
"Kenapa kau lihat-lihat." Tanya Santi pada Kiana yang terdiam terpaku melihat kondisi kedai ibunya yang berantakan dibuat ketiga preman tersebut.
Kiana menggelengkan kepalanya saja. Sembari melihat ke sekitar.
"Ibu baik-baik saja?" Kiana membelai tangan sang ibu, mencari luka yang menggores tangan ibunya.
"Tidak apa-apa, aku sudah biasa menghadapi preman-preman seperti itu, bulan depan paling mereka akan kembali lagi, sebelum virus itu membayar utang-utangnya." Jelas Santi, sembari membereskan meja dan kursi yang berantakan.
"Kiara ke mana?"
"Di dalam, menjaga uang-uang simpanan kita." Kiana pun mengangguk. Kemudian ia kembali menatap wajah tangguh sang ibu.
"Hei, kau kenapa sudah balik? Bukannya biasanya pulang sore?"
Kiana mengangguk. "Flashdisk aku tertinggal di kamar, makanya aku balik."
Kiana pun berlari masuk ke dalam rumahnya, berniat untuk mengambil flashdisk yang dicari sedari tadi oleh bos menyebalkan itu. Kiana di marah hebat oleh Kenan saat ia melupakan dokumen yang di back up dalam flashdisk miliknya kemudian flashdisk itu di rumahnya. Padahal saat itu, presentasi Kenan sudah akan di mulai di depan para investor besar perusahaannya.
Kiana kembali keluar kamarnya setelah menemukan benda yang ia cari. Santi masih fokus membereskan meja-meja yang berantakan itu. Dalam hitungan jam, kedai itu sudah kembali rapi seperti semula.
"Kiana, kamu harus hati-hati." Santi tiba-tiba menegur putrinya.
Kiana menghentikan langkahnya. Melihat ke arah sang Ibu. "Kenapa Bu?"
"Karena para preman itu sudah tahu kalau anak Ibu bekerja di sebuah perusahaan. Ibu hanya takut kamu ditodong untuk dimintai uang." Jelas Santi.
Kiana pun hanya mengangguk, kemudian ia berjalan keluar kembali menuju perusahaannya, karena di sana Kenan sudah menunggunya.
__ADS_1
Sedari kecil Kiana selalu merasa sedih bila ia kembali melihat perkelahian kedua orang tuanya yang tidak pernah akur dan selalu saja berselisih paham tanpa mengenal ujung, tanpa memperhatikan kondisi kedua anak mereka. Di satu sisi ia ingin marah kepada sang ayah karena ia tidak pernah peduli kepada sang ibu. Namun, bila dipikir ulang, sang ayah tidak pernah menyakiti, memukul anak-anaknya, ia selalu memanjakan kedua anaknya. Tetapi jika dengan Santi, Fandi seolah kehilangan kesadaran.
***
Tiga puluh menit berlalu, setelah melalui perjalanan panjang, menaiki angkutan umum, akhirnya Kiana sampai kembali ke kantor, dan ia pun akhirnya menyerahkan dokumen presentasi itu kepada Kenan.
"Lelet sekali." Gumam Kenan, namun Kiana hanya menatapnya dengan tatapan yang lesu. Ia seakan tidak ingin berbicara banyak hari ini.
"Lain kali, kalau kamu melakukan hal ceroboh seperti ini, aku tidak segan-segan menurunkan jabatan kamu menjadi karyawan biasa." Ucap Kenan dengan nada tegas dan tinggi. Wajahnya semakin dingin tanpa ekspresi. Di dalam hati Kiana ia sangat takut dengan ancaman Kenan. Namun, di sisi lain hati Kiana berkata, tidak ada yang lebih sedih selain kejadian di rumahnya yang begitu menyayat hatinya.
"Selesai jam makan siang, rapat yang tertunda tadi saya harap bisa berjalan dengan lancar. Kamu siapkan semua keperluan saya. Teruslah berada di samping saya, karena saya pasti akan membutuhkanmu."Kiana pun hanya mengangguk.
"Baik pak." Jawabnya beberapa saat, kemudian ia berjalan menuju mejanya kembali.
"Kia, capek ya?" Rini menghampiri Kiana sembari membawakan kopi susu dingin hasil racikannya.
"Terima kasih Kak." Ucap Kiana datar. Kemudian ia menyeruput kopi susu dingin tersebut dengan penuh penghayatan.
"Terus, kenapa badmood? Tapi tadi pagi baru senang ketemu dengan Pak Sandy secara langsung. Apa ini semua karena Pak Kenan yang memarahiku?" Rini menunjuk jendela kaca luas yang menjadi pembatas antara ruangan Kenan dengan Kiana. Biasanya Kenan menutup ruangan kacanya itu dengan tirai khusus. Namun kali ini ia tetap membukanya, hingga Kiana dan Rini dapat melihat wajah serius Kenan saat sedang fokus.
Kiana menggelengkan kepala. "Bukan karena dia."
"Lantas?" Rini semakin penasaran. Sementara Kiana hanya mengendus kan nafasnya dengan kasar.
"Kamu nggak percaya sama aku?" Rini merangkul pundak Kiana.
"Ibu dan ayahku bertengkar lagi."
__ADS_1
"Padahal mereka sudah berpisah cukup lama.Tetapi ayahku selalu saja memanfaatkan Ibuku. Aku jadi sulit membedakan harus membenci siapa. Karena kedua-duanya sama-sama orang tua."
Rini pun terkejut karena untuk pertama kalinya Kiana mau berbagi cerita dengan dirinya.
"Tidak perlu ada yang di benci Ki, sebab dua-duanya sama-sama orang tua kamu. Mereka adalah perantara Allah agar kamu lahir ke dunia ini. Berusaha menjadi baik saja untuk keduanya Kia." Jelas Rini.
"Bagaimana bisa seorang suami menduakan istrinya diam-diam?"
"Bisa saja sebab lelaki memang ditakdirkan memiliki nafsu untuk memiliki lebih dari satu." Jawab Rini kembali.
"Bagaimana bisa seorang suami menganiaya istrinya sendiri? Bukankah menikah itu awalnya menggunakan hati dan perasaan cinta, lantas di mana semua itu?"
"Itulah sebabnya Islam mengajarkan kita untuk memilih pasangan dilihat dari kecantikan atau ketampanan, nasab, harta dan agamanya. Jika tidak sulit mendapatkan semuanya, minimal kamu memilih karena agamanya yang baik. Agar ia paham tentang bagaimana cara memuliakan istri. Tapi, coba deh kamu ingat-ingat kisah Firaun, dulu guru mengajiku pernah bilang, bahwa berjodohnya Asiyah dengan Firaun adalah salah satu jalan Asiyah untuk mendapatkan tiket masuk ke surga, karena ia telah sabar menghadapi suami yang dzalim seperti Firaun."
"Tapi Rin... Kasihan Ibu aku, keluarga kami sekarang menjadi berantakan. Ibuku tidak lagi memikirkan dirinya, hidupnya hanya untuk kami berdua. Belum lagi, jika preman-preman itu menagih utang ayahku sampai sekarang. Semua akan luluh lantak dan kami hanya bisa terdiam karena tidak mampu melawan.
"Sabar Kiana, kalian hanya perlu bersabar sampai pelangi itu muncul sebagai jawaban." Nasehat Rini, sedikit membuat hati Kiana yang semula sempit kini kembali lapang, hatinya tidak lagi mengutuk keadilan karena tidak mampu kerja dengan baik untuk menegakkan keadilan.
Kiana masih menyeka air matanya dengan selembar tisu yang memang sudah tersedia di atas meja kerjanya. Tanpa sadar sepanjang bercerita itu berderai air mata sesak yang selama ini muncul."
Kenan memperhatikan kedua wanita tersebut dari balik jendela yang tidak tertutup tirai itu. Jendela kaca yang luas yang mampu menampilkan seluruh ornamen indah ruangan Kenan.
Kenan memperhatikan Kiana yang masih menangis. Tiba-tiba Kenan merasa bersalah karena telah menyuruh Kiana kembali ke rumahnya hanya untuk mengambil dokumen. Terlebih pihak perusahaan tidak mengantarkannya ke rumah dengan menggunakan kendaraan perusahaan, ia malah membiarkan Kiana pergi berjalan kaki.
"Apa aku terlalu keterlaluan?."
Batin Kenan merasa bersalah.
__ADS_1