
"Baru datang Kia?" Rini menghampiri Kiana yang baru saja duduk di kursinya.
"Sudah dari tadi, Rin. Cuma tadi aku ketemu dengan bapak-bapak tua di sana, jadi aku bantu bapak itu dulu." Ucap Kiana santai sembari membuka laptopnya karena ia akan memulai bekerja.
Rini berpikir sejenak, siapa sebenarnya bapak tua yang dimaksud Kiana.
"Bapak itu tua banget?"
Kiana menggelengkan kepala.
"Jadi?"
"Ya, sekitar lima puluh tahunan gitu, dia ingin bertemu dengan Pak Kenan." Jelas Kiana.
"Ya ampun Kia...." Rini berteriak histeris. Sementara Kiana bingung dengan ekspresi Rini yang mengejutkan dirinya.
"Itu direktur utama kita, ayahnya Pak Kenan." Jelas Rini yang mencoba mengingat-ingat agenda atasannya yaitu Malik, sebab hari ini Malik sempat ada agenda untuk menjemput Sandy, karena Sandy akan berkunjung ke kantor. Namun di batalkan karena Malik harus menemui investor di luar.
"Serius?" Kiana menutup mulutnya. Sebab ia menyadari bahwa tadi ia sempat menyebutkan kata-kata beruang kutub untuk Kenan.
"Ayah Pak Kenan?" Kiana kembali memastikan.
Rini mengangguk. "Kamu beruntung bisa bertemu langsung dengannya, bahkan kamu menolongnya." Kiana hanya mengangguk saja, dalam hati justru ia merasa malu.
"Pantas saja bapak itu tampak heran ketika aku mengucapkan kata beruang kutub." Batin Kiana.
***
"Apa kamu ada agenda hari ini?" Sandy terus mendesak putranya. Entah mengapa saat ini Sandy seperti dihadang penasaran tentang asal usul gadis yang baru saja ia temui tadi.
"Kenan ada pekerjaan Pa." Ucap Kenan cuek sembari ia memeriksa berkas yang masuk.
"*Selamat Pagi, dengan Perusahaan Prasetya, ada yang bisa dibantu?"
"Kiana, ke ruangan ku sekarang*." Ucap Kenan dalam panggilannya.
Kiana langsung bergegas menuju ruangan Kenan.
tok..tok..
__ADS_1
"Bapak panggil saya?" Kiana membuka sedikit pintu ruangan Kenan.
"Masuklah." Kiana pun masuk ke dalam ruangan lelaki yang ia juluki beruang kutub itu. Kiana memandang lekat wajah lelaki itu, ia merasa seperti ada yang berbeda, ia tidak arogan seperti biasanya, wajahnya tampak sedikit sembab.
"Kia, apa agenda padat hari ini?" Tanya Kenan dengan tatapan yang serius.
"Sedikit padat, Pak." Jawab Kiana sembari membuka buku kecil berisi catatan kegiatan Kenan.
"Ayah dengar sendiri, agenda saya cukup banyak. Sebaiknya ayah berjalan-jalan saja dengan Malik." Jelas Kenan, namun Sandy tetap tidak peduli.
Sebenarnya, Sandy dan Kenan adalah dua manusia yang mempunyai sifat yang sama. Keduanya sama-sama ambisius dan harus mendapatkan apa yang ia mau. Hanya saja Sandy dan Kenan berbeda generasi. Sandy sudah semakin tua, ambisiusnya tidak pernah berubah, apalagi saat ini ia memang sedang mencari menantu yang pas dan cocok untuk mendampingi sang putra kesayangannya.
"Sudah Pak itu saja?" Tanya Kiana kembali.
Kenan mengangguk dan memerintahkan Kiana untuk keluar ruangan itu.
***
Di rumah Kiana, sang Ibu yang berprofesi sebagai penjual mie kuah pun tampak sedang berkemas untuk membuka kedai bakmie miliknya.
"Hai, Ara, ambilkan dulu daun seledri di lemari es itu?" Teriak Santi memanggil Kiara, adik Kiana.
"Hai, Ara." teriaknya sekali lagi namun tidak ada jawaban.
"Aku ini memang manusia paling sedih, paling sengsara, punya dua anak kembar perempuan tidak ada guna, tidak bisa membantuku sama sekali, yang satu sibuk bekerja yang satu sibuk membaca. Apa aku harus mencari makan sendirian." Ucap Santi dengan nada lantang.
Satu persatu pelanggan pun hadir membeli bakmie kuah yang dijual oleh Ibu Santi, sebab di kota ini, hanya Santi yang menjual bakmie ala-ala Korea seperti yang dijual oleh Santi.
"Silahkan dinikmati, pesan lagi bila kurang." Ucap Santi saat melayani pengunjung yang memberi bakmie nya.
Tiba-tiba, langkah Santi terhenti, saat ia melihat dari tiga lelaki berdiri tegap di seberang jalan rumahnya. Lelaki yang biasa hadir di kedainya setiap sebulan sekali.
Santi berlari menuju rumahnya, berlari menghampiri Kiara yang masih di dalam kamar.
"Ara, segera kau amankan seluruh uang-uang mu, tabunganmu." Ucap Santi lirih.
"Kenapa Bu?" Kiara keheranan.
"Dia datang lagi." Jelas Santi, seolah mengerti akan maksud sang ibu, ia pun menyembunyikan seluruh uang simpanannya ke tempat-tempat yang tidak pernah orang menyangka ada uang di dalamnya.
__ADS_1
"Kamu keluar layani pelanggan, biar ibu yang menghadapi mereka."
"Tapi, Bu?" Kiara mencoba melarang sang Ibu yang sudah mempunyai keinginan yang kuat.
"Jadi siapa lagi, tidak ada lelaki yang bisa diandalkan di sini. Kita semua harus kuat."
"Tapi, itu sangat berbahaya Bu." Namun Santi tetap tidak peduli, ia tetap akan menghadapi preman-preman suruhan bandar tempat mantan suaminya berhutang.
"Bapak, Ibu maaf mengganggu makanannya. Tetap bapak ibu harap tinggalkan tempat ini, karena akan ada beberapa kumpulan preman yang akan menghancurkan warung ini." Jelas Santi dengan nada sedih. Ia tidak habis pikir ada orang Setega itu pada dirinya yang tidak pernah menyakiti orang lain.
Benar saja, preman-preman itu berlari memporak porandakan dagangan Santi, hingga semua pelanggan lari ketakutan.
"Hai mana uangnya, Fandi sudah berhutang lagi pada bos kami." Ucap Salah satu preman itu.
"Hei, urusan apa aku dengan dia, aku dan dia sudah berpisah, aku tak butuh lagi-lagi tak berguna seperti dia, yang bisanya hanya menghabiskan uangku saja." Jelas Santi.
"Aaaah..., mana duit." Salah satu preman membuka laci kecil tempat biasa Santi menyimpan uangnya.
"Hai, sudah aku bilang aku tidak punya uang, ini baru jam sebelas siang, aku baru saja buka kedai. Mana ada uang." Santi kembali menjelaskan, berharap preman-preman itu akan memiliki belas kasihan.
"Aaahhhh....sialan." mengumpat preman tersebut. Kemudian preman-preman itu pergi meninggalkan kedai Santi yang sudah dalam kondisi berantakan. Ia menangis sejadinya. ia menangisi nasibnya yang begitu malang.
Fandi adalah suami Santi yang sudah dua bulan ini ia usir karena Santi mengetahui bahwa ia selingkuh dan hanya memanfaatkan hasil kerja Santi saja untuk mencukupi kebutuhannya.
Fandi diusir oleh Santi, namun kepergian Fandi bukanlah akhir dari penderitaan Santi. Melainkan menjadi beban untuk Santi karena setiap Fandi berutang selalu Santi dan kedua anaknya yang menanggung utang tersebut.
"Ibu." Kiara datang menghampiri sang ibu yang tengah menangisi dagangannya.
"Tak guna kita hidup kalau terus menderita seperti ini." Santi kembali menangis.
"Nggak pala Bu, inilah takdir yang harus kita nikmati." Kiara berusaha menasehati sang Ibu agar lebih tenang dan kembali bersemangat lagi.
Ini semua memang ulah Fandi yang aneh kurang ajar itu. Ia selalu berbuat maksiat dengan memanfaatkan orang lain.
"Dasar keterlaluan kamu Fandi." Teriak Santi.
Membuat langkah Kiana berhenti melangkah untuk masuk ke dalam rumah.
" Apa saya boleh masuk?"
__ADS_1
***