
Nesha POV
Selesai juga akhirnya pekerjaan ku hari ini, ku renggangkan otot-otot ku yang kaku, ku lirik jam yang ada di dinding.
"sudah jam 9 malam"monolog ku sembari merapikan barang-barang ku kedalam tas.
"bek, gue duluan ya"
"iya nes, hati-hati"
"Lo juga" aku melambai pada vanesha dan bergegas pulang, aku berharap bisa bertemu dengan Fakhri hari ini.
....
Sesampainya di apartemen, suasana masih sama seperti tadi pagi dan sebelum-sebelumnya, ku dudukkan bokongku di sofa, pelipis yang berdenyut ku pijat menggunakan jari.
"ya Allah Fakhri, kamu kemana sih, kamu sebegitu marahnya sama aku gara-gara kemarin sampai nggak mau pulang lagi, harusnya aku yang marah ke kamu Fakhri" ponsel di tas ku berdering, Panggilan dari nomor telepon asing, ku kerutan kening dan ku abaikan, aku paling malas mengangkat telpon dari nomor asing, beberapa menit kemudian nomor itu kembali menghubungi, deng kesal bercampur lelah ku usap layar di ponsel ku
"assalamualaikum, dengan ibu vanesha"
"Waalaikumsallam, iya benar saya vanesha, vanesha Angela"
"maaf ibu, saya dari pihak kepolisian ingin mengabarkan kalau suami anda mengalami kecelakaan lalu lintas, suami ibu sudah berhasil di evakuasi dan sekarang suami ibu berada di rumah sakit pelita jaya" Ki tutup mulut ku dengan tangan, ponsel yang berada di telinga terhempas jatuh membentur lantai, darah di tubuhku seperti berhenti mengalir di dalam sana, tangan ku bergetar, dengan langkah lunglai, aku bergegas kembali turun ke bawah, aku ingin membuktikan jika ucapan penelpon asing yang mengaku sebagai polisi hanyalah kebohongan belaka, tapi kenapa perasaan ku tidak dapat berhenti berpikir yang tidak-tidak.
"fa--fakhri, nggak mungkin itu bukan Fakhri, suami ku masih di kantornya, Fakhri sibuk makanya tidak pulang" aku berusaha meyakinkan diri jika Fakhri baik-baik saja, sebelum ke rumah sakit aku ke kantir Fakhri dulu, dan keadaan kantor Fakhri sudah sepi, pagarnya pun sudah ditutup, aku kembali memutar arah menuju rumah sakit pelita jaya dengan kecepatan tinggi, perasaan ku semakin kawatir saat ku dapati kantor Fakhri yang sudah tertutup rapat, ku sentuh dada untuk menenangkan diri ku sendiri.
__ADS_1
Ali bergegas menuju ruangan igd karena polisi itu mengatakan suami ku masih di tangani.
terkejutnya aku saat melihat mertua ku sudah ada di sana, dengan seorang lagi perempuan yang duduk di kursi roda, wajah perempuan itu pucat, matanya bengkak, begitu juga dengan mama papa Fakhri.
"mah, pah" aku memanggil mereka.
"Nesha" ibu mertuaku langsung menghampiri dan memeluk ku, wanita itu menangis, ia usap punggung ku.
"mah, ada apa ini, beritanya salah kan, itu bukan Fakhri kan"
"nes... itu Fakri nak, suami mu kecelakaan" kepalaku menggeleng samar, aku benci berita ini, kenapa semua orang mengatakan hal omong kosong seperti itu, Fakhri ku tidak papa, ia hanya sibuk dan belum sempat pulang"
"mamah jangan bercanda, kita di tipu mah, itu bukan Fakhri " ucap ku tegas
"eng--engak eng--engak nggak mungkin, Fakhri nggak mungkin kecelakaan, Fakhri ada ko Bu , dia lagi istirahat aja "
"sayang tenang kan diri mu nak"
"nggak fak---"
"vanesha "
author POV
wanita itu pingsan di pelukan ibu mertuanya.
__ADS_1
....
Keadaan Fakhri kritis, pria itu di masukkan ke ruang ICU, banyak sekali alat yang terpasang di tubuhnya untuk membantunya tetap hidup. sudah dua hari Nesha menunggu suaminya sadar, tak pernah lelah lisannya memanjatkan doa untuk suami tercinta, tanpa ia sadari jika bukan Hanya dia yang berharap dan mendoakan kesembuhan Fakhri sebagai suami, ada wanita pucat yang selalu ada di kursi rodanya, wanita bertubuh kurus yang selalu menatap Nesha dengan sendu, rasa bersalah wanita itu tak bisa ia sembunyikan.
hanya satu orang yang di ijinkan masuk menemui Fakhri di ruangan yang penuh dengan alat.
"Fakhri, kau marah karena aku tidak ikut pulang dengan mu hati itu... hm iya... kamu marah sampai tidak pernah pulang lagi, kamu tau Fakhri... aku begitu merindukan mu, aku rindu suara dingin mu, aku rindu bentakan mu, aku rindu sikap Kasar mu Fakhri, dua bukan kamu pergi tanpa kabar, kamu tau semua itu begitu menyiksaku, Fakhri"
"dan akhirnya aku bisa melihat mu lagi, tapi dengan keadaan kamu yang kaya gini, kamu tau betapa hancurnya aku Fakhri, aku sakit Fakhri, sadar lah ku mohon "
sedangkan di luar, wanita yang bermata sayu itu menyekolahkan air matanya.
"kenapa nak?" tanya Dewi ibunya Fakhri
"Nesha wanita yang baik, tidak seharusnya Fakhri menikah dengan ku dan menyakiti perasaannya, wanita itu begitu tulus untuk Fakhri Bu" Dewi memeluk menantunya.
Fakhri lakukan itu demi kamu nak"
"Bu, Fakhri mencintai Nesha, Raisa tau itu"
"Fakhri mencintai kalian berdua"
"andai Nesha tau mengenai hubungan Raisa dan Fakhri, wanita itu akan terlupakan ibu"
"bukan waktunya untuk membicarakan itu nak, doakan saja suami kalian sembuh"
__ADS_1