
Malam ini adalah malam terburuk untuk Kiana. Ia tidak henti-hentinya mengutuk dirinya sendiri mengapa ia bisa melakukan hal seceroboh itu. Menabrak orang terkaya di Indonesia.
Kiana berjalan lunglai, ia tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan kepada sang Ibu dengan segala jenis pertanyaan yang dilontarkan. Mengapa bisa jam segini sudah pulang, dan mengapa mata kamu sembab.
Kiana menarik nafas panjang sebelum ia memberanikan diri mengetuk pintu rumahnya.
tok..tok. . kreekkkk. ...
Kiana membuka pinta itu dengan perlahan, sepertinya ia akan selamat pada malam ini, soalnya sang Ibu sudah tidur dan hanya tersisa Kiara saudara kembar Kiana.
"Ibu sudah tidur?" Kiana bertanya dengan suara pelan. Kiara mengangguk.
Kemudian Kiana segera masuk ke dalam.
"Kamu kenapa sudah pulang? belum jam sebelas?"Tanya Kiara.
Kiana menarik nafas kasar. " ceritanya menyebalkan."
"Kenapa?"
" Semua bermula dari lelaki arogan orang terkaya di Indonesia itu." Kiana pun menceritakan kejadian tersebut kepada Kiara.
***
"Sial, gara-gara gadis itu, jejak Salsa pun menghilang, ke mana dia? apa mungkin ia langsung pulang, atau dia bawa mobil sendiri? Gumam Kenan dengan paniknya. Acara melamar pun malam ini gagal gara-gara ulahnya sendiri.
Ia menyetir dengan kecepatan tinggi menuju, ia memutuskan untuk mencari di rumah Salsa, ada kemungkinan kalau Salsa balik ke rumah. Sembari menelpon nomor Salsa yang mendadak tidak bisa dihubungi Kenan pun akhirnya sampai di rumah Salsa.
"Maaf Bu, Tuan Kenan ingin bertemu dengan Ibu." Ucap salah satu pembantu di rumah Salsa.
"Suruh masuklah." Ucap Sarah,
"Mam, apa Salsa ada di rumah?" Tanya Kenan yang langsung panik.
"Loh, bukannya Salsa tadi pamitnya mau dinner sama kamu?"
" Iya memang bener Mam, tapi dia pergi tiba-tiba, kemudian Kenan kehilangan jejak." Jelas Kenan kembali.
__ADS_1
"Apa kalian bertengkar lagi?"
Kenan terdiam sesaat, sejujurnya ia malu mengakuinya, sebab ini bukan yang pertama kali mereka bertengkar. Andai Kenan dapat menghapus cinta pada teman masa kecilnya itu, pasti ia akan melepaskan Salsa. Karena Kenan menyadari bahwa ia tidak bisa membuat sahabat masa kecilnya nya merasa nyaman dan bahagia.
"Kenan.., sudah berapa bilang mami bilang, Salsa itu anaknya manja, coba aja kamu ngertiin sekali mau dia, pasti kalian nggak akan bertengkar dan pakai acara kabur-kabur segala seperti ini." Jelas Sarah.
"Iya mam, Kenan mengaku salah, ya sudah Kenan permisi pulang Mam, Kenan ingin mencari Salsa lagi."
Kenan yang merasa tekanan darahnya memuncak tinggi. menendang batu yang ada di depannya.
"Aagghhh... sial, andai saja aku lebih punya waktu, pasti aku tidak akan seperti ini." Kenan meraup rambut dan wajahnya dengan kasar. Semua nomor teman Salsa sudah Kenan hubungi, namun tidak ada yang tahu ke mana Salsa pergi kecuali Chan, namun sayang Kenan tidak mengenal Chan, karena Salsa memang sengaja tidak mengenalkannya.
***
"Dengan apa?" Salsa kembali bertanya kepada Chan yang berdiri tepat di hadapannya.
"Secangkir coklat hangat, kamu pasti akan merasa bahagia. Percaya deh. "
"Hemmmm, mana?"
"Baiklah aku akan membuatkan mu secangkir coklat hangat. Sekarang kamu mandi dan ganti baju, aku akan menyiapkan makan malam untukmu, bukanlah kamu lapar karena malam ini tidak jadi makan malam dengan Kenan?" Ledek Chan.
"Silahkan kalau kamu berani." Ucap Chan, dan Salsa pun hanya menatap Chan dengan pandangan yang sini.
"Oke baiklah, aku pinjam kemeja mu, karena aku mau ganti baju, dress ini cukup membuatku gerah."
"Oke, ambil saja di lemariku sayang." goda Chan yang memang benar-benar menyayangi Salsa. Namun Salsa hanya menganggapnya sebagai angin lalu.
Sepuluh menit kemudian, Chan sudah selesai menyiapkan menu makan malam untuk mereka berdua. Dua cangkir coklat hangat dan dua piring mie pedas untuk mereka berdua.
"Sa, kamu sudah siap? Ini aku bawakan coklat hangatnya, di minum yuk, entar keburu dingin."
Namun, Salsa tidak mendengarkan karena kamar Chan memang kedap suara. , Salsa masih asyik memilih baju Chan yang cocok dengan dirinya.
Hingga Chan memberanikan untuk membuka pintu kamarnya perlahan. Disitu ia mendapati Salsa dengan berganti pakaian, yang hanya menutup tubuhnya dengan beberapa helai pakaian saja.
Chan perlahan mendekati Salsa yang masih polos atas.
__ADS_1
"Ehem, coklat hangatnya?"
"Aaaaaa, Chan, Lo masuk nggak bilang-bilang, kelihatan kan Lo. "
Chan hanya dia sambil menahan Saliva nya kemudian meletakkan segelas coklat hangat itu di atas nakas. Kemudian memeluk Salsa dengan erat.
"Aku mencintaimu Sa, percayalah padaku." Ucapnya.
"Chan, kamu kenapa sih, nafsu?"
"Serius, aku mencintaimu, dan menyayangimu Sa, aku bisa memberikan kebahagian untukmu?" Kali ini mereka berbicara saling tatapan mata.
"Coba kamu ingat-ingat, siapa lelaki yang mampu mengembalikan senyummu di kala kamu sedih, aku kan Sa. Coba siapa lelaki yang selalu ada untukmu? Aku kan Sa? dari dulu. Kamu masih belum menyadari bahwa aku bisa membahagiakanmu?" Jelas Chan kembali.
Salsa masih terdiam, dan menatap mata Chan dengan seksama. "Nggak usah becanda Chan, kita cuma.."
belum sempat Salsa menjelaskan siapa status di antara mereka berdua, Chan sudah melahap sesuatu yang ranum itu dengan lembut ia seakan-akan meluapkan isi hatinya selama ini. Perasaan yang sudah lama ia pendam bertahun-tahun lamanya.
Lidah Chan terus berusaha menerobos benteng pertahanan Salsa, ia pun menggigit bibir Salsa dan akhirnya salsa memberikan cela untuk Chan mengeksplor kemampuannya.
Mereka berdua hanyut dalam gejolak nafsu yang belum semestinya. Chan dan Salsa telah melanggar ketentuan agama dan persahabatan.
Salsa yang awalnya menolak pun kini mulai menikmati permainan yang disuguhkan oleh Chan. Ia kini mengerti bahwa semua yang dikatakan Chan itu benar, ia memang selalu bahagia bersama Chan, bahkan saat ia sedang kalut seperti saat sekarang ini Chan mampu memberikannya kebahagiaan dengan cara yang berbeda.
"Eeemmhhhh.....Chan... agghhh... " Suara itu lolos dari bibir Salsa saat Chan mulai bermain dibagian sensitifnya. Kini mereka saling beradu cinta, hingga Chan berhasil menerobos dinding keperawanan Salsa,
"aaahhhh, Sakit." Chan mampu menerobos dengan satu hentakan saja, karena memang itu keahlian Chan selalu mantan playboy.
"Sebentar lagi sakitnya akan hilang Sa."
"Apa Kenan tidak pernah melakukan ini?"
Salsa menggelengkan kepalanya. Kenan memang sangat menjaga kesucian Salsa. dan Salsa yang sebenarnya anak yang liar pun berhasil menahan dirinya untuk tidak menyerahkan kesuciannya kepada sembarang orang. Namun, Chan berbeda, ia berhasil membujuk Salsa.
"Aaahhhhggg, Chan, aku..", Suara Salsa mulai terbata-bata. Chan tahu bahwa sebentar lagi salsa akan memperoleh pelepasan.
"Gimana, enak sayang?"
__ADS_1
tanpa sadar Salsa mengangguk. Dan akhirnya mereka telah melakukan dosa zina itu, untuk yang pertama kalinya bagi Salsa. Dan yang kesekian kalinya bagi Chan.