
Satu.. dua tiga hari berlalu sejak kejadian penggrebekan tersebut, semua kembali seperti semula. Kondisi Kiana pun sudah pulih dan kesedihannya pun telah ia lupakan.
Pagi ini seperti biasa semua anak-anak Santi sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Kiana sibuk mengurus diri untuk berangkat ke kantor sementara Kiara sibuk bersiap diri untuk mengajar di sekolah sederhana yang berada tidak jauh dari rumahnya. Sementara Santi, ia sibuk di dapur untuk menyiapkan dagangannya hari ini.
Di seberang jalan, telah terparkir mobil mewah berwarna hitam yang sedari pukul enam pagi tadi sudah berada di sana. Ia sengaja datang hanya untuk mengamati sosok gadis yang sudah mencuri hatinya karena kebaikan hatinya.
"Menurut informasi itu rumahnya tuan." Ucap Malik pada Sandy yang masih mengamati rumah sederhana tersebut.
"Hanya sebuah ruko kecil dengan kedai makanan di depannya." Ucap Sandy merasa miris, entah mengapa ia sedikit berpikir ulang tentang rencana tidak masuk akalnya yang akan menjodohkan putranya dengan gadis yang telah menolongnya beberapa hari yang lalu. Sebab Sandy tahu, sang putra pasti akan menolak dengan alasan tidak sederajat.
"Kamu sudah melihat gadis tersebut berangkat ke kantor?"
Malik menggelengkan kepala. "Belum tuan, menurut info yang saya ketahui dari orang terdekatnya, gadis itu berangkat ke kantor dengan berjalan kaki menuju terminal."
"Gadis yang sangat sederhana." Ucap Sandy.
"Bisa kita sedikit lebih mendekat, saya ingin melihat aktifitas keluarganya. " Malik pun menuruti perintah sang atasan. Pagi-pagi sekali Malik sudah mendapat tugas rahasia dari sang bos besar tanpa sepengetahuan Kenan. Sandy sengaja meminta bantuan Malik, karena Sandy tahu bahwa Malik punya banyak informasi mengenai karyawan yang ada di perusahaannya tersebut.
"Malik, kamu janji rahasiakan ini dari Kenan." Ucap Sandy memastikan bahwa kejadian hari ini aman.
"Baik Tuan."
Di seberang sana, Sandy mulai melihat Kiara yang berangkat terlebih dahulu ke sekolah dengan menggunakan sepeda motor miliknya. Kiara memang memiliki sepeda motor miliknya sendiri hasil dari kerja kerasnya menabung. Sering sekali Kiara menawarkan tumpangan, namun Kiana selalu menolak dengan alasan tidak ingin menyusahkan sang adik.
"Kak, yakin nggak mau aku bonceng?"
Kiana menggelengkan kepala. " Tidak perlu, aku berjalan kaki saja biar sehat." Sahut Kiana.
"huh... dasar aneh, ya sudah aku berangkat dulu ya." Kiara menyalami sang kakak kemudian ia menemui sang ibu yang sedang berada di kedai untuk berpamitan.
__ADS_1
Dilanjutkan dengan Kiana yang berpamitan kemudian berjalan kaki berangkat ke kantor.
"Kenapa yang satu pakai sepeda motor yang satu lagi berjalan kaki?" Ucap Sandy merasa aneh dengan pemandangan yang ia lihat.
"Kiana memang gadis yang simpel dan tidak ingin merepotkan orang lain tuan dan satu lagi, ia bertanggung jawab atas segala kesalahannya." Tambah Malik.
"Benarkah?" Malik mengangguk, kemudian menceritakan kejadian beberapa bulan yang lalu di restauran, kemudian kejadian Kiana yang melawan Kenan saat di Malaysia, sampai kejadian Kiana rela berjalan kaki balik ke rumah hanya karena tugasnya tertinggal pun, Malik turut menceritakan ke Sandy.
"Good, dia gadis yang sabar, ini yang aku cari sebenarnya." Batin Sandy. Tetapi saat tekat itu bulat, ia kembali teringat dengan sebuah kasta dan kedudukan yang menjadi pembatas di antara keluarga mereka.
Di sana, Santi mengikat rambut yang sengaja ia cat dengan warna pirang agar menciptakan kesan muda pada dirinya yang sudah berumur empat puluh lima tahunan.
"Kau nak ape?" Terdengar suara Santi kembali mencibir.
"Aku ingin pinjam uang, istri aku sakit." Fandi memasang wajah memelas berharap Santi akan memberikannya uang.
"Hei, apa urusanku dengan istri engkau, maaf aku tidak peduli dengan apapun urusan kau lagi."
"Hei... dasar kau manusia nggak guna." Teriak Santi ketika ia mengetahui Fandi telah berhasil mengambil isi dompetnya, kemudian pergi meninggalkan Santi.
"Hei, dasar kau manusia tak guna, aku tak rela uangku kau ambil begitu saja. " Teriak Santi kembali, kali ini ia sambil menangis. Ia menangisi nasibnya yang entah sampai kapan harus terjerat oleh kezaliman mantan suaminya itu.
"Siapa itu Malik?" Sandy menanyai kejadian itu. Malik menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak tahu tuan, tapi sepertinya terjadi sesuatu hingga menyebabkan ibu itu menangis."
Sandy mengambil langkah untuk keluar dari mobil. "Ikut saya, kita berpura-pura membeli mie rebus dagangannya."
"Baik pak." Malik pun mematuhi perintah atasan.
__ADS_1
Santi masih bersedih meratapi nasibnya, meratapi dirinya yang dahulu salah melangkah dalam memilih pasangan hidup. Ia melamun, mencoba menenangkan hatinya yang tiba-tiba kalut. Ini bukan yang pertama Fandi mengambil paksa uang Santi, ini sudah kesekian kalinya. Bahkan Fandi selalu melimpahkan utang-utangnya pada Santi, meskipun ia tidak tinggal serumah lagi dengan Santi.
"Permisi, Bu pesan bakmie rebus nya dua. Maaf sebelumnya bakmie ini halal kan?" Tanya Malik memastikan. Sebab Santi memang terlihat seperti bukan orang muslim.
"Oh, bakmie di sini halal, saya muslim, rambut saya aja yang perang seperti orang barat. " Santi beranjak dan segera menyiapkan bakmie yang di pesan itu.
Sepanjang Sandy duduk ia tidak henti-hentinya melihat Santi. Ia seperti pernah melihat Santi sebelumnya, namun ia ragu untuk memastikan.
"Santi." Ucap Sandy ragu, hingga Sandy yang secara samar mendengar ucapan itu pun menyahut.
"Iya. Eh.. dari mana anda tahu nama saya?" Santi terheran sebab ia tidak memasang papan nama di kedainya. Malik pun spontan melihat ke sekitar mencari papan nama yang bertuliskan Santi.
"Aku Sandy Prasetya, kacang rebus apa kamu masih ingat?" Sandy mencoba mengingatkan inisialnya sewaktu mereka masih duduk di bangku sekolah dulu. Santi pernah berjualan kacang rebus hanya untuk mencoba hidup susah padahal saat itu sang ayah sudah kaya raya.
"Sandy, iya aku ingat kau." Santi langsung melihatnya.
"Bagaimana kabarmu? suamimu mana?" Tanyanya kembali, ia ingin memastikan bagaimana keadaan lelaki yang sudah merebut Santi darinya.
"Aku sudah bercerai dengannya." Ucap Santi lirih, ia merasa malu mengatakan hal ini dengan Sandy. Sebab, dua puluhan tahun yang lalu Santi pernah dengan bangganya menerima Fandi dengan alasan kenyamanan, hingga ia meninggalkan Sandy yang pada saat itu masih sibuk merintis karir sang ayah.
"Kenapa? suami adalah lelaki yang baru saja membuatmu menangis?"
Santi terdiam.
"Aku tidak sengaja melihatnya tadi."
"Hemmm iya, dia adalah mantan suamiku, kami berpisah karena ketidakcocokanku padanya, yang membuatku menyirah." Jelas Santi. Sandy pun hanya terdiam.
"Akhirnya kita bertemu lagi."Batin Sandy, kemudian ia Santi duduk menemani Malik dan Sandy makan, kemudian mereka bercerita panjang mengenai masa-masa sekolah dan masa-masa indah yang pernah mereka ukir berdua.
__ADS_1
***
***