
"Brukkk.." Kenan memukul asal tembok kamarnya hingga menciptakan luka di bagian tangannya.
Kenan benar-benar marah dengan keputusan yang baru saja Salsa utarankan. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa selama ini Salsa menjalani hubungan dengan terpaksa dan tidak bahagia, padahal ia sudah berusaha memberikan kebahagiaan untuk Salsa.
"Dua puluh tahun bersama, dari kecil kita selalu bersama-sama." Kenan membatin dalam hati, ia masih sulit untuk menerima kenyataan itu.
Dua puluh tahun lalu, saat Kenan masih berusia enam tahun dan Salsa berusia empat tahun. Mereka dipertemukan oleh persahabatan kedua orang tuanya Sandy Prasetya dan Raka Panduwinata, mereka selalu bersama sehingga berniat untuk menjodohkan kedua anak mereka, guna untuk tetap menjaga hubungan persaudaraan di antara mereka berdua. Bahkan sampai sekarang Sandy masih berharap bahwa putranya akan segera menikah dengan Salsa.
"Ken... Bukalah pintumu, jangan mengurung diri di kamar Ken, waktunya makan malam." Viona berteriak memanggil putranya yang sedang frustasi di dalam kamar.
"Sial, kenapa aku sebodoh ini dalam percintaan. Aku terlalu percaya dengan Salsa." Batinnya lagi. Ia melemparkan semua benda yang berada di atas meja kamarnya.
"Salsa, gue nggak akan melupakan kejadian ini, nggak akan melupakan kejadian disaat kamu menyepelekan aku, membuang aku begitu aja. Jangan harap aku akan kembali lagi, meskipun kelak kamu akan mengemis pun aku tidak akan sudi kembali."
Ceklek...
Kenan akhirnya keluar kamar, setelah setengah hari mengurung diri di kamarnya. Ia menemui kedua orang tuanya yang sedang makan malam bersama.
"Hai sayang." Sapa Viona.
"Kamu oke Ken?" Sandy pun menyapa putranya. Pewaris tunggal perusahaan Prasetya.
Kenan menganggukkan kepalanya. "Ken." Sandy kembali berbicara, kali ini aktifitas memakannya sedikit terhenti.
"Papa minta maaf, ini semua salah papa. Papa dan Mama terlalu memaksakan kehendak kami, tanpa memikirkan perasaan kalian berdua." Kenan melihat ke arah Sandy.
"Mama sudah menceritakan semuanya sama Papa, jujur papa sedih. Tapi, di satu sisi papa bersyukur. Sebab, dalam kasus ini, kesalahan bukan terletak pada kamu Ken, tetapi kesalahan itu terletak pada Salsa, dia yang membatalkan semuanya." Ujar Sandy. Kenan pun hanya mengangguk, ia sebenarnya sudah tidak ingin membahas malah ini.
"Jadi apa rencana mu selanjutnya." Sandy kembali bertanya.
"Kenan nggak tahu Pa, intinya Kenan tidak ingin melihat Salsa lagi, Kenan ingin pergi jauh dari sini."
"Tapi ke mana Ken?" Viona menyahut.
"Malaysia, bisnis Kenan ada di sana Pa, Ma."
"Oke, kamu akan Papa alih tugaskan ke sana, tetapi sebelum ke sana, kamu harus mencari istri terlebih dahulu, agar ada yang mengurusi mu di sana." Jelas Sandy.
"Pa..." rengek Kenan.
__ADS_1
"Ken, ini demi kebaikan kamu juga, demi kelancaran bisnis kamu, yakinlah di balik kesuksesan seorang lelaki hebat, maka ada doa wanita hebat di belakangnya, dan itu nyata, papa sudah membuktikannya." Jelas Kenan.
"Tapi Pa, Kenan baru saja terluka." Sanggah Viona membela putranya.
"Justru luka itu harus segera diobati dengan yang baru. Kali ini pilihan papa serahkan kepadamu sepenuhnya." Keputusan Sandy sudah bulat, dan tidak bisa dibantah lagi, Kenan yang sudah paham akan hal itu hanya bisa diam saja.
***
"Satu bulan, satu bulan lagi aku harus sudah berada di Malaysia, aku ogah tinggal di sini lagi Lik, karena hari-hariku akan kutemui dengan melihat wajah Salsa." Pagi-pagi sekali Kenan sudah sampai ke kantor hanya untuk mengadukan hal tersebut kepada teman baiknya Malik.
"Tapi bos, siapa yang mau menjadi istrimu." Kenan menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu."
Di lain tempat, Sandy sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Sandy memang sudah tua, ia sudah menyerahkan segala urusan kantor kepada putranya. Namun, entah mengapa hari ini ia ingin berkunjung ke sana hanya untuk sekedar melepas rindu saja.
"Kenan mana Ma." Tanya Sandy mengajak putranya untuk sarapan bersama.
"Kenan sudah pergi sekitar setengah jam yang lalu." Mendengar jawaban sang istri Sandy mengerutkan dahinya.
"Cepat sekali?" Viona menggelengkan kepalanya.
"Tidak tahu, katanya ia ingin segera menemui Malik."
Tiga puluh menit kemudian, Sandy sudah berada di kantor. Semua pegawai pun turun memberi salam kepada Sandy, sambutan itu terdengar sering berganti sampai Sandy sampai di lantai khusus ruangan CEO dan pejabat tinggi lainnya.
Brukk..
Tiba-tiba Sandy mengalami keram pada kaki kirinya hingga ia kesulitan untuk berjalan. Sandy kebetulan hanya sendirian tanpa ada yang mengawalnya pun membuat ia panik harus berbuat apa. Ia berjalan sembari merambat kan tangannya ke tembok.
"Permisi." Sapa Kiana.
"Iya. Ada apa?"
"Bapak terlihat kesusahan berjalan, apa yang bisa saya bantu?". Kali ini Kiana menawarkan jasa kepada pejabat tinggi di perusahaannya. Kiana tidak tahu siapa Sandy, bagi Kiana menghampiri Sandy memang murni karena jiwa sosialnya yang terlalu tinggi.
"Kaki saya tiba-tiba keram, saya juga nggak tahu kenapa." Sahut Sandy.
"Oh, mungkin saja bapak salah mengambil langkah, sehingga tanpa sadar urat menjadi kejepit."
"Mungkin saja seperti itu." Kiana menuntun Sandy berjalan, menuju ruangan Kenan yang masih jauh.
__ADS_1
"Saya tidak pernah melihatmu."
"Oh,saya baru satu bulan bekerja di sini Pak, saya sekretarisnya si beruang kutub. "
Kiana menutup mulutnya segera, sebab bisa-bisanya ia memberitahu julukan Kenan kepada orang lain.
"Eh, maksud saya, Saya adalah sekretaris barunya Pak Kenan Prasetya. Oya, ngomong-ngomong bapak ingin bertandang ke ruangan siapa?" Tanya Kiana polos.
"Ke ruangan Kenan Prasetya." Sahut Sandy dengan senyum ramahnya, sebab wajah Kiana tidak asing baginya.
"Wajahmu mengingatkan saya pada masa lalu saya. Mirip sekali seperti kamu. Siapa namamu?"
Kiana terheran-heran dengan ucapan Sandy, ia pun membalasnya dengan senyuman ramahnya. " Nama saya Kiana, panggil saja saya Kia pak."
"Oh ya,.sudah sampai di ruangan Pak Kenan Pak, silahkan masuk." Sandy pun mengangguk. "Terima kasih Kia."
"Sama-sama Pak."
Kiana pun duduk di kursi kebesarannya dengan segala tugas yang sudah diberikan kepada Kenan.
"Hai Kia." Sapa Malik padanya.
"Hai, pak Malik."
"Sudah berapa kali saya bilang, jangan panggil saya bapak, sejak kapan saya jadi ayah kamu."
Kiana tampak tertawa sumringah mendengar lelucon dari atasannya tersebut. Kiana dan Malik memang sering duduk dan berdiskusi berdua membicarakan bos nya yang semakin hari tingkah lakunya semakin aneh.
"Kenan, siapa Kiana itu?"
"Sekretaris baru Kenan Pa. " Ucap Kenan menjawab pembicaraan awal antara ayah dan anaknya.
"Wajahnya tidak asing."
"Maksud Papa?"
"Wajah mirip sekali seperti mantan kekasih papa dulu sebelum mengenal Mama kamu. Bisa kamu cari tahu asal usul gadis itu Ken? atau kamu temani papa untuk mencari tahu siapa ibu gadis itu." Jelas Sandy.
"Pa.. tolong jangan yang aneh-aneh."
__ADS_1
***