Aku Terima Nikahnya

Aku Terima Nikahnya
Penyesalan


__ADS_3

Hujan mulai turun satu demi satu, menyisakan bercak-bercak di dinding yang berbahan kaca, lebih tepatnya kaca mobil sedikit mengganggu pandangan Kenan saat menyetir. Ini sudah lebih dari satu jam Kenan berjalan mengitari seluruh kota Jakarta Selatan. Namun tidak ia temukan keberadaan Salsa, bahkan nomor Salsa pun belum juga bisa dihubungi.


"Sa, sebenarnya kamu di mana? sebesar itukah kesalahanku, sampai kamu rela menghukumku seperti ini."


Kini Kenan memutuskan untuk kembali ke rumah, ia merasa putus asa sebab Salsa tidak kunjung ia temukan.


***


"Kamu siapa?"


"Hai, berani-berani kamu mendekatiku."


"Hei, kamu kenapa menangis?"


"Tolonglah aku Kiana...Tolong. "


"Apa yang bisa aku bantu, Hai, kenapa kamu pergi."


"Aaaaduh, sakit tau Ra." colek Kiana yang refleks memukul bokong Kiana sampai ia terbangun dari tidurnya.


"Lagian kamu tidurnya teriak-teriak kayak di hutan gitu, berisik tahu."


Kiana terdiam sesaat, ia masih menyaring arti dari mimpinya tersebut. Mimpi yang menurutnya sangat aneh.


" Kenapa Kia?"


"Gue mimpi buruk Ra, eh dibilang buruk sih enggak buruk-buruk amat. Jadi gini, gue mimpi bapak arogan itu." Jelas Kiana.


"Bapak Arogan siapa? Aku lupa." Jawab Kiara setengah sadar.


"Itu loh yang aku ceritakan tadi, yang bikin gaji aku dipotong."


"Ha, terus kenapa kamu sampai teriak-teriak gitu?"


"Dia minta tolong ke gue." Ucap Kiana sambil berpikir luas. Ia heran kenapa wajah lelaki itu seketika masuk ke dalam pikirannya.


"Yaudah lah kak, mimpi itu hanya bunga tidur, kamu nggak baca doa kali tadi, udah tidur aja lagi."

__ADS_1


Kiana pun mengangguk dan menuruti perintah sang adik.


***


Di tempat yang berbeda kini Chan dan Salsa telah berada dalam satu selimut tebal menutupi tubuh polos mereka.


Tubuh Salsa membelakangi Chan. Ia menangis tersedu-sedu menyesali segala sesuatu yang telah mereka lakukan.


Salsa bangkit dari tempat tidurnya. Namun tangan kekar Chan dengan sigap menghalang tubuh Salsa.


"Lepasin Chan."


"Kamu mau kemana?"


"Mandi." Ucap Salsa ketus.


"Hai, kenapa menangis?" Tanya Chan, berusaha simpati.


"Permisi, aku mau ke kamar mandi."


"Kenapa, aku melakukan itu?" teriaknya dengan parau.


Sementara di luar sana, Chan mulai panik, kenapa sedari tadi Salsa tidak kunjung keluar dari kamar mandi. Ia pun mutuskan untuk menghampirinya.


"Salsa, kamu ngapain." Chan berusaha mendekati Salsa.


"Stop...jangan mendekat, jangan dekati aku Chan."


"Kenapa?"


"Aku benci sama kamu."


"Oke, salahkan aku perkata tadi malam, tapi jangan rusak persahabatan kita Sa."


"Kalau nanti Kenan tahu bagaimana Chan?"


"Aku janji akan tutup mulut."

__ADS_1


" Kalau nanti aku hamil?"


"Aku akan tanggung jawab." Chan menjawab dengan santai.


"Nggak semuda itu Chan." Bantah Salsa.


"Kenapa? aku cinta sama kamu, aku siap menikahi mu Jika kamu mau."


Salsa berusaha membantah. "Tapi aku nggak mau menikah denganmu."


"Kenapa Sa? aku punya masa depan untukmu, sedangkan Kenan? jangankan masa depan, menjadikanmu sebagai prioritas saja susah baginya. "


Salsa diam sesaat, apa yang diucapkan Chan memanglah benar, tapi ia selama ini buta oleh cintanya pada Kenan.


"Percayalah padaku Salsa. Jika sesuatu terjadi apa-apa denganmu, aku akan bertanggung jawab."


"Janji?" Salsa mengulurkan tangannya.


"Janji." Chan pun mendekat, dan membalas uluran tangan itu.


"Sekarang jawab pertanyaanku. Apa kamu juga mencintaiku Salsa?" Tanya Chan dengan pandangan yang serius.


"Lebih tepatnya aku nyaman bersamamu, dan aku bahagia, serta aku peduli dengannya." Jawab Salsa.


"Apa kamu tidak ingin merubah perasaan nyaman itu menjadi cinta agar kamu dapat membalas cintaku?"


Salsa diam sesaat. "Bagaimana dengan Kenan?"


"Tinggalkan."


"Nggak bisa semudah itu Chan, aku dan Kenan dipersatukan karena kedua orang tua kami sudah menyatukan kami sedari kami masih berusia 5 tahun."


"Kalau begitu kalian menentang takdir?"


Salsa pun terdiam.


****

__ADS_1


__ADS_2