
Malam ini turun hujan lebat, petir juga menyambar silih berganti, udara malam yang dingin kini terasa menusuk kulit, selimut tebal yang ku kenakan seperti tidak berfungsi lagi. Hanya ada lampu tidur sebagai cahaya penerang kamar. Ku gesek-gesekan telapak kakiku mencari kehangatan. Sebenarnya aku sudah terlelap tadi, cuman aku terjaga lagi, karena suara petir, sekeras apapun aku mencoba tidur, tetap sulit, mataku enggan untuk menutup lagi.
Ini yang aku tidak suka, mati lampu membuat suasana nya semakin mencekam, entah kenapa aku merasa sesak saat tidak melihat adanya setitik cahaya dalam kegelapan. Sejak kecil aku seperti kehabisan nafas, atau terhimpit di tempat yang sesak saat mati lampu, biasanya aku langsung berlari ke kamar ayah dan ibu atau mereka langsung datang ke kamar ku karena mereka tau anaknya takut kegelapan. Seperti sekarang... aku sedang mencari ponsel milik ku, biasanya ku letakkan di atas lemari, tapi dimana ponsel itu sekarang.
"Ibuu, tolong" aku tanpa sengaja menyenggol pajangan saat mencari penerang, bukan hanya itu, telapak kaki ku kini terasa perih, aku menginjak beling yang berhamburan di lantai. Dengan menahan sakit di telapak kaki... aku berjalan tertatih menuju balkon, tidak peduli dengan cuaca yang dingin, aku sesak, seperti orang kehabisan nafas. Ku atur lagi pernapasan yang sempat tidak normal, bersandar di pagar balkon dengan percikan hujan mengenai tepat ke wajah ku.
Fahri POV
Di mana aku meletakkan senter itu, gerutuku karena sejak tadi tidak menemukan apapun untuk penerangan, belum lagi kini ponsel ku hampir habis daya nya, sudah menjadi kebiasaan ku, aku tidak pernah mengisi daya ponselku saat malam. Biasanya aku lakukan saat bangun di pagi hari. Ku acak rambut prustasi, dengan berpegangan pada dinding, aku keluar kamar, mencari senter yang lain, tapi tetap saja aku tidak menemukan apapun, baiklah, aku akan meminjam senter milik Nesha.
Berulang kali aku memanggil, wanita itu tidak menyahut sama sekali, apa ia sebegitu terlelap nya hingga tidak mendengar lagi setiap panggilan ku, dan untungnya kamar Nesha tidak terkunci, ku buka perlahan pintu kamar Nesha, sama gelapnya dengan kamar ku, tapi jendela balkon kamarnya terbuka, dan aku tidak menemukan Nesha di kasurnya.
"Nesha!"
"Nes"
"Vanesha, kamu di mana, aku pinjam senter sebentar" Kemana perginya wanita itu, apa dia keluyuran semalam ini, atau bertemu pria putih pucat itu lagi, kamar mandinya juga kosong, tapi kasurnya berantakan, tanpa sengaja, ponselku mengarah pada pecahan pajangan di samping tempat tidurnya. Perasaan ku bercampur aduk, aku panik, di tambah bercak darah mengarah pada balkon.
"Nesha!!" aku melihat wanita itu meringkuk seperti anak kecil di balkon kamar nya, ku samakan duduk ku di depan nya,
"kamu kenapa, Nes?" Nesha tidak memberikan respon, wanita itu menggigil, aku semakin kawatir di buatnya.
"Nesha!!" berkali-kali ku guncang pundaknya, tapi wanita itu tetap diam. Sebelumnya masih terdengar keluhan, tapi sekarang... wanita itu pingsan. Ku angkat tubuhnya yang basah terkena percikan air hujan, ku acak rambut ku, bajunya basah sedangkan ia pingsan, aku harus meminta tolong pada siapa, mau tidak mau aku mengetuk salah satu tetangga apartemen ku, seorang wanita seumuran dengan ibuku.
"Maaf merepotkan ibu"
__ADS_1
"nggak papa, RI. tapi kaki Nesha terluka, ibu nggak bisa obati, mati lampu nak"
"iya buk, biar saya aja yang kasih obat, makasih banyak yaa Bu"
"iyaa, ibu masuk dulu yaa"
Ku pastikan dulu ibu baik hati itu masuk, baru setelahnya aku masuk juga ke dalam apartemen ku, aku bisa bernafas lega, Nesha sudha berganti pakaian dengan baju yang lebih nyaman, sekarang tinggal luka di kakinya. Luka di kaki Nesha cukup parah, banyak beling kecil yang menancap di kakinya, kotak p 3k sudah ada, untungnya lampu lebih cepat menyala, bukan mati lampu sebenarnya, Hanya ada gangguan di hunian kami.
Aku duduk di bawah kakinya, benak ku bertanya-tanya ada apa sebenarnya, sampai wanita ini terluka.
Dengan telaten ku cabuti beling yang menancap di kulit kakinya, setelah memastikan tidak ada lagi baru ku obati lukanya, pasti besok wanita ini kesulitan berjalan. Terlalu banyak luka kecil yang menggores telapak kaki Nesha. Malam semakin larut aku juga ingin kembali tidur, belum lagi tubuh ku sepenuhnya keluar dari kamar Nesha, wanita itu sudah mengigau memanggil orang tuanya
"ibu, Nesha sesak, Nesha nggak bisa nafas"
"ibu, tolong"
"hus, tenang lah. Sekarang kamu aman, ada aku di sini "
"ibu, Nesha nggak bisa nafas bu, Nesha sesak " wanita itu terus saja memanggil orang tuanya, bahkan pipinya sekarang basah karena air mata, ada apa sebenarnya sampai ia seperti ini, aku tidak mengerti sedikitpun dengan keadaannya, perlahan suara isakan Nesha tidak lagi terdengar, wanita ini sudah lebih tenang, aku masih memeluknya, perlahan ku longgarkan pelukan ku, ku tatap wajahnya yang sedikit tertutupi dengan rambut lepek karena lelehan keringat.
"kamu kenapa Nes, Hem?" Ku rapikan rambu nya ke belakang telinga, hingga aku bisa melihat dengan jelas wajah teduh Nesha sedekat ini.
"kamu sampai terluka " ku hapus dengan lembut air mata yang masih tersisa, belum lagi keringat nya.
"Kamu takut gelap? atau petir?" Aku bergumam sendiri, Nesha tertidur dengan pulas. Suara petir masih menyambar silih berganti, entah kapan aku juga mulai kehilangan kesadaran.
__ADS_1
....
Nesha POV
Aku terbangun mendengar suara dari masjid seberang, rasa perih karena terinjak pecahan kaca tadi malam baru lah ku rasakan, aku baru sadar jika tangan ku memeluk sesuatu yang lebih besar dari guling biasanya, ku hidupkan lampu , dan ternyata aku baru sadar Jika aku memeluk Fahri.
"kenapa Fahri tidur di sini" ku tatapi punggungnya yang tidur membelakangi ku
Aku ingat, tadi Malam ia masuk ke dalam kamar ku mencari senter, aku juga ingat jika Fahri duduk di depan ku sesaat sebelum pingsan, eh tunggu dulu! apa ini? perasaan tadi malam aku tidak menggunakan piyama ini, aku masih ingat betul tadi malam aku menggunakan piyama berwarna navy, lalu ini, apa? Mataku membola tidak percaya, ku geleng-geleng kan Kepala mencoba menepis pikiran kotorku.
"nggak, nggak mungkin lah" aku masih mencoba berpikir positif, tidak mungkin Fahri yang menggantikan pakaian ku.
Fahri terusik dari tidurnya, tidak sedikit pun ku alihkan pandangan dari setiap gerak geriknya, Fahri duduk, karena memang sudah waktunya subuh, refleks ku silangkan tangan di depan dada karena pria itu berubah posisi menghadap kum
"kamu kenapa?" Fahri bertanya, mungkin ia melihat raut wajah ku yang mencurigai nya, aku menggeleng
"kamu yang ganti baju ku?"
"iya" jawab nya dengan enteng, tanpa rasa bersalah, aku kesal apalagi wajahnya yang begitu menyebalkan saat mengiyakan pertanyaan ku, lengannya tidak lepas dari pukulan ku
"kamu kenapa sih, Nes. sakit tau"
"Siapa yang sudah ngasih ijin kamu buat gantiin baju ku" maki ku dengan suara tertahan
Fahri malah acuh, ia turun dari tempat tidur
__ADS_1
"Fahri!!"