisi ku belum pulih, ku tatap sesaat wajah nya dan berucap


"aku tidak semurah yang kamu pikirkan, Fahri. Berhari-hari aku di rawat di rumah sakit, aku berusaha menghubungi mu, tapi tidak pernah kau menghiraukan aku. Aku sendiri menahannya sakit sedangkan kedua orang tua ku tidak ada bersama Ki, kau pun sebagai suami ku mengacuhkan aku. dan sekarang kamu mengatai ku wanita murahan, sehina itu aku di hadapan kamu, Fahri" aku menjadi kalimat ku.


"Berulang kali aku menelpon mu untuk minta di belikan obat, tapi kamu mengacuhkan Aku. Aku terpaksa pergi sendiri karena aku tidak tahu lagi dengan sakit ku, aku ke klinik memeriksakan kondisi Ku, aku di sarankan untuk di rawat beberapa hari dan di rujuk kerumah sakit, Fahri" Aku berucap lirih, dengan air mata yang terus turun membasahi pipi.


"Aku tidak ingin berdebat keluar lah, aku ingin istirahat" aku berucap selirih mungkin, aku lebih memilih merebahkan tubuh ku, membelakangi Fahri yang masih berdiri di ambang pintu, ku tutup seluruh tubuh menyembunyikan rasa sakit di hati atas hinaan Fahri yang tidak berkesudahan menyakiti hati.

__ADS_1


Fahri POV


Sakit? di rawat di rumah sakit? jadi berhari-hari ini Vanesha di rumah sakit seorang diri, malam itu dia menelpon untuk meminta tolong, tapi aku mengabaikannya. Sekaran aku justru menghinanya habis-habisan, padahal aku bisa lihat wajahnya yang begitu pucat.


Ada apa dengan ku, aku sebegitu marahnya di hadapan Nesha, bahkan kalimat yang terucap mampu meneteskan air mata wanita itu, aku kesal dia tidak pulang tiga hari ini, emosi ku memuncak melihat kepulangan nya, aku bisa melihat wajah nya yang menahan sakit, belum lagi bibir pucat nya, tapi kuabaikan semua, aku lebih memilih melampiaskan emosi padanya.


Aku keluar dari kamarnya membanting pintu cukup keras, ku raup oksigen kasar.


"ada apa dengan ku"


"argghhh" Ku tenang kan dulu perasaan emosi di hati, baru setelah nya aku kembali masuk kedalam kamar Nesha, ku dengar jelas isakan dari Nesha yang terbaring dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya.


"Nes, maaf" aku berucap lirih.


"aku emosi karena kamu tidak pulang dan tidak ada kabar" aku duduk di samping nya, ia masih berbaring memunggungi ku, isakan nya sudah tidak terdengar lagi.


"keluar lah Fahri, aku ingin sendiri" suara Nesha bergetar, aku tidak menuruti ucapan nya, aku ikut berbaring di samping Nesha, menurunkan selimut dari wajahnya,


"maaf" entah magnet apa yang membuat ku melingkarkan tangan di pinggang ramping Nesha, tidak ku dapati lagi isakan dari Nesha, ku tenggelam kan wajah ku di tengkuknya,


"lepas Fahri, aku butuh istirahat, kepala ku pusing"


"kamu masih sakit?"


"ya! aku sakit dengan semua sikap mu padaku, tanpa bertanya dulu kamu datang dengan menyebutku wanita murahan, tiga hari aku terbaring lemah di ranjang rumah sakit, tanpa ada seorang pun yang datang menjenguk, aku putuskan pulang lebih cepat padahal kondisi ku belum pulih benar, karena apa... karena aku..." Suara Nesha tertahan karena Isakan, ku biarkan ia mengeluarkan semuanya, kebodohan ku membuat ia semakin sakit, aku tau kesalahan ku padanya, ku rengkuh lebih erat tubuhnya yang bergetar.


"kamu bahkan tidak sedikit pun merasa iba padaku, aku tidur karena kepala ku pusing, kamu datang lagi dengan emosimu itu, kenapa kamu marah saat aku tidak memberi kabar, sedangkan kamu pergi berhari-hari juga tanpa memberi kabar, bukan kah kamu yang meminta untuk tidak saling peduli, lalu kenapa kamu bisa semarah ini karena aku tidak pulang, bukan kan pernikahan kita hanya sebatas status tidak lebih... lantas apa alasan kemarahan mu Fahri, apa" aku juga bingung dengan sikap ku padanya yang berubah-ubah setiap saat, apa aku mulai menerima kehadirannya di hidup ku, aku menggeleng menampik semua kemungkinan itu, ku lepas tangan ku yang melingkar di pinggang nya, aku berdiri dan keluar dari kamar Nesha, aku tau wanita itu masih menangis di bawah selimut nya, aku tidak ingin bersikap berlebihan pada Nesha, aku tidak ingin terjebak dengan perasaan lebih Padanya.

__ADS_1


Nesha POV


Melelahkan jika kita mencintai seorang diri, seperti yang ku alami sekarang, aku mencintai suami ku sendiri, tapi cintaku padanya tidak pernah terbalas sedikit pun olehnya.


Apa aku harus menyerah dan membiarkan dia mendapat bahagianya sendiri, aku juga ingin merasakan bahagia meskipun tidak bersamanya.


Syukur nya pening di kepala sudah mereda, walaupun sakit di hati tidak ada perubahan.


Aku ingin memasak sesuatu, perut ku minta di isi, sejak pulang dari rumah sakit aku belum memakan apapun, untungnya masih ada bahan makanan di dapur, aku ingin membuat sesuatu yang hangat dan berkuah, ku putuskan untuk membuat sup.


Di tengah kesibukan ku mengaduk sup di dalam panci, aku mendengar langkah kaki yang kian mendekat ke arah dapur.


"Fahri kamu sudah makan, aku buat sup, mari kita makan setelah sop nya matang" aku menawari Fahri makan tanpa mau menoleh padanya, seakan pertengkaran tidak pernah terjadi di antara kami.


"aku makan di luar, kamu aja yang makan" yaa seperti biasanya pria itu menolak ku untuk kesekian kalinya, aku menoleh mendapati Fahri dengan pakaian rapi, mau kemana dia Serapi ini.


"Fahri, kamu mau kemana dengan pakaian serapi itu?"


"bukan urusan mu, urusi saja urusan mu, tanpa mencampuri urusanku" dia menjawab dengan wajah datar tapi dengan intonasi ketus.


"aku hanya bertanya Fahri, apa salah?"


tidak ada lagi jawaban dari Fahri, pria itu sudah pergi tanpa mengucap salam sedikitpun.


"tau gini mending aku nikah sama Daffa, ketimbang sama manusia kulkas dua pintu itu" gumam ku seorang diri sambil terus mengaduk sup di dalam panci.


"tapi aku sudah terlanjur menaruh hati padanya"

__ADS_1


__ADS_2