Aku Istrimu Bukan Patung

Aku Istrimu Bukan Patung
Jatuh cinta


__ADS_3

Setelah beberapa hari mengistirahatkan diri di rumah, sekarang keadaan ku semakin membaik, hari ini juga hari pertama aku kembali bekerja setelah satu Minggu meminta ijin.


Aku berdiri lama di depan pintu kamar ku yang berhadapan langsung dengan kamar Fakhri, semenjak kejadian hari itu, aku jadi jarang bertemu Fakhri, pria itu selalu menghindar, entah perasaan ku saja atau memang benar adanya.


Aku tetap berdiri di depan pintu, memang sengaja aku lakukan karena ingin melihat Fakhri, benar saja ada sekitar 10 menit aku menunggunya keluar, pria itu sudah rapi dengan pakaian kantornya, sesaat tatapan kami bertemu, tapi ia acuhkan aku di hadapannya, ia melengos pergi tanpa sepatah katapun.


"Fahri" aku memanggil namanya, meskipun tau respon seperti apa yang akan ia berikan.


"Fahri" pria itu tetap saja mengacuhkan ku, memang hubungan kami masih datar saja, tapi sebelum sebelumnya, Fahri masih mau berbicara dengan ku, walaupun yang keluar dari mulutnya hanya bentakan atau kata-kata pedas saja, tapi sekarang... ada apa, marah saja ia tidak lakukan, aku bingung dengan nya .


Entah dorongan dari mana, dengan berani ku tahan pergelangan tangan Fakhri, tapi ia menghentakkan tangan nya hingga genggaman tangan ku terlepas dari sana.


"KAU KENAPA! HAH!" ok, Ku tarik kata-kata ku tadi, aku tidak suka di bentak, bukan hanya bentakan, tapi cara dia berucap juga berubah kasar.


"APA MAU MU, HAH! CEPAT KATAKAN, AKU MAU KERJA" aku hanya menggeleng dengan tangan yang terpaut menahan gugup, ku balik tubuhku berjalan kembali masuk ke dalam kamar.


"dasar pengganggu, argghhh" aku masih bisa mendengar suaranya samar-samar.


Fakhri POV


Aku hanya berusaha menjaga perasaan ku, aku tidak ingin terlalu larut dalam perasaan yang sepertinya sudah mengarah ke hati, yaa.. aku rasa, aku mulai mencintai istri ku, istri yang sejak awal tidak aku inginkan kehadirannya.


Seorang wanita yang hadir secara tiba-tiba di hidup ku, seorang wanita tangguh yang mau bertahan dengan pria brengsek seperti ku, wanita itu juga yang menjadi sumber amarah terbesarku, kehadirannya membuat ku kehilangan sosok wanita yang sudah menemani ku sejak lama, mengingat hal itu saja sudah membuat darahku mendidih.


Tapi lambat laut, aku merasa diri ini mulai terikat jauh padanya, pada Vanesha Angela, wanita dengan mata hazel, hidung mancung, kulit putih. Aku sadar dengan perasaan ku sendiri, aku akui itu, aku kalah dengan egoku, ku tidak ingin ia terluka terlalu dalam Jika ia tahu satu hal besar yang aku sembunyikan darinya, aku takut ia lebih terluka jika aku mulai berubah padanya dan rahasia besar itu terkuat, dia lah yang paling terluka.


Rasanya sudah cukup membuat nya terluka dengan tidak menerima kehadirannya, dari pada berusaha memperbaiki hubungan kami yang sudah hancur sejak awal dengan kebohongan yang selalu menjadi bayangan.


"maaf, Nes. Aku rasa ini adalah pilihan yang paling tepat, aku dan kamu sampai kapanpun tidak akan pernah menemukan jalan untuk bisa bersama, aku mencintaimu nes, sungguh... aku mencintaimu"

__ADS_1


"argghhh, bodoh, BODOH, KENAPA HARU ADA CINTA UNTUKNYA, INGAT FAHRI, DIA YANG MEMBUAT RAISA TERBARING DI LEMAH. WANITA ITU HAMPIR MEMBUNUH KEKASIH MU, FAKHRI, SADARLAH" ku caci diri ku sendiri, setir mobil menjadi pelapisan emosi.


"ARGGHHH, Nesha... kenapa Nes, kenapa kamu harus hadir di hidup ku, kenapa Nes, harusnya sejak awal kamu tolak perjodohan ini, Nes" lirih ku dengan kepala ku sandarkan pada setir mobil.


"kenapa, Nes. kenapa" kini ujung mataku mulai berair, ku usap dengan punggung tangan aku selemah ini jika sudah berurusan dengan wanita bernama Nesha itu.


"maafkan aku, maaf"


....


Nesha POV


Aku tidak terlalu fokus dengan pekerjaan Ku, sejak tadi entah sudah berapa lama teman kantor ku yang menegur karena aku hanya melamun di depan komputer.


"Nesha, jangan melamun, kalo kamu masih nggak enak badan, pulang aja nggak papa ko "


" sudah makan? kalo belum makan dulu gih"


"ii--iya" di kepala ku cuman ada Fahri, pria itu seperti sedang berlari maraton di dalam sana, aku kesulitan menyingkirkan Fahri dari sana, pria itu sudah sangat jauh memasuki hidupku, hatiku, kepala ku, ah aku seperti orang gila saja.


"Nes, fail yang aku kirim Minggu lalu sudah kamu cek?" aku mengingat ingat kembali, fail mana yang teman kantorku ini katakan, minggu lalu aku sakit jadi jelas aku tidak mengerjakan apapun.


"fail yang mana, Bel?"


"ada, kamu cek aja di tanggal 21, aku ada kirim failnya"


"ah iya sebentar aku cek email dulu" ku buka kembali pesan masuk di email ku, ternyata benar, ada satu pesan yang belum sempat aku baca, apalagi ku kerjakan, ku tepuk kening ku.


"astaga Bel, aku lupa kalo kamu ngirim email, deadline nya kapan, Bel?"

__ADS_1


"Rabu nanti sudah harus naik cetak, Nes. Kita juga sudah umumkan di sosial media kalo novel nya bakal tersedia dua minggu lagi"


"aduh, Bel. sorry yaa, i--iya aku bakal lembur lagi malam ini, semoga dalam waktu tiga hari, novelnya sudah selesai "


"iya Nes, maaf yaa, aku tau ko, kemarin kamu sakit, pasti nggak sempet beresinnya, tapi aku juga sudah terlanjur ngirim email itu ke kamu"


"harusnya aku yang minta maaf, Bel. Kan aku yang awalnya menyanggupi, tapi justru aku yang lupa "


"ya udah nggak papa, kalo kamu butuh bantuan jangan sungkan minta ke aku "


"iya Bel" ku Hela nafas panjang, tangan ku terangkat memijat pelipis yang mulai berdenyut, aku harus kerja lembur lagi untuk mengejar target.


"hahhhh" ok sekarang kerja, singkirkan Fahri dari kepala.


....


Ku lirik jam di tangan, sudah menunjuk pukul 10 malam, sebentar lagi kantor akan tutup, ku bereskan barang - barang ku yang berantakan di atas meja, aku juga belum ada makan, hanya makan siang tadi pagi itupun cuman roti aja, tinggal aku sendiri di dalam ruangan, yang lain sudah pulang lebih dulu, aku bertahan karena memang harus menyelesaikan pekerjaan dengan segera.


"Mbak, sudah selesai? saya juga mau pulang mbak"


"oh iya pak, ini saya beresin barang dulu, sebentar" penjaga kantor itu mengangguk, aku jadi tidak enak dengan beliau, dengan terburu-buru aku bergerak keluar, mungkin karena terburu-buru dan tidak melihat jalan, aku jadi tersandung... tersandung kaki ku sendiri.


"Astaghfirullah, sakit" aku yakin sekarang kaki ku sudah membiru, kaki ku terkilir, rasanya aku ingin berteriak memanggil ibu, tapi aku sadar sekarang aku di kantor bukan di rumah.


"ibu, sakit" lirih ku, aku kesulitan berdiri, jangan kan berdiri, mengegerkan kaki ku saja aku sulit.


"ya Allah, tolong hamba" tidak ada satupun yang bisa aku hubungi untuk meminta tolong, apa yang harus aku lakukan sekarang, menangis juga tidak bisa membantuku, ku rogoh tas ku, sekarang aku benar-benar membutuhkan bantunya, aku berharap ia mengangkat telpon ku.


"aku mohon Fahri, angkat sekali ini aja, aku mohon"

__ADS_1


__ADS_2