Aku Istrimu Bukan Patung

Aku Istrimu Bukan Patung
Mual


__ADS_3

"Sha, kamu kenapa?" Vanesha menepis tangan ku di pundaknya, ia berusaha berdiri meskipun kesulitan, aku ingin membantu, tapi lagi-lagi Nesha menepis tanganku.


"lepas" ia membuka pintu mobil, aku pikir Nesha masuk, ternyata Nesha hanya mengambil tasnya, ia tutup kembali pintu mobil dan pergi.


"Nesha" ku tahan pergelangan tangannya.


"mau kamu apa sih, Fahri" suaranya begitu pelan, aku bisa melihat kelelahan di balik mata teduhnya.


"Aku mau pulang, lepas!" tidak ku lepas cengkraman ku di pergelangan tangan nya, meskipun ia sudah memberontak.


"masuk mobil kita pulang" ku tarik tangannya untuk masuk ke dalam mobil, dan itu membuatnya semakin memberontak.


"lepas! lepas! kalo kamu nggak lepasin tangan ku, aku teriak Fahri?" ancamannya tidak membuat ku gentar, aku kira ia hanya mengancam tapi nyatanya, Vanesha sungguh berteriak.


"TOLONG, TOLOONG" Sontak saja ku lepas tangan nya, mungkin pergelangan nya sakit karena aku cukup kuat mencengkram nya.


"kamu apa - apa an sih, Nes"


"kamu yang apa-apaan, aku nggak mau berdebat, aku mau pulang"


"jangan kekanak-kanakan Vanesha, kita pulang sekarang"


"ARGGGHHHH, apa sih mau mu, kamu sudah ninggalin aku, kenapa balik lagi, aku nggak butuh tumpangan, aku bisa pulang sendiri"


"dasar kepala batu" muak jika terus berdebat dengannya, aku kembali masuk ke dalam mobil, sedangkan Nesha pulang sendiri.


Dari dalam mobil ku lihat Nesha kesulitan berjalan akibat bengkak di kakinya, ia juga memegangi perutnya.


Kembali lagi aku keluar, ku gendong paksa Nesha, meskipun ia terus minta untuk di turunkan.


"TURUNIN AKU NATHAN, AKU NGGAK MAU PULANG SAMA KAMU" aku berhasil membuat nya masuk ke dalam mobil, walaupun lengan ku harus jadi pelapisannya.


"Turunin aku, turunin aku Nat" suara Nesha bergetar, wanita itu menangis dengan wajah yang ia tutup dengan telapak tangan, ku jalankan mobil dan mengabaikan tangisannya.


"turunin aku, turunin"


"Diam lah Nesha"

__ADS_1


"TURUN"


"DIAM" habis sudah kesabaran ku, dengan emosi yang sudah memuncak ku berhentikan mobil di pinggir jalan, langsung saja Nesha turun dari mobil meskipun tertatih, aku tidak menghalangi itu keinginannya, ku lajukan lagi mobil meninggal wanita keras kepala itu.


Nesha POV


Sakit sekali rasanya dengan perlakuan Fahri, Fahri sungguh kembali meninggalkan aku di jalan sendiri, apa sebenarnya yang aku harapkan? sampai kapan pun Fahri tidak akan pernah bisa menerima ku sebagai istrinya, semua perlakuan nya tadi malam hanyalah setingan belaka.


"aku benci kamu Fahri, aku BENCI " tangisan Ku pecah, rasa sakit di pergelangan kaki tidak ada apa-apanya di bandingkan sakit di hati karena Fahri


....


Akhirnya aku sampai juga di apartemen milik Fahri, keadaan apartemen sepi, mungkin Fahri sudah berangkat ke kantornya. Tidak ada yang bisa kulakukan sekarang, aku memilih mengistirahatkan diri.


Kaki ku bengkak, rasanya nyeri sekali, baru saja aku membersihkan diri, rambut ku masih basah juga, tiba-tiba pintu kamar ku di buka eseorang, ku lihat Fahri di sana, aku memilih membaringkan tubuh ku, malas sekali melihat wajahnya yang arogan itu


"bersiaplah, kamu harus berobat" apa apan, datang-datang langsung minta siap-siap, ku abaikan ucapannya.


"Nesha kau tuli, bersiaplah, kaki mu butuh pengobatan" selimut yang tadi hanya sebatas pinggang, ku tarik hingga menutupi seluruh tubuh ku.


ku dengar jelas tapak kaki pria itu yang semakin dekat, sungguh aku kaget saat tubuh ku sudah melayang, pria itu menggendong ku


"FAKHRI TURUN KAN AKU, AKU TIDAK MEMAKAI KERUDUNG FAKHRI " mendengar teriakanku barulah Fahri menurunkan pandangannya, pria itu berdecak kesal, bukannya menurunkan ku, Fahri justru kembali masuk ke dalam kamar hanya untuk mengambil kerudung ku.


Aku pasrah, itu lah yang lebih baik, karena sekarang memang itu yang aku butuhkan.


.....


Setelah bertemu dokter, aku di berikan obat dan oergel kaki ku juga di Ronsen, tidak ada hal yang serius. Kini aku sudah kemba duduk di samping Fakhri, pria itu tidak sama sekali memalingkan wajahnya.


"mau makan apa? kita mampir dulu" aku tidak katakan apapun dan hanya diam, aku menutup kedua mataku enggak menanggapi ucapannya.


"Vanesha Angela, apa kau tuli"


"Aku ingin pulang Fahri, aku tidak ingin membeli apapun" sepertinya aku sudah jelas katakan padanya tidak ingin membeli apapun, tapi pria itu justru memberhentikan mobilnya di salah satu warung makan ya g terlihat ramai akan pelanggan.


"tunggu di sini, aku beli nasi p

__ADS_1


Padang untuk kita" dengan segara ia turun dari mobil meninggalkan aku, aku melirik dia yang mulai masuk kedalam warung. Aku benar-benar tidak mengerti dengan sikapnya yang sering saja tidak bisa ku tebak, kadang dia perhatian, kadang dia menyebalkan, dia itu suka sekali mempermainkan perasaanku, apa dia tau kalau aku mencintainya, jadi dia bisa seenak itu.


Aku bosan menunggunya di dalam mobil, aku putuskan untuk turun menghampirinya, terlalu banyak antrian.


"Masih lama" sepertinya Fahri sedikit terkejut dengan suara yang tiba-tiba terdengar.


"ngapain turun sih, nggak liat tu kaki bengkak" Fahri menunjuk kakiku dengan matanya.


"hanya terkilir, bukan patah" jawab ku.


"dasar keras kepala" di berdiri dan tiba-tiba saja menjadi pelan pergelangan tangan ku.


"duduk" aku menurut, Karena jujur saja, pergelangan kaki ku masih sakit.


"Astaghfirullah" Aku memekik saat seorang anak yang berlarian di dalam warung menabrak Ku. langsung saja Fahri yang berdiri di samping ku menahan tubuhku agar tidak terjatuh.


"maaf ka" ucap anak kecil itu merasa bersalah. Aku bisa lihat wajah bersalah dari anak kecil itu, ia juga ketakutan dan menunduk dalam. Aku menyentuh tangannya.


"nggak papa, Kaka nggak papa ko"


"sudah sana"


"nggak papa apanya, kamu hampir melempar gara-gara anak kecil yang badan jauh lebih besar dari pada kamu" Fahri berucap tanpa mau memalingkan wajahnya dari kesibukan ibu pedagang yang sibuk melayani pelanggannya.


"Kenapa? kamu kawatir aku jatuh?" aku menyunggingkan senyum menggodanya, tangan ku masih menarik-narik ujung baju kaos yang ia kenakan.


Fahri berdecak kesal dan berucap "jangan kepedean" ucapnya ketus, dasar pria es tidak punya hati.


...


"Makan, setelah itu minum obat mu dan istirahat"


Porsi satu bungkus nasi padang begitu banyak, aku tidak sanggup menghabiskan semunya sendiri.


"kenapa? habiskan " aku menggeleng seraya meneguk air mineral.


"aku sudah kenyang, nggak sanggup aku menghabiskan sendiri"

__ADS_1


"pantas saja badan kecil kaya gitu, di suruh makan aja susah banget" omelnya


__ADS_2