
Hirup pikuk pagi hari dengan segala kemacetan di sana-sini. Semua orang di kejar oleh waktu, jangan sampai mereka terlambat, jangan sampai mereka ketinggalan angkutan, dan sebagainya.
Pagi ini adalah hari yang berbeda yang baru di rasakan oleh Kiana, sebab untuk pertama kalinya ia merasakan betapa nikmatnya menumpangi mobil mewah, dengan segala fasilitas seperti mobil para sultan yang ia lihat di televisi, bahkan ini lebih dari yang ia lihat. Namun tetap saja, mobil mewah yang ia tumpangi juga masih terkena macet di pagi hari, hanya saja tidak separah yang lain, tidak sampai menunggu berlama-lama.
Di kursi supir ada Malik yang dengan setia membawa sang bos berkelana kemana pun yang ia inginkan. Sementara di samping Malik ada Kenan yang masih duduk terdiam melihat ponselnya. Dari raut wajahnya ia tampak gelisah. Gelisah yang disebabkan karena Salsa tidak kunjung ia temukan. Salsa sengaja mematikan GPS di ponselnya yang beberapa tahun lalu sengaja dipasang Kenan agar ia mudah mengetahui posisi sang kekasih. Namun sayang, Salsa kali ini memang benar-benar ingin menghilang dari Kenan.
Sementara Kiana, ia masih terpaku tidak percaya dengan apa yang ia rasakan saat ini. Ia seperti seorang bangsawan saat ini. Ia begitu menikmati perjalan menuju bandara dengan mobil mewah yang ia tumpangi. Berulang kali ia menepuk-nepuk pipinya, ia takut ini hanya mimpi. Ternyata ini nyata, bukanlah mimpi.
"Sial, di mana gue bakalan nemui Salsa kalau dia memutus semua aksesku bertemu dengan dia." Gumam Kenan sambil meraup wajahnya dengan kasar.
"Sabar Ken, mungkin dia memang lagi pengen sendiri."
"Tapi kenapa? apa salahku sampai dia ninggalin aku kayak gini Lik? Dia nggak ada cerita apa-apa tentangku."
"Lo yakin?" Malik menanyakan hal tersebut dengan serius. Kenan hanya diam sesaat.
"Nggak mungkin ada api Ken, kalau nggak ada asap." Lanjut Malik.
"Ini semua karena kamu." Kenan berbalik arah ke belakang menunjuk wajah Kiana.
Kiana yang sedari tadi melamun tiba-tiba terkejut dan mematung begitu saja.
"A.a.aku?" Kiana menanyakan kembali.
"Iya kamu, gara-gara kamu menabrakku beberapa hari yang lalu, aku jadi kehilangan jejak Salsa."
"Tapi, saya nggak sengaja Pak, lagian saya sudah minta maaf juga sama bapak."
"Itu nggak cukup, kamu harus membayar semuanya dengan sangat mahal." Ucap Kenan dengan angkuh.
"Apa? asal bapak tahu, saya selama satu bulan tidak terima gaji gara-gara peristiwa tersebut apa itu masih belum bisa menebus semuanya?!!"
"Belum." Kenan dengan datarnya.
"Iiiiiiiiiihhhhh, menyebalkan, dasar laki-laki menyebalkan."Batin Kiana. Tentu saja ia tidak seberani itu memaki Kenan, sebab ia tidak ingin merusak momen pertama ia kerja.
__ADS_1
"Sabar Kiara, sabar. " Batinnya kembali.
"Wah, sepertinya sudah mau sampai, Kia, kamu bisa bersiap-siap. Jangan sampai ada yang tertinggal." Ucap Malik.
"Baik Pak Malik."
"Dan kamu Ken. Ayo fokus, coba lupakan sejenak Salsa. Ingat ini tender besar untuk perusahaan lo." Ucap Malik.
Malik adalah teman kecil Kenan, Malik sedari kecil sudah dibesarkan oleh keluarga Kenan. Tepatnya sejak kedua orang tuanya yang tidak lain adalah sahabat ayah Kenan itu mengalami kecelakaan pesawat hingga tewas. Akhirnya orang tua Kenan berniat untuk mengangkat Malik sebagai anak mereka. Maka dari itu, Malik yang menyadari hal tersebut sejak dewasa, ia selalu mendedikasikan dirinya untuk keluarga Kenan. Menganggap kedua orang tua Kenan sebagai orang tuanya sendiri, dan menganggap Kenan seperti adik baginya, karena Malik dan Kenan lebih tua Malik beberapa bulan.
"Gue nggak bisa kalau gue nggak tahu kabar Salsa Lik, Lo kan tahu itu. " Bantah Kenan.
"Iya, gue tahu Lo cinta mati sama Salsa. Tapi Lo kudu ingat juga, ini demi nama baik dan masa depan keluarga Kenan." Malik menatap Kenan dengan serius, dan Kenan pun menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Oke, good luck brother." Malik menepuk pundak Kenan, kemudian mereka turun dari mobil karena mereka sudah sampai di bandara, dan langsung menuju ke arah pesawat pribadi mereka.
"Bisa cepat nggak jalannya." Ucap Kenan cetus pada Kiana yang sedari tadi sedikit kesulitan dengan rok span yang sempit sehingga langkah pun menjadi tidak lebar.
"Baik Pak." Kiana berusaha menuruti perintah sang tuan.
Hanya butuh beberapa jam saja, mereka sudah mendarat di bandara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia. Kiana masih terus mempercepat langkahnya mengikuti langkah sang atasan yang sengaja dipercepat agar Kiana merasa semakin kesulitan.
Setelah keluar dari bandara, mereka langsung menuju ke hotel yang telah ditentukan untuk melakukan pertemuan. Benar saja, sesampainya di hotel Datuk Aiman sudah menunggu di ruang pertemuan.
"Assalamualaikum Datuk Aiman, I'm sorry saya terlambat." Ucap Kenan sembari mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan.
"Wa'alaikumsalam, tidak masalah tuan Kenan. Saye juga baru saja sampai. Baiklah langsung saja kita mulai rapat kita hari ini."
Kiana mencatat setiap hal-hal penting yang dibicarakan oleh Kenan. Mempersiapkan setiap hal yang diminta oleh Kenan. Sampai Malik dibuat heran melihat tingkah Kenan yang tidak berhenti menguji Kiana.
"Lo, nggak capek dari Datuk Aiman masih di sini, sampai udah sampai rumahnya, Lo masih aja nguji si Kia untuk menyiapkan segala permintaan aneh Lo. Dari mulai memilihkan warna jas, dasi, dan menyiapkan makan siang serta minuman pendamping untuk lo. Bos, dia sekretaris bukan pembantu." Cetus Malik.
"Diam, anggap aja ini pembalasan gue."
"Nggak gitu juga caranya. Kasihan muka dia lelah banget. Masih ada pertemuan untuk makan malam dengan Datuk Aiman nanti malam." Jelas Malik.
__ADS_1
"Kiana." panggil Kenan sehingga menghentikan aktifitas Kiana yang sedang membereskan baju-baju Kenan yang ada di dalam koper.
"Kamu boleh istirahat, jangan lupa nanti malam kita akan menghadiri makan malam bersama. Kamu kesini lebih cepat, karena kamu harus membantu saya mempersiapkan semuanya." Jelas Kenan.
"Baik tuan."
Kiana pun keluar dari kamar Kenan, kemudian masuk ke dalam kamarnya yang hanya selisih dua kamar dari kamar Kenan.
Ping..
"Bisa kamu ke sini."
pesan itu melayang sesaat Kiana baru saja merebahkan tubuhnya yang terasa lelah.
"Oh tuhan, aku baru saja ingin istirahat, namun pria arogan itu kembali memanggilku. Sebenarnya itu pikiran terbuat dari apa sih, apa dia nggak punya hati sampai-sampai ia tidak mengizinkan istirahat." Gumam Kiana.
Kiana pun berjalan masuk ke kamar Kenan yang berdiri sendirian menghadap jendela. Malik sedang istirahat di kamarnya.
"Tuan memanggil saya?"
"Hemm, coba kamu pakaikan dasi ini." Kenan menunjuk sebuah dasi yang ada di atas meja.
"Tapi.." Kiana ingin membantah ragu. Sejujurnya ia tidak pandai memakai dasi.
Kiana mencoba memasang dasi yang ia bisa, bukannya makin bagus, leher Kenan seolah-olah terlilit kain.
"Cuih" Kenan meludah sembarang.
"Dasar perempuan nggak bejus. Apa yang kamu bisa? mengerjakan hal mudah seperti ini saja kamu nggak mampu." Upat Kenan.
"Maaf tuan, tapi saja memang tidak pandai memakaikan dasi."
"Tapi saja tidak perduli, karena kamu kerja di sini hanya untuk menuruti perintahku. Dasar wanita kampung."
"Apa tuan bilang, saya wanita kampung? Iya tuan saya memang wanita kampungan nggak nggak bisa memasang dasi. Tapi setidaknya wanita kampungan seperti saja, masih punya hati, tidak seperti tuan yang arogan yang tidak mempunyai hati." Jelas Kiana kemudian pergi sembari membanting pintu. Ia seakan lelah sudah di atas ubun-ubun, sehingga ia lepas kendali.
__ADS_1
***