Aku Istrimu Bukan Patung

Aku Istrimu Bukan Patung
maaf kan aku


__ADS_3

Sudah tiga hari Fahri tidak pulang, sejak dia pergi begitu saja malam itu, aku tidak tau pasti kapan dia akan datang, tapi yang pasti abang ku dan keluarga nya akan mampir menjengukku. Aku menyiapkan makanan untuk Abang ku, aku memasakan makanan kesukaan nya, yang sering aku dan ibuku buat waktu masih tinggal bersama.


Selesai semua sudah masakan ku, semuanya juga telah tertata rapi di atas meja makan, sekarang, tinggal menunggu Nathan dan keluarnya. Tidak lama, bel rumah berbunyi, aku tergesa-gesa membuka pintu tidak sabar melihat keponakan ku yang cantik.


"Abang" ku peluk erat Nathan, kemudian istrinya Hana, dan keponakan ku, Kanaya.


"Kanaya tante rindu" ku gendong tubuh kecil Kanaya masuk ke dalam rumah.


"Kamu sendiri? di mana suami mu?"


"Em... dia ada urusan kantor" jawabku gugup, aku tidak tau kebohongan apa lagi yang harus aku katakan padanya mengenai ketidak keberadaan Fahri di rumah.


"Urusan kantor? ini akhir pekan, sesibuk apa suamimu sampai di akhir pekan juga masih harus mengurus masalah kantor?"


Aku bingung apa yang harus ku katakan, sepertinya kebohongan ku tidak bekerja kali ini.


"Mana Nesha tau bang, sebaiknya kita makan saja Nesha sudah masakan makanan kesukaan Abang" mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


Pandangan kami teralihkan menatap pintu yang terbuka dan memperlihatkan sesosok pria tampan yang terlihat baru selesai mandi, hanya menggunakan baju kaos kebesaran, dengan celana Jogger santainya, sama sekali tidak mengurangi ketampanan nya. Dia terlihat bingung melihat rumahnya yang sedang kedatangan tamu. sama seperti Nesha, ia tidak tau jika pria itu sudah pulang.


"Nathan, kapan kalian datang?"


"Baru saja, aku hanya mampir sebentar, kata Nesha kau ada urusan kantor"


Fahri menatapku bingung, aku berusaha memberikan isyarat berupa anggukan, untungnya dia mengerti.


"Ah... iya ada sedikit masalah, jadi aku harus segera ke kantor"


"Kalian tidak Lelah berdiri, ayo makan"


....


Setelah acara makan selesai, aku bermain sebentar dengan kanaya, itupun hanya sebentar, abang ku harus segera pulang, ku antar mereka Sampai bawah. Melambai kan tangan ku pada Kanaya yang mulai menjauh.


Fahri POV


Kata-kata Nathan... kakaknya Nesha terus berputar di kepala ku.


Flashback on

__ADS_1


Saat Nesha asik bermain dengan keponakan nya, Aku duduk di ruang tamu dengan Nathan, kakaknya meminta ku menjaga adiknya, dia terlihat sangat menyayangi Nesha. Aku bisa melihat tatapan tulusnya saat dia memandangi Nesha yang asik bermain dengan anaknya.


"Apa dia merepotkan mu Ri"


"tidak sama sekali "justru aku yang selalu merepotkan nya batinku.


"Dia anak yang manja, juga keras kepala, jadi aku minta maaf kalo dia membuat mu kesal" aku tidak bisa menjawab kalimat yang terlontar dari mulut Nathan. Aku yang seharusnya meminta maaf karena terus terusan menyakiti perasaan Nesha.


"Dia anak yang sulit untuk bergaul, dia lebih suka sendiri, dia juga tidak pernah dekat dengan pria lain sebelum menikah. Pasti adikku itu sangat tertekan dengan pernikahan tiba-tiba ini"


Sesekali aku melihat senyum manis Nesha, yang sedang asik bermain dengan keponakan nya. Entah kapan terakhir kali aku melihat senyum itu.


"ku mohon jaga dia, selama ini, dia selalu bergantung dengan ku, aku tidak suka ada seseorang yang menyakiti nya"


Andai mereka tau kebenaran rumah tangga kami, kebenaran ku yang selalu menyakiti perasaan Nesha, apa lagi saat mereka tau hal besar yang selama ini aku sembunyikan dari Nesha, apa yang harus aku lakukan sekarang, atau aku harus mengakuinya, mengungkapkan kebenaran nya dan mengakhiri hubungan ku dengan Nesha.


Flashback of.


"Abang mu sudah pulang?"


"Kamu lihat sendiri kan, dia sudah nggak ada lagi, jelas dia sudah pergi"


Nesha POV


Hari ini akhir pekan, harusnya aku bisa beristirahat, ini malah ku habiskan hariku dengan bekerja membersihkan rumah, membuatkan makanan untuk abang ku yang bertamu secara tiba tiba. Aku seperti orang tua yang sudah berumur lanjut. Sekarang, aku akan tidur siang sebentar, walaupun ini bukan siang lagi, tapi sudah jam 4 sore, mungkin ketika bangun aku tidak akan bisa tidur malam lagi. Entahlah aku lelah aku tidak peduli ku rebahkan tubuhku di atas ranjang.


Aku kurang tau kapan tepatnya aku tertidur, tapi aku terbangun ketika suasana sudah gelap, gorden kamar yang awalnya terbuka sekarang sudah tertutup rapat, aku juga ingat, jika tadi... aku hanya asal berbaring tapi sekarang aku tertidur dengan selimut menutupi tubuhku, dan tunggu! apa ini, kenapa pinggang ku terasa berat, astaga tangan.


"Aaaaaaaaa, Ibuuu"


"Ada apa Nesha, kamu mimpi buruk?"


"sedang apa kamu di kamarku, kamu mengagetkan aku, Fahri "


"Aku juga kaget, asal kamu tau saja, untungnya gendang telinga ku tidak pecah mendengar teriakkan mu"


"Kenapa kamu di sini"


"Kenapa emangnya, salah kalo aku tidur dengan mu? kamu istriku"

__ADS_1


author POV


"terserah kamu saja" Nesha bangun dari tidurnya, tapi tangannya di tarik Fahri dan membuat nya kembali terbaring di atas ranjang membelakangi Fahri, Dengan sigap Fahri memeluk Nesha kembali.


"Apa yang kamu lakukan, lepaskan aku Fahri"


"Ku mohon biarkan seperti ini sebentar" Fahri semakin mengeratkan pelukannya, sedangkan Nesha, gadis itu terlihat tidak baik baik saja, jantungnya berpacu dari kata normal, Nesha manahan nafasnya berharap detak jantungnya tidak bisa di dengar Fahri.


"Bernafas lah Vanesha Angela"


Deg, apa Fahri tidak merasa bersalah setelah membuat jantung Nesha hampir meledak, sekarang dia justru membaut gadis itu merasa malu.


"Kenapa kamu menahan nafas mu, kamu takut, hem. tenang aku tidak akan memakan mu"


"Diam Lah Fahri" ucap Nesha gugup dengan sedikit memberikan sikutnya pada perut Fahri.


"Nes, apa menurutmu rumah tangga kita bisa di perbaiki" ucap Fahri, tepat di belakang leher Nesha, deru nafasnya menerpa jelas ke leher Nesha, yang membuat Nesha meremang .


Diam, Nesha hanya diam. tidak menanggapi ucapan Fahri.


"Nes, apa kamu tidur? kenapa hanya diam, Hem"


"Kamu ingin aku bilang apa, kamu ingin aku berpendapat seperti apa, mengenai pernikahan palsu kita ini" ucap Nesha.


"Sikap mu berubah rubah setiap saat, aku bingung seperti apa seharusnya aku menafsirkan rumah tangga kita, kamu yang tidak pernah menerima nya kan, jadi nilai lah sendiri seberapa jauh rumah tangga kita akan bertahan kedepannya" lanjut Nesha.


"Apa kita cukupkan sampai di sini, atau bertahan, tapi aku takut kita akan sama sama terluka"


Nesha bungkam, jika sudah membicarakan mengenai perpisahan, hatinya sakit, lidahnya kelu, pikiran nya melayang keman -mana, nasib menjadi janda, rasa sakit yang akan di derita kedua keluarga nya, perasaannya, hidupnya, semua akan hancur. Sebenarnya Nesha sudah terbiasa hidup dengan menahan cinta yang bertepuk sebelah tangan, dia sudah terbiasa hidup kesepian, jadi, jika di suruh memilih antara hidup kesepian dengan tetap mempertahankan rumah tangganya atau bercerai, Nesha akan tetap memilih mempertahankan rumah tangganya.


"Vanesha, aku mohon, berikan aku pilihan"


"Aku tida bisa memilih Fahri, karena dari awal semua keputusan kamu yang mengatur nya, sedangkan aku hanya bisa pasrah di bawah peraturan mu"


Mendengar ucapan Nesha, hati Fahri terasa teriris, dari setiap kata yang keluar dari mulut Nesha sangat jelas jika wanita malang itu selalu tersakiti dengan sikap dan ke egois nya selam ini. Fahri merenggangkan lilitan tangan nya pada pinggang Nesha, kemudian membalik tubuh Nesha agar menghadapnya.


"vanesha, tatap aku"mendengar apa yang di ucapkan Fahri, Nesha mendongak menatap mata Fahri yang memandang nya dengan tatapan sayu.


"Nesha, maaf kan aku"di pelukannya Nesha di dalam dekapan nya, tanpa pria itu tau Jika Nesha sedang menangis di dalam pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2