
Fakhri POV
Aku begitu meng kuatirkan Nesha yang saat itu belum pulang juga, aku menunggunya di ruang tamu, sesekali aku membuka pintu memastikan Nesha sudah pulang, tapi sampai jam 10 malam wanita itu belum juga pulang, rasa khawatir ku berubah menjadi emosi, ku raup wajah kasar dan berusaha tidak peduli dengan nya, untuk apa aku mengkuatirkan wanita seperti Nesha, membuang waktu ku saja.
Panggilan masuk dari Nesha ku putus, aku tidak mengangkat panggilan nya, dan ternyata ada sekitar 10 panggilan tidak terjawab dari Nesha, logika dan perasaan ku bertarung di dalam sana, aku bingung apa aku harus menghubungi nya atau mengabaikan panggilan nya, tapi tidak lama Nesha kembali menelpon, aku tidak berucap apapun, ku biarkan ia bicara, dengan suara lirih ia meminta tolong, tapi emosi yang sejak tadi ku tahan justru meledak, aku membentak nya dan memutuskan panggilan.
Aku kira aku bisa tenang, tapi nyatanya... aku semakin memikirkan wanita itu, belum lagi suaranya saat menelpon tadi, seperti seseorang yang sedang kesakitan, ku raih jaket yang bergantung, dan berlari menuju parkiran.
Perasaan ku semakin tidak enak, semoga Nesha baik-baik saja.
Rasanya aku ingin menghabisi pria yang sekarang menggendong Nesha, tangan ku terkepal menahan emosi, ku ambil alih tubuh Nesha dari gendongan pria itu.
Nesha POV
Terpaksa kami bertiga menginap di kantor, tidak ada pilihan lain juga, aku kesulitan tidur karena lapar, Zidan sudah tidur di kursi tunggu, Fakhri di lantai dengan punggung yang ia sandarkan, sedangkan aku duduk di kursi tunggu juga, tapi kursi tunggu yang berbeda dengan Zidan.
"Lapar benget, di dapur kayanya ada roti yang bisa aku makan" meski sulit aku tetap berusaha berjalan ke dapur.
"mau kemana kamu" suara Fahri sungguh mengagetkan ku.
"Fahri, kamu belum tidur?"
"mau kemana? aku tanya"
"mau ke dapur cari sesuatu, aku lapar banget, belum sempat makan" Fahri berdengus kesal, ia berdiri, menuntun ku untuk kembali duduk.
"duduk di sini, biar aku yang cari, kamu pincang gitu, emang bisa jalan"
"maaf Fahri, sudah merepotkan"
Sudah sekitar 10 menit Fahri pergi, tapi pria itu belum kembali juga, apa dia tidak menemukan dapur nya, kepalaku mulai pening, sepertinya mag ku kambuh, aku Benar-benar perempuan lemah, ada aja yang di keluhkan.
"Nesha, kamu nggak papa" aku menoleh, Zidan sudah duduk di kursi.
"kepala ku pusing banget, Zi" aku tidak mengira Zidan akan berpindah duduk di samping ku, ia memijat pelan kepala ku yang berdenyut.
"nggak usah Zi" aku mencoba menyingkirkan tangan nya, tidak pantas rasanya, Zidan juga sepertinya merasa bersalah, aku tau Zidan tidak bermaksud.
"maaf, aku nggak maksud, aku cuman mau ba--"
"bisa nggak sih, jangan sentuh istri orang, punya tangan ko enteng banget, nyentuh nyentuh istri orang" aku tidak menyangka Fahri melihat Zidan saat memijat kepala ku, wajahnya memang datar, tapi ucapannya begitu tajam.
"maaf, saya....." Zidan tidak bisa melanjutkan ucapannya kala Fahri menarik pergelangan tangan ku dengan kasar.
"AW , Fahri sakit" aku tidak berbohong, Fahri tidak main-main dengan perbuatannya, pergelangan kaki ku terasa ngilu karena di paksa berjalan dengan begitu kasar.
__ADS_1
"anda apa-apaan sih" Zidan mendorong bahu Fahri cukup kuat
"saya bisa terima sikap Kasar anda ke saya, tapi saya tidak akan pernah tinggal diam saja saat anda sudah mulai bermain kasar dengan nya" Zidan menunjuk ku, ia tuntun kembali aku untuk duduk di kursi, aku masih meringis, sakit sekali rasanya pergelangan kaki ku.
Zidan berjongkok di depan ku.
"sakit benget ?" aku mengangguk
"minggir" lagi, Fahri lagi-lagi bertingkah, ia mendorong Zidan, seakan tidak terima dengan perhatian pria itu padaku.
"SAYA SUDAH KATAKAN, JANGAN SENTUH ISTRI SAYA" ku tutup mulut ku saat Fahri melayangkan pukulan di wajah Zidan.
"FAHRI, STOP" teriakan ku di abaikan keduanya, tidak terima dengan ulah Fahri, Zidan membalas memberikan pukulan pada wajah Fahri.
"ZIDAAAAN , jangan, setiap!!" ke-duanya mengabaikan ku, Zidan mencengkram kuat kerah baju Fahri.
"saya sudah katakan, saya bisa terima setia sikap kasar anda, tapi saya tidak bisa tinggal diam saat di depan mata saya sendiri, anda berani menyakiti NESHA!"
"Bukan urusan anda, BRENGSEK!!" tubuh Zidan terhempas hingga membentur kursi, aku sigap berdiri saat kembali Fahri ingin melayangkan pukulan nya pada Zidan.
"Fahri stop... "
BUGH!!!
"NESHA" mataku mulai berkunang-kunang, perlahan aku tidak bisa melihat apapun lagi , setelah itu aku tidak tau lagi, rasa perih di pipi lirik kini menjalar, hanya teriakan Zidan yang bisa ku dengar, sedangkan Fahri perlahan menghitam di pandangan.
"apa yang sudah aku lakukan"
Fakhri POV
Tubuh ku kaku, aku tidak bisa menggerakkan kaki untuk melangkah, pukulan yang harusnya ku layangkan di wajah Zidan justru meleset mengenai istri ku sendiri.
"Nesha" aku ingin menyentuh pipinya
"tapi Zidan dengan mata tajamnya, menyingkirkan tangan ku"
"jangan sentuh dia, BRENGSEK!!" sentak Zidan
"Nesha"
"Nesha "
"Nes"
"Nes, kenapa jadi melamun, di makan, katanya lapar"
__ADS_1
"i--iya"
Nesha POV
Astaga... apa yang aku pikirkan, bisa-bisanya aku membayangkan hal gila itu, mungkin karena terlalu banyak menghayal saat membuat novel terbawa hingga di kehidupan nyata.
Fahri datang dengan membawa roti bungkus dan air putih, bukannya memakan roti itu, aku justru melamun.
"makasih Fahri "
"hem"
"mikirin apa, kenapa jadi melamun"
"eng--engak ada ko"
"duduk agak kebelakang, Nes"
"hah" aku bingung dengan permintaannya
"kamu mundur dikit duduknya"
"oh, i--iya" baiklah, Fahri memintaku menjauh darinya, aku di suruh duduk di paling pinggir, tega banget, ku makan roti rasa coklat pemberian Fahri, aku enggan menatap nya, tapi tiba-tiba aku merasa Fahri menyentuh kaki ku"
"masih sakit?" tanya Fakhri mendongak menatap ku
"i--iya, Fahri!!" Fahri mengangkat kaki ku, ia letakkan di atas pahanya, aku merasa tidak nyaman sekarang, ingin kutarik, bisa-bisa aku menangis kesakitan.
"sampai biru bengkak gini, makanya kalo jalan hati-hati " Fahri mengomel ia mengusap-usap betis ku, apa yang ia lakukan membuat ku nyaman, rasa sakitnya jadi berkurang.
"tadi aku buru-buru, soalnya kantor sudah mau tutup, tapi justru aku celaka"
"besok kita kerumah sakit untuk periksa, takutnya ada hal serius di kaki kamu" aku hanya mengangguk dengan terus mengunyah roti di tangan.
"sudah habiskan roti mu, setelah itu tidur "
"iya"
Fakhri POV
Ku pandangi terus wajah kecilnya, Nesha tertidur dengan menyenderkan kepalanya di dinding. Pasti tidak nyaman tidur dengan posisi seperti itu, ku gendong tubuhnya untuk tidur di lantai, ku lepas jaket untuk menutupi tubuhnya, dan ku letakkan kepalanya di pahaku, tangan ku yang ada di atas kepalanya tidak tinggal diam, aku terus mengusap usap kepalanya yang tertutup hijab.
"bandel sih, jadi sakit kan"
Perlahan aku juga ikut menutup mata, semoga pagi cepat datang, aku ingin segera membawa Nesha ke rumah sakit, aku takut terjadi hal yang serius pada kaki istri ku.
__ADS_1
semoga saja tidak serius.