
Brukk...
Kiana menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang berukuran besar itu, ia menangis karena menyesali ucapannya kepada Kenan yang menurutnya begitu keterlaluan. Ia menangis sejadi-jadinya di dalam kamar yang berukuran sangat besar itu. Menutup semua wajahnya dengan bantal yang besar.
"bodohnya kamu Kia, kenapa kamu katakan hal tersebut padanya. Kamu bisa dipecat nantinya."
Kiana menghentak-hentakkan kakinya menyesali perbuatannya yang melawan pada Kenan.
***
Di tempat yang berbeda Salsa masih bersembunyi di apartemen Chan, sudah hampir seminggu ia di sana, menyendiri dan menghindar dari keluarganya. Salsa memang anak yang baik, namun, keluarganya sangat bebas dan terkesan tidak diperdulikan, di dalam keluarga Salsa saling mengurus kebutuhan mereka sendiri, hidup acuh tak acuh tanpa ada kerukuranan di dalamnya. Papa dan Mama nya selalu bertengkar hanya karena salah sepele. Belum lagi sang kakak yang suka pulang malam dengan keadaan mabuk berat. Salsa sungguh tidak nyaman dengan keadaan seperti itu, hidupnya terasa penat. Meski ia saat ini juga telah terjerumus kedalam dunia yang tidak jauh beda dengan keluarga. Saat ini Salsa tinggal satu apartemen bersama Chan tanpa ikatan pernikahan, mereka melakukan aktifitas bersama dari mulai, makan, tidur bahkan mandi bersama. Sudah tidak ada batasan lagi antara mereka berdua yang statusnya hanya sebagai seorang sahabat. Kini mereka sudah bertindak melebihi dari seorang sahabat. Chan yang memang sedari SMA sudah memiliki perasaan kepada Salsa pun dengan senang hati menampungnya untuk tinggal bersamanya, bahkan hidup bersamanya, meskipun mereka melupakan kehendak yang ada, ketentuan yang ada.
"Aaauuggh, sakit sekali." Rintih Salsa pada bagian sensitifnya yang terasa begitu sakit akibat ulah Chan yang menggempur ia habis-habisan tadi malam.
"Apa masih sakit?"
Salsa hanya menganggu pelan.
"Kamu mau kemana?" Tanya Chan yang masih setengah sadar.
"Mau buat sarapan untukmu."
"Aku masih kenyang, bukankah kamu sudah sangat cukup memberikan ku makanan tadi malam?" Ucap Chan sembari memeluk Salsa yang masih sibuk memakai piyamanya.
"Chan, lepasin. Kamu kerja hari ini, jadi aku harus mengurusmu dengan cepat hari ini." Ucap Salsa berusaha melepaskan pelukan Chan.
"Hemmm.Oke baiklah, akan aku lepaskan."
__ADS_1
Salsa pun berjalan meninggalkan kamar mereka dan beralih menuju dapur yang minimalis itu. Ia memasak omlet kesukaan Chan.
Kemudian Chan pun mengikutinya karena ia tidak ingin jauh dari sang wanita idamannya tersebut.
Salsa mengikat rambut panjangnya ikalnya tersebut sedikit tinggi hingga memperlihatkan tengkuknga yang mulus dan indah, yang membuat Chan tidak henti-hentinya menelan Saliva liarnya.
"Cantik." Ucapnya kagum.
Namun suara itu terdengar oleh salsa. Hingga ia menoleh sedikit ke arah belakang.
"Hei, kamu kok bangun sih, katanya masih ngantuk?"
"Ha... rasanya aku ingin izin kerja. Mataku tidak bisa beralih dari dirimu Sa."
"Huuuu, gombal amat sih kamu Chan, berlebihan sekali." Sanggah Salsa dengan santai.
"Kok kamu gitu sih, kamu keberatan aku numpang di sini?" Tanya Salsa, yang dengan cekatan membuat Chan mengangkat tangannya untuk membentuk tanda silang, yang mengartikan bahwa bukan ia yang berpikiran semua itu
"Lantas apa?"
"Aku hanya nggak mau orang tua mu menuduhkan laki-laki seperti aku ini ke kantor polisi, karena dianggap penculikan anak." Jelas Chan.
"Aku sudah memblokir nomor mereka." Ucap Salsa santai. Karena bagi dia ini bukanlah masalah yang. besar.
"Kenan bagaimana?" Tanya Chan serius.
Salsa menghentikan aktifitasnya membalik omlet. Kemudian ia menatap Chan dengan tatapan yang tajam, seolah matanya mengisyaratkan sesuatu. Entah mengapa akhir-akhir ini ia malas membahas lelaki yang menyebalkan menurutnya itu.
__ADS_1
"Hei kenapa diam?"
"Aku malas membahas dia." Ucap Salsa, kemudian mengajak Chan untuk sarapan di meja makan.
"Kita sarapan yuk." Ucap Salsa seolah mengalihkan pembicaraan.
"Jawab dulu pertanyaanku atau aku akan menghukummu kembali." Ancam Chan.
"Chan...." rengek Salsa seolah paham dengan kata hukuman yang dimaksud oleh Chan.
"Makanya jawab, sayang." Ucap Chan.
"Oke baiklah, aku akan menjawabnya. Aku memutus GPS yang sengaja ia pasang di ponselku, aku sengaja memblokir nomornya untuk sementara waktu agar ia tidak mampu menemukanku dan melakukan hal nekat seperti yang biasa ia lakukan." Jelas Salsa.
"Emangnya ia biasa melakukan hal aneh apa?" Tanya Chan penasaran. Sebab Kenan adalah musuh bebuyutannya Chan dalam bidang bisnis.
"Dia itu suka banget sok romantis di depan publik dengan berlutut dan memohon maaf padaku, terus beberapa jam kemudian sudah berubah menjadi cuek kembali."
"Oh ya?" Jawab Chan. Dengan antusias mendengar cerita Salsa.
"Sama aku bedanya apa?" Tanya Chan serius.
"Kamu adalah tempat ternyamanku." Ucap Salsa.
"Oh ya?" Salsa pun membalas pertanyaan itu dengan senyuman dan anggukan.
"Baiklah."
__ADS_1
***