
Nesha POV.
Seluruh tubuh ku rasanya sakit, aku menggeliat kecil, tapi ada yang aneh, sejak kapan aku... 'AKU TIDUR DENGAN MENJADIKAN PAHA FAKHRI SEBAGAI BANTAL' oh tuhan ada apa dengan ku, sangking kagetnya aku tidak sadar dengan kondisi kakiku, aku berdiri dengan tiba-tiba, alhasil aku berteriak keras merasa ngilu di pergelangan kakiku.
"Aaaaa" teriakan itu membuat Zidan dan Fahri bangun.
"Vanesha" langsung saja Fakhri berdiri, ia papah tubuhku untuk duduk di kursi.
"kamu gila" terlihat jelas kekesalan dari pria itu, entah apa yang membuatnya sekesal itu, mungkin karena teriakan ku mengagetkannya.
"kamu nggak papa Nes?" Zidan juga terlihat begitu khawatir. Aku mengangguk merasa bersalah karena sudah mengangetkan mereka.
"kamu Kenapa sih, sudah tau sakit kaya gini, bukannya minta tolong kalo ada apa-apa" aku mengulum bibir, apa itu bentuk perhatian Fahri, jujur hatiku menghangat, meskipun nada bicaranya tidak ada lembut - lembutnya sama sekali.
Maaf"
"kamu mau apa, biar aku ambilkan" aku kembali menggeleng, seperti nya hal itu membuat Fahri semakin geram, Fahri mengacak rambutnya yang memang sudah berantakan, kenapa hal itu justru membuat ku terpesona dengan nya. Fahri benar-benar tampan, kenapa wajah bangun tidurnya bisa setampan itu.
"kenapa?"
"ah, eng--engak"
"kantor kamu buka jam berapa, Nes?" tanya Zidan.
"bentar lagi juga sudah buka"
Belum sempat kering kerongkongan ku, beberapa pegawai sudah berdatangan, ada Bela juga... teman satu divisi ku. Mereka menatap bingung ke arah kami bertiga, tapi mereka hanya menyapa dan lewat begitu saja, kecuali Bela.
"Nes, Lo..." wajah bingung Bela benar - benar membutuhkan penjelasan ku. Ia mungkin menyadari pakaian ku yang tidak berganti.
__ADS_1
"Bel, aku sama mereka tidur di kantor" sepertinya ucapan ku semakin membuat Bela kebingungan, aku memang bodoh dalam hal menjelaskan.
"aku---"ucapan ku terhenti karena Fahri memotongnya.
"Istri saya jatuh saat ingin pulang, saya dan dia" ku lihat Fakhri menunjuk Zidan menggunakan dagunya.
"kita berdua datang buat nolongin Istri saya, tapi keburu satpam depan mengunci kami bertiga, dan dengan terpaksa kami bertiga bermalam di kantor ini" Bela mengangguk, tapi raut wajahnya masih terlihat bingung, aku ingin menjelaskan dengan versi ku sendiri, tapi Fahri lebih dulu menggendong ku.
"kita ke rumah sakit"
"ii--iya" entah kenapa aku selalu tergagap saat di dekatnya, aku menoleh enggan menatap wajah Fahri, pria itu pun hanya fokus dengan jalan di depannya. Fahri memasukkan aku ke dalam mobilnya, sedangkan mobilku, katanya di derek saja, aku tidak lagi mendapati Zidan, aku tidak tau juga kapan Zidan pulang, pria itu juga tidak berpamitan apapun dengan ku.
"Fahri, aku kayanya hanya perlu di urut aja deh, ini cuman keseleo dikit" ucapan ku di abaikan olehnya.
"Fahri ---"
"bisa diam dan nurut nggak sih, aku mau bawa kamu ke rumah sakit, biar di periksa, kenapa batu banget sih" Fahri memang tidak membentak, tapi ucapannya begitu ketus, aku berpaling, memang sebaiknya aku diam saja saat di dekatnya, karena setiap yang ku ucapkan selalu salah di matanya.
Aku kira kami akan langsung pulang, tapi Fahri justru berhenti di salah satu warung makan pinggir jalan, tidak ada obrolan sebelum nya jika ia ingin sarapan di sana.
"Fahri kenapa berhenti?" aku hanya ingin basa basi saja, tapi ia justru memberikan aku tatapan dingin seperti biasa.
"turun, kita sarapan dulu, aku lapar"
Fahri memesan dua porsi nasi kuning, tanpa menawarkan apapun padaku, aku ikut duduk di depannya. Sebenarnya aku ingin duduk di samping nya, tapi ku urungkan, takut Fahri risih dengan ku.
Aku bosan menunggu pesanan kami siap, warung makan itu cukup ramai pengunjungnya, terlihat berbeda dengan Fahri, Fahri begitu serius dengan ponselnya, sebenarnya yang duduk di depan ku ini siapa sih, apa benar aku menikah dengan nya, apa aku istrinya, terkadang pertanyaan itu muncul di kepala, entah sampai kapan aku bisa bertahan dengan Fahri, kehidupan keluarga kami yang tidak normal terkadang membuat ku tertekan.
"Makasih mbak" pesanan kami akhirnya datang, jujur saja aku tidak terlalu suka nasi kuning, tapi berbanding terbalik dengan Fahri, pria itu begitu menikmatinya, seperti nya warung ini sudah menjadi langganannya, Fahri terlihat sesekali bercanda dengan pelayanan warung.
__ADS_1
Walaupun aku tidak suka, aku tetap berusaha mengunyah habis nasi kuning ku dengan bantuan air putih.
"cepat habiskan makanan mu, aku mau kerja, aku nggak ada waktu untuk menunggu mu" aku mendongak menatapnya, pria itu tidak menatap ku, piringnya sudah kosong.
"kamu pulang aja duluan, aku bisa pulang sendiri" Aku tidak menyangka dengan respon nya, aku hanya spontan saja berucap seperti itu, tapi nyatanya di tanggapi serius olehnya, pria itu berdiri dari duduknya, menyimpan kembali ponsel ke dalam saku celana, dan berjalan melewati ku tanpa mengatakan sepatah katapun.
Aku sedikit memutar badan agar lebih mudah melihat nya, Fahri membayar makanan kami dan tidak kembali duduk di depan ku, melainkan masuk ke dalam mobil, perlahan mobil Fahri bergerak meninggalkan halaman warung.
Aku menganga, tidak menyangka Fahri setega itu dengan ku, ia sungguh-sungguh meninggalkan aku, pernafasan ku tiba - tidak sesak, bukan karena penyakit, tapi karena kelakuan Fahri.
Pria itu seperti orang yang berbeda, tadi malam ia begitu mengkuatirkan aku, seakan menjadi manusia yang paling ketakutan saat aku kesakitan, tapi sekarang... Fahri kembali dengan sikap dinginnya, menganggap aku hanya patung tidak berguna di hidup nya, aku mendongak, mencegah air mata yang ingin keluar, aku paling benci menangis seperti ini, aku benci menangisi sikap Fahri padaku.
Aku tidak bisa menghabiskan makanan ku, dengan sedikit tertatih aku menghampiri kasir untuk bertanya apa makananku sudah di bayar, tapi syukurnya Fahri masih membayar nasi ku, aku hanya takut tidak bisa membayarnya, karena tas ku tertinggal di mobil Fahri.
Sekarang saja aku bingung dengan apa aku pulang ke rumah, aku tidak punya ongkos untuk membayar angkutan umum.
Tidak ada pilihan lain, aku harus berjalan dengan pergelangan kaki yang masih sakit, sekarang perutku terasa tidak nyaman, berulang kali aku ingin memuntahkan sesuatu dari dalam sana, aku memang seperti ini, jika sudah memakan sesuatu yang tidak aku suka, rasanya mual sekali.
week!!!
"please jangan sekarang"
week!!!
Aku berusaha sekuat mungkin menahan lonjakan dari dalam, belum lagi pergelangan kaki ku semakin terasa sakit, tidak ada ojek yang bisa ku mintai tolong untuk mengantarkan pulang.
Fakhri POV
Sial, aku mengumpat sendiri menyadari sikap ku yang sudah keterlaluan pada Nesha, aku meninggalkan Nesha karena kesal dengan ucapannya. Tanpa memikirkan kondisi nya yang sedang tidak baik, belum lagi aku melihat tasnya ada di mobil, ku putuskan memutar kembali mobil untuk menjemput istriku
__ADS_1
Tapi tidak lagi ku temukan ia di warung itu, kata pelayan warung Nesha baru aja pergi, aku mengacak rambutku prustasi, dari jauh ku lihat Nesha yang duduk di trotoar jalan, wanita itu menelungkup kan wajahnya di antara lututnya, ku parkir kan mobil dan mendatangnya.
"Nes" Nesha mendongak