Aku Terima Nikahnya

Aku Terima Nikahnya
Bertemu Saingan


__ADS_3

Di tempat yang berbeda, Kenan dan Kiana masih mempersiapkan materi rapat yang sempat tertunda kemarin karena kesalahan Kiana kemarin.


Kiana tampak sangat nervous karena ini adalah pengalaman pertamanya menyiapkan materi persentasi untuk rapat Kenan. Sebelumnya Kiana tidak pernah melakukan itu, ia takut melakukan kesalahan lagi seperti kemarin.


Kenan menatap wajah Kiana yang sudah pucat, sebelum ia masuk ke dalam ruangannya.


"Bagaimana dengan materi rapatnya, sudah kamu selesaikan Kia?" Tanya Kenan, kali ini Kenan tidak ingin menegurnya karena ia takut membuat hatinya sedih seperti kemarin.


"Sudah Pak." Kiana mengangguk. Rini pun tampak sedang menyemangatinya, sebab Rini tahu bahwa ini adalah pengalaman kerja Kiana yang pertama.


"Kia, ayo dong semangat, kamu pasti bisa, semua pasti bisa melewati ini dengan baik." Rini mencoba mencairkan suasana.


"Aku takut salah lagi Rin."


"Aku yakin kali ini pasti berjalan dengan lancar. Pak Chan tidak sesulit itu orangnya." Jelas Rini.


"Pak Chan, bukannya kemarin Pak Kenan bilang investor kita dari luar negeri ya?" Kiana mencoba melerai penjelasan Rini.


"Dia berbohong kepadamu." Ucap Rini.


"Apa!!?! jahat sekali dia." Batin Kiana ketika mendengar pernyataan Rini. Ingin rasanya Kiana memaki Kenan jika ia melihat betapa letihnya peristiwa kemarin itu, di saat ia dipaksa balik karena dokumennya itu tertinggal.


"Kamu kenapa, Ki."


"Nggak papa, aku cuma lagi nahan marah aja."


"Eh Kia, Pak Chan itu orangnya ganteng banget loh, udah ganteng, ramah lagi, selalu hangat sama karyawannya, pokoknya beda banget sama bos kita. Tapi, Pak Kenan sama Pak Chan itu nggak pernah akur, padahal temenan. Mungkin karena persaingan bisnis kalinya." Ujar Rini, namun Kiana hanya tersenyum kecut ia memang selalu beranggapan apa yang ada pada diri bosnya adalah buruk dan berbeda.dari kebanyakan orang.


Tidak lama kemudian terdengar suara Malik memanggil nama mereka berdua. Malik meminta mereka untuk segera berkumpul di ruang rapat.

__ADS_1


detak jantung Kiana semakin tidak beraturan. Kenan pun dapat melihat hal itu dari raut wajah Kiana.


"Saya sudah siap pak."


"Bagus, saya harap kamu tidak membuat malu saya lagi."


***


Di ruang rapat, Chan beserta rombongan sudah berada di ruangan. Begitu juga disusul dengan Kenan beserta rombongan. Kenan tampak berjalan santai memaparkan ide cemerlangnya yang didesain oleh Kiana. Ide itu cukup menarik dan unik namun sayang, semuanya dikemas tanpa ilustrasi perancangan.


"Maaf, bagian sini tidak tersedia ilustrasi." Ucap Kenan, sembari melirik ke arah Kiana yang sudah memucat. Sampai pada akhir pemaparan materi yang disampaikan Kenan tidak menggunakan ilustrasi sebagai gambaran dari ide cemerlang yang telah dirancang Kenan.


"Maaf Ken, sepertinya perusahaan ayahku tidak berminat untuk mengambil proyek ini." Ucap Chan saat persentasi itu sudah selesai di jabarkan.


"Loh, bukannya kamu sudah berjanji Chan?" Malik membantah, seolah kembali mengingatkan akan kesepakatan mereka beberapa hari yang lalu.


"Benar, aku memang sudah janji. Tetapi, rasanya rancangan ini masih terlalu biasa." Sanggah Chan kembali.


"Sudah Lik." Kenan berusaha menenangkan Malik yang terbawa emosi.


"Oke, terima kasih atas waktunya Chan, ada ataupun tidak adanya sumbangsih dana kamu di sini, perpustakaan ini akan tetap terlaksana dan terbangun di sini. Hanya tunggu beberapa bulan lagi saja."


"Tentu, Ken. Semoga berhasil. Oh ya saya ke sini juga sekalian ingin mengundang kamu di acara pernikahan saya Minggu depan." Kenan mengerutkan dahinya sebab ia tidak yakin seorang Casanova bisa menikah dan menjatuhkan pilihan pada seorang wanita.


"Benarkah. Selamat kalau begitu, pacar kamu pasti sangat cantik sekali." Ucap Kenan.


"Tentu saja, ia sangat cantik sekali. Cantiknya seperti bidadari." Jelas Chan sembari tersenyum santai. Ia sengaja menyembunyikan Salsa dari Kenan terlebih dahulu, meskipun Salsa sudah memberi tahu bahwa dirinya sudah terlepas dari Kenan.


"Saya harap kamu datang dengan membawa pasangan bro." Kenan kembali mengerutkan dahi, dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal.

__ADS_1


Begitu juga dengan Malik yang ikut menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Sebab ia tahu apa yang sedang dirasakan bosnya kala mendapatkan pertanyaan tersebut.


"Baiklah, aku akan datang nanti." Ucap Kenan sembari berjabat tangan dengan Chan. Begitu juga Chan yang mengakhiri perjumpaan mereka dengan bersalaman.


Kiana dan Rini tampak tidak tenang setelah rapat itu selesai. Pasalnya kinerja Kiana dapat dikatagorikan gagal karena Kenan tidak dapat memperoleh investasi tersebut.


Kenan berjalan tampak serius dengan dingin dan kecewa.


"Bagaimana bisa mengerjakan tugas seperti itu aja kamu gagal? Kamu bisa kerja tidak?" Kenan menaikan suaranya. Kiana hanya diam tertunduk dan tidak berani untuk berbicara dalam rangka membela dirinya.


"Ck... sedari awal kamu memang selalu saja menyusahkan ku, merepotkan ku, dan merugikan ku" Ucap Kenan dengan pedas membuat Kiana melongok ke arah Kenan.


Terlihat jelas wajah kecewa Kenan karena tidak mendapatkan tender dari temannya sendiri. Untuk pertama kalinya Chan menginjak-injak harga diri perusahaan Prasetya. Biasalah Chan dibuat kagum dengan segala perencanaan sehingga tidak ada cela bagi perusahaan Chan untuk menolak kerjasama. Sebaliknya, perusahaan Kenan selalu banyak menolak kerja sama dengan Chan, karena selalu ada cela untuk Kenan menolak kerja sama bersama Chan.


"Maaf pak." Ucap Kiana dengan gugup.


"Iya pak, maafin Kia, dia kan masih baru di sini pak, belum berpengalaman. Rini yakin setelah ini Kiana pasti akan lebih giat belajar, yakan Ki?" Rini berusaha mendinginkan suasana.


"Benar Ken, lagian inikan cuma kerja sama dengan Chan, temen kita sendiri." Sambung Malik.


"Iya, temen. Tapi dia musuh gue juga, musuh dalam selimut. Gengsi dong kalau kita kalah dari dia." Sahut Kenan kesal.


"Baru kali ini kita kalah bos, kalah sekali dari kemenangan yang kesekian kali." Jelas Malik. Kenan meraup wajahnya dengan kasar.


"Ha.. kalian memang sama saja. Sama seperti gadis ini." Ucap Kenan, kemudian dia pergi masuk ke dalam ruangannya.


Sebenarnya kekesalan Kenan bukan sepenuhnya karena Kiana. Kekesalan Kenan sebenarnya lebih kepada Chan yang mengundangnya ke pesta pernikahannya. Laki-laki Kenan kalah dengan Chan.


"Dengan siapa pria aneh menikah? siapa wanita yang bisa meluluhkan hati Chan." Batin Kenan, entah mengapa sejak Chan memberitahunya prihal pernikahannya ia menjadi gelisah dan tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang ganjal di hatinya.

__ADS_1


***


__ADS_2