
Kenan masih sibuk bertemu dengan kliennya, berbincang dan menawarkan keunggulan dari perusahaannya agar klien mau menanam saham untuk perusahaannya.
Sedangkan Malik masih setia menemani Kenan hingga acara itu pun selesai. Tapi ada satu hal yang kurang. Kiana tidak berada di tempat di mana Kenan dan Malik berada. Awalnya Kenan tidak mempermasalahkannya. Namun lama-lama isi hati Kenan yang paling dalam menjadi gundah dan dikutuk dengan rasa bersalah karena telah memarahi Kiana. Kenan awalnya yang terlihat santai kini mulai panik karena tidak adanya Kiana di samping dirinya dan Malik.
"Kiana mana? dari awal pertemuan sampai sudah selesai kenapa belum juga turun untuk menemui kita?"
"Aku sudah berusaha menelponnya, tapi panggilan diluar jangkauan." Ucap Malik.
"Lu sudah ketuk pintu kamarnya?" Tanya Kenan kembali.
"Sudah, tapi tidak ada jawaban dari dalam. Aku kira ia kabur, tapi ternyata nggak, aku tanya sama cleaning Service hotel yang bekerja di situ, mereka bilang di dalam kamar masih ada orang. Bahkan orang tersebut baru saja meminta tolong saja untuk membuang tumpukan sampah tissu ini." Jelas Malik.
Kenan seketika meraup wajahnya. "Apa semua wanita memang ditakdirkan untuk ingin menang sendiri, Lik. "
"Ya, nggak juga Ken. Cuma kebanyakan begitu."
"Lantas aku harus bagaimana Lik." tanya Kenan.
"Bujuk dia, dan minta maaf sama dia Ken, nggak lucu Ken kalau anak orang pulang sendirian dari negeri orang, apa kata orang tuanya, dikiranya kita nggak bertanggung jawab jadi atasan." Jelas Malik dengan penuh bijaksananya. Inilah sisi lain dari Malik yang selalu menyalurkan ide nya dalam setiap solusi.
"Loh, di sini dulu ya, gue mau bujuk Kiana lagi buat turun ke sini, makan bareng sama kita." Ucap Kenan dengan antusias. Ia segera berlari menuju lift lalu menekan tombol lantai tempat Kiana tinggal.
"Ting" pintu itu pun terbuka, Kenan segera berlari menuju kamar Kiana yang tidak jauh dari kamarnya.
"tok...tok...tok.."
__ADS_1
"Kiana, apa kamu masih di dalam?" Ucap Kenan. Namun Kiana masih enggan untuk menjawab panggilan Kenan. Hingga akhirnya kesabaran Kenan habis, ia pun mengeluarkan kunci cadangan yang diminta Kenan oleh resepsionis.
Sampai akhirnya Kenan mampu masuk ke dalam kamar Kiana.
Di dalam kamar Kiana masih tidur pulas dengan balutan kaos lengan pendek dan celana hotpants berwarna hitam favorit Kiana.
di sana Kenan melihat pemandangan yang berbeda, darahnya seketika berdesir, dan tanpa sadar ia menelan Saliva nya dengan kasar. Kiana terlihat berbeda di matanya kali ini. Matanya terlihat sembab dan membuat Kenan semakin merasa bersalah, karena telah mengecewakan hati Kiana dengan ucapannya.
"Kiana." Panggil Kenan. Kiana pun menggeliat saat namanya dipanggil lembut oleh Kenan.
Mata Kiana yang setengah sayup membuat bayangan tubuh Kenan yang berdiri menatap Kiana pun menjadi buram dan tidak jelas.
"Kamu siapa?" Ucap Kiana tanpa sadar.
"Dasar gadis aneh, kalau sudah tidur nggak sadar semuanya." Omel Kenan dan itu terdengar oleh Kiana, seketika Kiana mengenali suara tersebut.
"Tuan, pergi nggak dari sini." Kiana semakin panik.
"Hei, kamu tenang." Ucap Kenan yang mendekati Kiana.
"Tuan mendekat, aku teriak, tolonglah pak, jangan memanfaatkan keadaan." Sanggah Kiana.
"Hei, siapa yang memanfaatkan mu, justru aku ke sini mau minta maaf." Ucap Kenan.
"Minta maaf untuk apa? laki-laki arogan sepertimu apa punya kata minta maaf?" Ucap Kiana ketus.
__ADS_1
"Hei, ya tentu saja punya, aku mau minta maaf soal semalam." Ucap Kenan santai sembari mendudukkan dirinya di pinggir ranjang. Mendengar hal tersebut Kiana diam. Ia pun sadar pada saat itu mood nya sedang tidak stabil sehingga ia menjadi mudah tersinggung.
"Tidak perlu minta maaf tuan, saya yang salah. Saya terlalu terbawa suasana, saya mohon jangan pecat saya, dan saya minta maaf atas segala ucapan saya yang salah." Ucap Kiana.
"Tidak perlu, karena sepenuhnya saya yang salah, dan tidak seharusnya berucap yang sedemikian itu." Jelas Kenan.
"Sekarang semua harus baik-baik saja ya." Sambung Kenan kembali.
Kiana pun mengangguk. Ia bagaikan mimpi lelaki arogan itu mau meminta maaf padanya. "Tapi saya benar-benar tidak bisa memakaikan tuan dasi, maukah tuan mengajari saya?" Pinta Kiana yang sedikit canggung. Ia sengaja mempelajari semua tentang Kenan, agar tidak terjadi kesalahpahaman kembali.
"Dengan senang hati, ayo, bangunlah, aku akan mengajarkanmu cara pakai dasi." Ucap Kenan.
"Pertama kamu harus menyiapkan kursi kecil untukmu memanjat, karena kamu sangat kecil bagiku. Nanti kamu kesulitan karena kamu pendek.
"Kedua, kamu harus memilih dasi yang sesuai yang akan aku kenakan."
"Kegita baru kamu mulai memakaikan dasi tersebut padaku." Jelas Kenan, dan Kiana pun segera mencari perlengkapan untuk memakaikan dasi sang atasan.
dalam waktu lima menit Kiana sudah berada di hadapan Kenan, dengan kakinya menjinjit kursi kecil yang sudah kenakan. Kenan pun mulai mengajari Kiana dengan perlahan.
"Masukkan saja tali sebelah ini." Ucap sama Kenan mengajari, dan benar saja, keterampilan Kiana dalam menyerap ilmu dari bos nya cukup banyak sehingga sangat membantu.
"Ye.. aku bisa memasangkannmu dasi, saat kita berjalan, semua akan kita landasi dengan kekuatan iman juga.
"Bagus kamu sangat cerdas Kiana." Salut dirimu padamu.
__ADS_1
***