
Kehidupan Nesha dan Fahri kembali seperti semula, hambar. Semua berjalan seperti semestinya, tapi ada perubahan dari perilaku Fahri, pria itu mulai memakan masakan yang di buat nesha, seperti sekarang, mereka sedang menikmati sarapan bersama. Awalnya hening kemudian Fahri membuka obrolan lebih dulu.
"Kamu ada kegiatan akhir pekan nanti" tanya fahri
"Emm, tidak ada" jawab Nesha sembari menyodorkan piring berisi buah pada suaminya.
"Mau jalan jalan bersama?"
"Jalan-jalan, kamu nggak salah, kamu ngajak aku jalan?" wajah Nesha terlihat kebingungan dengan ajakan Fahri, seperti biasa, pria itu mengucapkannya secara tiba tiba.
"Kamu pasti bosan kan berdiam diri terus di rumah"
"Aku sudah biasa dengan kesendirian, aku juga sudah nyaman"
Fahri menatap intens wajah Nesha, Nesha tidak salah jika dia bilang kesendirian, mereka memang suami istri tapi mereka terlihat asing satu sama lain. Hanya Nesha yang menganggap hadirnya Fahri, sedangkan Fahri menganggap Nesha seperti patung yang di beri nyawa, tidak mau tau apapun yang di lakukan Nesha. Jadi, jangan salahkan Nesha jika dia merasa hidup seorang diri di rumah. Kedengaran miris bukan.
"Mau ke toko buku? "tanya fahri lagi
"Emm, boleh, aku juga ingin membeli beberapa buku untuk referensi, sebenarnya jika sudah menyangkut toko buku, Nesha tidak bisa menolak.
"Ok kita akan pergi besok" Fahri tersenyum manis, tidak menampakkan jejeran gigi putih nya, dan di Balas pula Dengan senyum manis Nesha.
Selesai sarapan, mereka berangkat bekerja, sebelum pergi, Fahri mengajak Nesha untuk makan siang bersama. Dan di sinilah mereka sekarang, di restoran yang biasa di datangi Nesha saat makan siang.
Mereka yang sedang asik menikmati makan siang, tiba-tiba fokus mereka teralihkan ke suara yang memanggil Nesha.
"Nesha!"
"heyy, Zidan, kenapa kita selalu bertemu di restoran, apa jangan-jangan kamu mengikuti aku, ya?"
"sembarangan, bukannya kamu yang selalu mengikuti aku" jawab Zidan sambil terkekeh
Mereka yang sedang asik mengobrol, tidak sadar jika ada seorang pria yang sejak tadi memperhatikan keduanya, dengan tatapan tidak suka.
"Ekhem" akhirnya Fahri berdehem mengingat kan Nesha jika dia masih ada di sana.
__ADS_1
"Ah, Zidan, perkenalkan ini suami ku , Fahri "
"Zidan" Zidan menjulurkan tangannya sembari menyunggingkan senyum manis andalannya.
Tapi bukannya menerima uluran tangan Zidan, Fahri justru pergi meninggalkan mereka berdua, alasannya dia harus segera kembali ke kantor.
"Nesha, suamimu kenapa, kelihatannya suami mu tidak menyukai ku" tanya Zidan heran.
"Entahlah, aku juga kadang dibuat bingung dengan sikapnya"
"Ngomong-ngomong, suami aku lumayan juga, kamu pasti betah berlama lama di rumah" ucap Zidan meledek.
Betah kau bilang, andai kamu tau seberapa rumit rumah tangga Ku. Ku pasti kan, kalau kau menganggap aku adalah wanita paling malang di dunia, batin Nesha.
"aku dan dia sama- sama kerja, kami bertemu saat pulang dan pergi kerja aja"
"Begitukah, sepertinya aku tidak asing dengan wajah suami mu, Nes"
"mungkin karena suami ku populer di kalangan pebisnis" Nesha sedikit menyombongkan Fahri di hadapan Zidan.
"sudah, jangan bahas Fahri terus"
"lebih baik antar aku kembali ke kantor"
"kamu nggak bawa mobil"
"kalo aku bawa, aku nggak bakal minta kamu ngantar aku ke kantor, Zidan. Aku Ke sini bareng Fahri, dia jemput aku di kantor, dan sekarang kamu liat sendiri kan, Fahri malah ninggalin aku"
"ok, ok, tapi nanti yaa, aku mau minum kopi, temenin aku, kita sambil ngobrol juga"
"Em" jawab Nesha
Setelah semua kesibukan nya di kantor selesai, Nesha pulang ke rumah, keadaan rumah masih sama saat di tinggal tadi pagi. Hanya saja lampu yang mati meninggalkan kesan horor.
Nesha POV.
__ADS_1
Fahri juga belum pulang, sepertinya.... tapi lagi-lagi aku di buat kaget karena pria itu tiba-tiba sudah berdiri saja di depan ku.
"Fahri, kenapa sih kamu suka banget buat aku kaget, setidaknya, hidupkan lampu, jangan kaya gini, ak--"
"DIAM!" sumpah demi apapun, Fahri kembali membuat ku hampir terkena serangan jantung, sepertinya itu sudah jadi hobinya.
"kamu kenapa sih, teriak-teriak, nggak jelas banget jadi orang" aku ingin pergi menjauh, seperti biasa aku malas berdebat, tapi si Fahri lebih dulu menahan pergelangan tangan ku, ku hentakkan tangan ku, hingga genggaman tangan nya terlepas
"sakit!" adu ku, tatapan nya menyorot tajam.
"Dari mana aja kamu"
"kerja, emang dari mana lagi menurut kamu"
"PEMBOHONG!" aku sampai memejamkan mata karena kembali mendapatkan bentakan nya.
"kamu kenapa sih, aku punya salah apa lagi, sampai kamu Semarah ini, katakan!"
Fahri tidak menjawab, ia justru perlahan maju, membuat ku mundur, tangan ku reflek menahan dadanya saat tubuh ku sudah tidak dapat lagi bergerak.
"mau apa kamu, Fahri"
"jujur Vanesha, katakan sejujurnya, dari mana kamu"
"aku dari kantor, aku lelah ingin istirahat "
"KATAKAN DENGAN JUJUR, AKU MAU MENDENGAR KEJUJURAN MU, VANESHA ANGELA"
"BERHENTI BERTERIAK FAHRI!, BERHENTI, AKU SUDAH KATAKAN, AKU BARU PULANG BEKERJA, PEKERJAAN KU BANYAK, AKU LELAH, APA KAMU TIDAK MENGERTI JUGA" Ku tatap wajahnya yang sudah merah padam dengan berani, aku lelah terus mendengar bentakannya. Aku tau, apa yang baru saja kulakukan adalah sebuah kesalahan, aku membentak suami ku, aku meninggikan suara ku, semua itu juga karena dia, dia yang memancing emosi ku.
"bisakah sehari saja kamu tidak marah, bisa tidal sehari saja kamu tidak bentak aku, sehari aja.... kamu tidak mencari-cari kesalahan ku, Fahri " mungkin terdengar seperti permohonan, aku bersuara lirih di hadapannya, aku raih tangan nya yang terkepal, ku usap perlahan kemudian mencium punggung tangan nya, aku merasa berdosa karena kurang ajar padanya.
"maafkan aku" Fahri hanya diam, dia terus memandangi ku, tangannya ku lepas, Fahri tidak lagi menahan, saat aku pergi dari hadapannya, tapi sesaat ku dengar suara teriakan dan pecahan kaca saat aku masuk ke dalam kamar, aku terduduk meringkuk di depan pintu, barulah air mataku turun, ku pukul pukul dadaku yang kian sesak, raungan dari Fahri juga masih terdengar.
Fahri POV
__ADS_1
lagi-lagi aku tidak mengerti dengan sikap ku, aku tidak mengerti dengan perasaan ku, aku murka saat ia bisa lebih dekat dengan pria lain dan mengabaikan ku, di tambah ia pulang di jam yang tidak seharusnya, kenapa aku bisa semarah ini, aku sendiri bingung dengan perasaanku, apa aku mulai mencintai nya, aku menggeleng, ku hilangkan semua asumsi asumsi bodoh yang memenuhi kepalaku.