
Tumpah sudah air mataku, sekalipun Fahri tidak mengangkat ponselnya, aku harus apa sekarang, sakit sekali rasanya, ku singkap sedikit rok panjang yang ku kenakan.
Tapi aku tidak menyerah, ku coba lagi menghubungi Fakhri, berharap kali ini pria itu akan mengangkatnya,.
Aku sedikit tidak percaya, pasalnya kali ini Fahri mengangkat panggilan ku, tidak menunggu lama ku posisikan ponsel di telinga.
"***--"
"BISA NGGAK SIH JANGAN MENGUSIK KETENANGAN KU, AKU INGIN ISTIRAHAT, MAU BERSENANG-SENANG DI LUAR SANA , SILAHKAN, TAPI JANGAN GANGGU AKU, NGERTI NGGAK SIH KAMU" belum selesai salam yang ku ucapkan, bentakan Fakhri menambah sakit di dada.
"maaf Fahri, aku nggak bermaksud ganggu kamu, aku cuman mau minta to--"
Tiitt!!! panggilan ku di putus sepihak oleh Fakhri, air mata di pipih kini semakin deras.
"ibu" lirih ku
"Ya Allah, sakit" pergelangan kakiku sudah membiru, tidak ada yang bisa kulakukan sekarang selain menangis, dasar cengeng.
"apa aku harus menghubungi Zidan?" Zidan tinggal tidak jauh dari tempat ku bekerja, apa aku harus meminta tolong Zidan.
Suami yang seharusnya menjadi penjaga... bahkan enggan menatap wajah, bagaimana bisa aku menaruh harapan agar ia mau membantu, satpam di depan juga tidak mungkin mendengar teriakan ku, aku masih di lantai atas, sedangkan beliau ada di bawah.
Ku tarik nafas sejenak sebelum menekan nomor Zidan yang sudah sejak tadi ku tatap, mungkin Zidan Belum tidur, panggilan ku langsung ia angkat.
"Waalaikumsallam, Nes. kenapa... tumben malam gini nelpon"
"eh, a--aku..." aku ragu, kenapa aku jadi sungkan padanya.
"kenapa nes, ngomong aja"
"aku boleh minta tolong?"
"kenapa nggak, ngomong aja Nes"
"em... kamu bisa jemput aku di kantor nggak, aku tadi jatuh, kaki ku terkilir, sebentar lagi kantor tutup, aku nggak bisa nelpon Fahri, kaki ku bengkak... sakit banget"
__ADS_1
"Aku ke sana sekarang"
tiitt!!!! Ku tatap layar ponsel milik ku, kenapa orang lain lebih bisa ku andalkan dari pada suami ku sendiri, aku menengadah menahan air mata agar tidak keluar lagi, sakit sekali rasanya.
"Nesha" aku menunggu sekitar 10 menit, entah seberapa cepat pria itu mengendarai mobilnya, wajah paniknya terlihat begitu jelas, ia langsung duduk di depan kaki ku yang ber selonjor.
"Nes, kenapa bisa?"
"aku buru-buru, jadi nggak liat jalan, sakit banget dan" ku tahan tangan Zidan yang ingin menyingkap sedikit rok ku, aku tau pria itu hanya ingin melihat nya, tapi rasanya tidak pantas, aku juga tau batasan sebagai seorang muslimah.
"ma--maf, aku cuman..." aku sendiri yang membukakan untuk nya, matanya terbelalak melihat pergelangan kakiku yang sudah biru dan membengkak.
"Ya Allah Nes, kaki mu"
"sakit" keluh ku "
"kita harus cepat bawa ke rumah sakit, takutnya ada hal serius, Nes" aku mengangguk
"Nes, aku harus gendong kamu, nggak mungkin kamu jalan sendiri dengan kaki kaya gini " sangat amat tidak mungkin malahan, tidak ada pilihan lain selain membiarkan Zidan menggendongku, aku mengangguk mengiyakan ucapan Zidan.
Di dalam hati aku terus beristigfar memohon ampun pada tuhan, aku tau apa yang kami lakukan salah, tidak seharusnya aku meminta tolong pada Zidan, kami bukan mahram, tapi di sisi lain aku membutuhkan bantunya, bisa bisa aku pingsan menahan sakit seorang diri, aku juga sudah menghubungi teman -teman kantor ku, tapi tak ada satupun yang merespon panggilan ku, mungkin mereka semua Sudah beristirahat, pada akhirnya Zidan lah pilihan terakhir untuk ku mintai tolong.
"Ya Allah maaf kan hamba" lirih ku di dalam hati, kini aku sudah berada di atas gendongan Zidan, ku palingkan wajah tidak ingin menatap wajah nya.
ta--tapi tunggu dulu, Fahri? siluet seorang pria kini terlihat jelas di hadapan, benar... itu Fakhri, nafasnya bahkan masih terlihat terengah-engah.
"Fah--"
"Biar saya yang gendong" aku kesulitan mencerna apa yang terjadi, kini tubuhku sudah berpindah di gendongan Fahri. Ku tatap wajahnya dari bawah, peluh masih ada di wajah pria itu, apa pria itu datang menjemput ku, argghhh... aku benar - benar tidak bisa mencerna apapun. Semua terjadi tiba-tiba, Fakhri datang di saat aku berada di gendongan pria lain, hanya itu yang ada di kepala ku sekarang.
"Pak, tunggu, kami masih di dalam" teriak Zidan mencoba menghentikan satpam yang ingin menutup gerbang, tapi sayang... semuanya terlambat, kami bertiga kini terjebak di dalam.
"kita kembali ke kantor kamu"
"i--iya" jawab ku dengan perasaan yang masih gugup.
__ADS_1
Fahri menurunkan ku di salah satu kursi tunggu, ia duduk berjongkok, di bukanya sedikit rok ku
"AW, sakit Fahri" keluh ku saat tangan Fakhri tanpa sengaja menyentuh bagian yang bengkak, ia mendongak menatap ku.
"sakit" ucap ku
"kakinya perlu di kompres" Zidan memberi saran, tidak ada yang bisa dilakukan, selain memberikan kompres.
"di mana dapurnya Nes" kali ini Fahri yang berucap
" ada di samping ruang percetakan, terus aja dari sini, tee halang 5 ruangan, terus belok kiri" jelas ku, semoga ia mengerti.
"kamu tunggu di sini, aku ambilkan air dulu" baru Fakhri ingin berdiri, tapi zidan langsung menahan.
"saya aja, anda di sini aja jagain Nesha, nggak mungkin saya yang jagain dia, kan?" sejenak Fahri berpikir, kemudian ia mengangguk.
keadaan menjadi canggung sepeninggal Zidan, berkali kali aku membuang pandang saat tak sengaja beradu tatap dengannya, ia tidak mengatakan sepatah katapun, wajahnya begitu datar, ia juga terus menatap pergelangan kaki ku.
"fa--fahhri" ia mendongak dengan wajah datarnya.
"kamu ko bisa ke sini?" ku beranikan untuk bertanya, sejak tadi hal itu terus saja menganggu kepala ku.
"kenapa masih di kantor, bukannya pulang tepat waktu" aku menghela nafas, aku bertanya dan ingin mendapatkan Jawaban bukannya mendapat pertanyaan lagi, menyebalkan.
"aku lembur ada pekerjaan yang harus selesai minggu ini" jawab ku kemudian.
"Kenapa nggak bilang kalo hari ini kamu lembur?" ia bertanya dengan kepala yang kembali menunduk, bingung... jelas aku bingung, pertanyaan yang ia sendiri tau jawabannya.
"sejak kapan kamu mau tau tentang aku?" entahlah mendapatkan pertanyaan seperti itu, kembali membuat mataku kembali menganak sungai, ia tidak menjawab, sekaan menghindar, tangannya mengelus bagian betis ku.
Dengan cepat ku hapus air mata di pipi, Zidan datang dengan membawa baskom berisikan air juga handuk. Pria itu duduk berjongkok juga di samping Fahri, ia ingin mengompres pergelangan kaki ku, tapi Fahri dengan kasar merebut kain yang sudah Zidan peras.
"dia istri saya, biar saya yang lakukan" ku lihat Zidan hanya mengangguk dan berdiri
"maaf" gerakan bibir ku bisa di mengerti Zidan, pria itu mengangguk dengan senyuman.
__ADS_1
"AW Fakhri pelan-pelan, sakit"