
"Wah, itu baju bagus-bagus sekali kak."Kiara menjerit histeris saat melihat Kiana memamerkan baju pemberian Kenan tadi melalui video call. Kiara masih tersenyum lebar ia senang melihat adik dan ibunya baik-baik saja ketika ia tinggal pergi ke luar negeri.
"Pokoknya nanti kalau pulang ke Indonesia, kamu harus bawakan aku oleh-oleh."
"Oleh-oleh apa? Di sini sama seperti Indonesia, cuma bedanya di sini nggak ada macet seperti di Jakarta." Sahut Kiana.
"Isssttt.. Aku mau kamu bawakan artis Aiman Hakim Riza ke sini, atau siapa gitu artis Malaysia yang bisa kamu bawa ke sini untuk jadi jodoh aku." Kiara mengutarakan isi hatinya yang seakan membuat Kiana tertawa terbahak-bahak.
"Siapa itu Aiman? Aku tidak mengenalnya." Kiana menyanggah permintaan Kiara.
"Ah, kamu aneh sekali, tidak pernah melihat film-film Malaysia seperti itu." Kiana mengangguk, ia memang mengakui bahwa dirinya tidak pernah memiliki waktu untuk menonton film-film seperti yang dilihat oleh Kiara.
"Hei, Kia, kamu itu punya baju bagus-bagus seperti itu beneran bos kamu yang berikan?" Kali ini Ibu memotong pembicaraan kedua kakak beradik itu.
Kiana mengangguk. "Kamu kerja apa sampai-sampai bos kamu berbaik hati seperti itu? Kamu tidak kerja yang aneh-aneh bukan?"
Kiana mengerutkan dahinya kemudian mengerucutkan bibirnya. "Ibu, sembarangan menuduh. Kia kerja halal Bu, Kia sekretaris di sini. Bos Kia memberi hadiah ini karena kerja Kia bagus Bu." Jelas Kia.
"Syukurlah kalau seperti itu, kamu awas kalau macam-macam, ibu tak sudah punya anak murahan seperti teman-teman ibu di luar sana. Kita memang susah, tapi ibu mohon jangan pernah merendahkan harga diri kita sebagai manusia." Pesan ibu kepada putrinya. Kiana pun mengangguk menandakan bahwa ia menurut dan mendengarkan nasehat tersebut.
tok...tok...tok...
pintu kamar cinta terketuk.
"Bu, udah dulu ya, sepertinya ada yang memanggil Kia. Besok Kia hubungi lagi ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Kiana pun langsung bangkit dari tempat tidurnya dan bergegas membuka pintu kamarnya.
"Pak Kenan?" Kiana terkaget, sebab Kenan sudah berdiri di depan kamarnya.
"Kamu belum tidur?" Tanya Kenan, Kiana pun menggelengkan kepalanya.
"Aku punya beberapa pekerjaan untukmu." Kiana terkejut, matanya terbelalak sebab ini sudah larut malam.
__ADS_1
"Tapi pak, ini sudah lewat dari jam kerja. Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam." Sanggah Kiana.
"Saya tidak peduli, kamu ingin kenapa kamu bisa bekerja di perusahaan saya? Kamu harus mengganti rugi atas kejadian malam itu." Lagi-lagi Kenan berbicara cukup pedas kepada Kiana. Kiana pun menjadi geram. Ia sangat heran terhadap kepribadian Kenan yang tiba-tiba menjadi baik namun tiba-tiba berubah menjadi orang yang arogan, angkuh dan menyebalkan. Kiana melirik beberapa dokumen yang di bawa Kenan ke kamarnya.
"Tapi..."
"Jangan banyak protes, kamu harus membayar semua kerugian yang saya alami karena keteledoran kamu saat menjadi pelayan restauran itu."
"Tapi..Pak." Kiana mencoba membela dirinya yang keberatan bekerja di luar jam kerja.
"Boleh saya masuk?" Sambung Kenan menyela ucapan Kiana. Kiana pun terdiam dan hanya mampu mengendus dengan nafas yang kasar sembari mengepalkan tangannya.
"Silahkan." Sahut Kiana dengan wajah yang penuh dengan kekesalan.
Kenan meletakkan tumpukan dokumen yang ia bawa itu di atas ranjang Kiana yang berukuran besar. Kiana tampak tidak bersemangat menyambut semua pekerjaan itu, sebab ia saat ini sudah bersiap untuk tidur, sebab besok pagi-pagi sekali ia harus udah berada di bandara untuk balik ke Indonesia. Kiana saat ini sudah mengenakan daster kekinian berwarna pastel dengan motif bunga sakura.
"Kamu rekap semua dokumen ini di lembar kerja yang kita siapkan beberapa hari lalu sewaktu masih di kantor."
"Tapi, dokumen itu ada di laptop satu lagi pak, tidak kita bawa ke sini." Sanggah Kiana.
"Bukankah kemarin saya perintahkan kamu membawa flashdisk?" Kiana mengangguk.
"Ini Pak?"
Kenan memasukkan flashdisk itu ke dalam laptop yang di bawa Kiana, kemudian ia mencari file yang di maksud. Kurang dari lima menit Kenan sudah menemukannya. Ia pun tersenyum senang, sebab rencana untuk membuat Kiana lelah berhasil.
Kiana tidak bisa lagi memprotes, atau memang dia tidak memprotes kali ini, ia ingin mengikuti alur yang dimainkan oleh sang CEO.
Kenan berjalan keluar, meninggalkan Kiana dengan segudang pekerjaan itu. Kiana yang hanya menurut pun enggan untuk berbasa-basi dengannya. Tetapi ada satu pertanyaan yang mengganjal di hatinya.
"Tunggu." Kiana bermaksud melarang Kenan yang hendak pergi meninggalkannya.
"Apa lagi??" Sahut Kenan kesal, sebab Kiana terlalu banyak berkomentar menurutnya.
"Sebenarnya kerugian apa yang tuan alami akibat kejadian malam itu, sampai-sampai tuan menghukum saya tak henti-henti? asal tuan Kenan tahu? Saya sudah mendapat hukuman malam itu juga dengan saya dihukum tanpa menerima gaji. Apa itu belum cukup?"
__ADS_1
Kenan tersenyum licik, ia memberi penghargaan atas keberanian Kiana menanyakan hal itu.
"Kamu tahu? Gara-gara kamu saya kehilangan kekasih saya, yang sampai saat ini saya juga nggak tahu dia di mana. Gara-gara kamu Salsa menghilang dariku."
"Yakin semuanya bermula dariku?" Tanya Kiana.
"Maksud kamu?" Kenan kembali bertanya pada Kiana yang memberi pernyataan tanggung.
"Yakin sepenuhnya salah saya? Maaf tuan sebelumnya, kalau memang kekasih tuan mencintai tuan, ia pasti tidak akan bertahan lama untuk menghilang dari tuan, apalagi sampai berhari seperti ini. Karena ia juga membutuhkan tuan."Jelas Kiana. Kenan pun terdiam sesaat.
"CK, Tahu apa kamu perkara ini, itukan gaya berpacaran orang kampung, gaya berpacaran orang kota sungguh berbeda." Ucap Kenan dengan arogan, ia malu mengakui hal yang sebenarnya dihadapan Kiana. Kemudian pergi meninggalkan Kiana.
Kiana diam tanpa ekspresi saat Kenan berbicara hal seperti ini. Sejak mengenal Kenan, ia jadi mengerti bahwa kasta itu membedakan segalanya.
Kiana mengerjakan tugas tersebut dengan tekun dan teliti karena ia tidak ingin ada kesalahan. Ia mengerjakan pekerjaan tersebut hingga pukul dua dini hari.
"*Awas.....," Kiana melemparkan pemuda itu ke sembarang arah.
"Tolong aku.... jangan tinggalkan aku."
"Hei kamu siapa?"
"Kalau jalan hati-hati."
"Bebaskan aku."
"Bebaskan aku*."
Kiana tampak bingung. "Tidak!!!!!!!" Kiana tersadar dari tidurnya, ia tidur dengan bertebaran dokumen-dokumen penting yang sedang ia kerjakan.
Nafas Kiana masih memburu, ia masih mengkaji mimpi yang seakan nyata itu.
"Lelaki itu? Iya aku memimpikan dia lagi.Tapi siapa dia? Kenapa dia meminta tolong padaku." Kiana berpikir sesaat, mengingat sosok lelaki yang ada di dalam mimpinya itu.
"Tuan Kenan." Ucap Kiana meyakinkan bahwa sosok lelaki di dalam mimpinya itu mirip sekali dengan Kenan.
__ADS_1
***
Jangan lupa Like dan Vote nya ya teman-teman. Terima kasih.