
Tidak terasa Kiana sudah mendampingi Kenan dan Malik melakukan dinas pekerjaan di Malaysia selama satu bulan lama. Tidak satu bulan, lebih tepatnya tiga Minggu, karena Kenan dan Malik berhasil mempercepat waktu kunjungan mereka.
"Cepat Kiana, kita hampir saja ketinggalan pesawat." Kiana berjalan cepat seperti yang dilakukan Malik. Pesawat yang mereka gunakan memang pesawat pribadi milik Kenan. Namun, meskipun pesawat pribadi tetap saja mempunyai jadwal keberangkatan agar waktu yang ditetapkan tepat dan tidak membuang waktu yang ada.
Kiana berlari mengejar langkah Malik yang begitu cepat. Keterlambatannya ini memang kesalahannya. Ia telat bangun, hingga ia harus terburu-buru menyiapkan keperluannya untuk balik ke Indonesia. Subuh tadi selesai melaksanakan kewajiban sholat subuh, Kiana tanpa sadar tertidur kembali di atas sajadah yang ia bentang, bahkan tidurnya masih menggunakan mukenah. Pekerjaan yang diberikan Kenan benar-benar merusak waktu istirahatnya. Sehingga pada ia baru terbangun ketika Malik menelpon dirinya.
Satu, dua, tiga, mereka pun sudah sampai di pesawat. Kiana duduk tepat di samping Kenan yang sudah menunggunya dari tadi.
"Dasar lelet." Kenan mencibir Kiana yang baru saja mendudukkan dirinya di bangku pesawat.
Kiana hanya menunduk sembari menahan kekesalan, sebab semua ini memang karena ulah Kenan.
"Maaf Tuan." Ucap Kiana merendah. Ia tidak ingin berdebat dengan pria arogan ini.
Beberapa jam kemudian, pesawat tiba di Indonesia dengan selamat. Malik langsung mendekati Kenan yang tengah berjalan santai menuju pintu keluar.
"Lo jadi mencari Salsa hari ini juga?" Kenan mengangguk.
"Kia bagaimana?"
"Biarkan saja dia ikut, perempuan itu harus tahu akibat dari perbuatannya." Ucap Kenan.
"Kamu serius?"
"Kenan Rayanza tidak pernah tidak serius Malik."
"Kenan memang selalu serius, tapi ia sangat pelupa, untung ada aku dan Kia yang selalu mengingatkanmu." Sahut Malik samping tertawa.
"resek banget kamu Lik."
Kiana berjalan lurus di belakang kedua atasannya itu. Ia hanya diam, seolah tidak mengerti arah pembicaraan mereka. Kiana sesekali melihat sekitar. Ia melihat seseorang dari arah yang berlawanan berjalan terburu-buru.
"Pak Kenan..." Teriak Kiana mencoba memberitahu Kenan bahwa ada orang yang sedang terburu-buru di sana dan mereka akan bertabrakan.
brukk...
"Opsss... Sorry."
"Hei, Kenan."
__ADS_1
"Kamu Chan?" Kenan menyapa pemuda yang menabraknya. Kemudian Chan dan Kenan saling berjabatan tangan, begitu juga dengan Malik.
"Maaf, aku tidak melihat orang, aku sangat terburu-buru tadi." Ucap Chan.
"Aku yang salah, karena aku terlalu asyik berbincang dengan Malik."
"Lama kita tidak bertemu Chan." Ucap Kenan.
"Yah, begitulah, aku sudah lama tidak berhadapan denganmu." Sahut Chan. Mereka pun tertawa, dan mereka saling berjabatan tangan kembali, karena Chan harus segera pergi.
Chan tersenyum sinis, ia mengasihani Kenan yang terlalu mencintai Salsa. Kenan tidak tahu bahwa Salsa saat ini sedang bersamanya, bahkan Chan lah yang merenggut keperawanan Salsa terlebih dahulu.
"Sungguh malang nasib Kenan,kisah cintamu tidak seberuntung karirmu." Batin Chan.
***
"Kita mau kemana Pak?"
"Jalan menuju rumah saya sudah lewat Pak." Lanjut Kiana kembali.
Tetapi semua diam, Kenan fokus dengan ponselnya yang sedang melihat GPS, sementara Malik fokus menyetir. Tidak ada yang menggubris pertanyaan Kiana, seketika Kiana pun mencoba diam, mencoba menikmati perjalanan saja.
"Malik, dia ada di sini." tiba-tiba Kenan menunjukan sebuah titik keberadaan Salsa. Salsa yang tanpa sengaja mengaktifkan GPS nya pun tidak menyadari jika keberadaannya sudah diketahui Kenan.
Kiana yang melihat keseriusan dua lelaki aneh itu pun hanya tersenyum kecut dan tidak ingin menanyakan hal yang sudah pasti tidak akan mereka jawab. Ia menggunakan earphone yang ia bawa, ia menikmati irama musik Korea walau pun ia sendiri tidak tahu arti dari lagu tersebut. Tapi setidaknya jauh lebih baik dibanding menafsir maksud aneh dari kedua lelaki aneh yang sedang bersamanya ini.
"Sebuah apartemen." Ucap Malik saat sampai kepada titik yang dituju.
"Apa Salsa menyewa apartemen Ken?" Tanya Malik untuk memastikan.
"Aku tidak tahu, tapi sepertinya dia tidak pernah menceritakan hal ini padaku, dan aku yakin ini juga bukan apartemennya. Ia pasti menginap di apartemen temannya."
"Tapi siapa ya Lik?"
"Jadi bagaimana? apa kita masuk ke sana sekarang?"
"Tidak usah, kita putar balik lagi aja, setidaknya aku tahu Salsa saat ini berada di sini." Sanggah Kenan.
Akhirnya mereka pun pergi dari tempat itu dan melanjutkan pulang ke rumah mereka masing-masing. Kenan mengantarkan Kiana sampai ke depan gang rumahnya. Kemudian Kenan pun melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah karena cukup lelah sekali.
__ADS_1
Kenan sudah sampai di rumahnya, saat ia selesai mengucap salam, langkah terhenti dikarenakan seorang wanita uang selama ini ia cari sudah berada di hadapannya bersama dengan mamanya.
"Salsa." dengan refleks Kenan memeluk Salsa sebab ia memang sangat merindukan kekasihnya tersebut.
"Hai Ken." Sapa Salsa datar.
"Mama sudah sampaikan padanya, kalau kamu akan pulang hari ini, Makanya mama suruh dia untuk menunggumu." Ucap Mama Viona, kala melihat Kenan begitu bahagia kedatangannya di sambut oleh wanita yang sangat ia sayangi.
"Ken, aku ingin bicara sesuatu." Ucap Salsa.
"Ma, izinkan kami berdua." Perintah Kenan kepada sang Mama. Namun Salsa melarang. "Tidak usah, Mama di sini aja, mama juga harus tahu prihal ini."
"Kamu ingin bicara apa sayang." Ucap Kenan sembari menatap mata sendu Salsa.
Salsa menarik nafas panjang, menyiapkan dirinya. "Mama, Kenan. Sebelumnya saya ingin meminta maaf kepada keluarga Prasetya mungkin karena keputusan yang Salsa buat ini nanti pasti akan mencoreng nama baik keluarga ini."
"Salsa minta maaf sebelumnya, kedatangan Salsa ke sini ingin mengakhiri hubungan Salsa dengan Kenan." Ucap Salsa lirih.
"Sayang? Kenapa?" Tanya Kenan heran.
"Karena aku sudah terlalu letih bersandiwara dengan kamu Ken, aku capek dengan perjodohan kita."
"Aku tidak ingin kita menjadi korban dari perjanjian kedua orang tua kita." Jelas Salsa.
"Tapi, sedari kecil kalian sudah bersama-sama Sa? Kamu juga sudah mama anggap seperti anak perempuan mama." Ucap Viona.
"Maaf Ma?Tetap Salsa memang tidak nyaman bersama Kenan, Salsa tidak bisa menerima segala kekurangan Kenan. Selama ini Salsa sudah berusaha untuk menerimanya tetapi tetap saja Salsa tidak bisa." Jelas Salsa.
"Sa, izinkan aku untuk merubahnya, aku berjanji akan menjadi sosok yang terbaik untukmu." Kenan memelas diri. Sungguh kali ini ia benar-benar takut kehilangan Salsa.
"Maaf Ken, aku tidak bisa. Aku berharap kamu dapat menemukan pengganti yang lebih baik lagi dariku."
"Tapi Sa."
"Sudah Ken, sudah. Aku sudah memikirkan ini bulat-bulat. Lagian aku juga akan segera menikah."
"Apa?" Viona terkejut dengan pernyataan Salsa.
"Aku akan segera menikah dengan seseorang yang selama ini selalu membuat aku nyaman. Bersamanya aku selalu tersenyum bahagia."
__ADS_1
***
Jangan lupa like and Vote temen-temen.