
Kiana masih sangat senang karena ia bisa memakaikan dasi Kenan dengan cepat rapi sesuai dengan yang Kenan inginkan. Kenan memang tipe pria yang harus sempurna. Setiap yang dilakukan haruslah sempurna dan bagus sesuai dengan apa yang ia inginkan. Kiana sudah bersiap untuk ikut pertemuan dengan Kenan hari ini, ia sudah mencatat semua jadwal Kenan hari ini, Kiana bertekat hari ini tidak boleh terulang lagi, ia harus bisa menjadi sekretaris yang baik untuk Kenan. Ia tidak ingin mengacaukan agenda Kenan lagi seperti kemarin, ia harus lebih pandai mengendalikan emosinya. Sebenarnya ini bukan kali pertama Kiana menghadapi sosok egois, mudah emosi dan angkuh seperti Kenan. Sebelumnya Kiana juga sering berhadapan dengan sang ibu yang suka memarahi Ibunya dan memaksakan kehendaknya sendiri.
Hari ini Kiana sudah rapi dengan rok span selutut berwarna coklat susu dipadukan dengan kemeja panjang berwarna putih. Ia nampak cantik dengan rambut panjangnya diikat satu, tidak lupa sepatu hails yang cukup tinggi sehingga memberikan kesan tinggi jenjang pada tubuh Kiana.
" Oke, hari ini aku harus berkerja lebih baik lagi dari kemarin. Harus lebih sabar lagi menghadapi kutub yang menyebalkan itu. Harus lebih teliti dan tidak boleh ceroboh lagi." Ucap Kiana menasehati dirinya sendiri.
Kiana membuka pintu kamarnya, langkahnya terhenti saat ia sudah melihat Kenan berdiri di hadapannya berniat untuk menemuinya. Kiana menengadah kepala ke atas melihat wajah Kenan.
"Ehem.., kamu sudah siap untuk memulai hari ini?"
Kiana menganggukkan kepalanya, menandakan bahwa dia sudah siap untuk bekerja hari ini. Di belakang Kenan, ia pun melihat Malik berdiri dibelakang Kenan yang juga siap untuk menemani perjalanan Kenan hari ini.
Hari ini Kenan akan berkunjung di sebuah perpustakaan besar yang dibangun oleh perusahaannya. Kenan memang menyukai dunia buku, ia memang pernah berniat untuk membuat perpustakaan besar di beberapa dunia dengan menyediakan beberapa buku terpopuler di negara tersebut. Kali ini awal dari impian Kenan adalah di negara Malaysia, Kenan mewujudkan mimpinya untuk membangun perpustakaan tersebut. Perpustakaan yang didesain semenarik dan semegah mungkin agar pengunjung merasa nyaman jika nanti berkunjung ke perpustakaan tersebut.
Kenan berjalan beriringan dengan rombongan, meninjau pembangunan proyek tersebut yang sudah hampir selesai kurang lebih delapan puluh lima persen lagi. Bersama dengan Tuan Adam, Kenan bekerja sama membangun perpustakaan ini.
"Tuan Kenan, pembangunan ini masih delapan puluh lima persen lagi, tinggal memperbaiki pencahayaannya saja yang kurang terang. Di bagaian sini, di sini pencahayaannya menurut saya kurang terang, saya akan menggantinya dengan lampu yang lebih terang dan lebih bagus lagi." Jelas Tuan Adam.
"Lakukan saja yang terbaik. Saya hanya ingin bisnis kita ini berjalan mulus. Jika kita menyuguhkan yang terbaik untuk pelanggan, maka saya yakin bisnis kita ini akan menguntungkan. " Sahut Kenan. "Oh ya, bagaimana dengan kualitas buku-bukunya?" Timpah Kenan lagi. "Buku-buku saya sesuaikan dengan hal-hal yang disukai oleh anak-anak muda di Malaysia ini Tuan Kenan. Di mana novel, dan buku-buku referensi berupa sastra Melayu pun ada di perpustakaan ini." Jelas Tuan Adam kembali.
__ADS_1
"Bagus Tuan Adam, saya suka dengan ide-ide cemerlang mu. Bagaimana menurut kamu Malik?" Kenan meminta pendapat dari sang teman sekaligus kepercayaannya.
"Saya sudah oke dengan desainnya ini. Benar di bagian sana hanya kurang pencahayaan saja." Jelas Malik.
"Kiana?" Kenan tiba-tiba menanyai wanita yang sedari tadi mencatat hal-hal yang diucapkan oleh Tuan Adam dalam buku kecil miliknya.
"Saya punya usul tambahan Pak." Kiana berbicara sedikit lirih. Kenan, Malik, dan Adam siap mendengarkan.
"Menurut saya, susunan dari buku-buku ini harus dibedakan, tadi saya sempat melihat-melihat susunan buku yang masih berantakan. Bagaimana jika buku-buku bernuansa sastra, keindahan, bahasa kita jadikan satu dalam satu rak buku. Lalu buku-buku tentang kedokteran juga seperti itu. Memang, buku-buku ini sudah dipisahkan dengan nomor buku tetapi dalam satu rak buku ini setiap barisnya ininya berbeda-beda alangkah lebih bagus jika satu rak buku ini isinya satu rumpun saja." Jelas Kiana. Kenan tampak serius mendengarkannya dan mencoba membuktikan ucapan Kiana.
"benarkah demikian? Coba mana buktinya."
Kiana berjalan mengambil satu contoh dari susunan buku yang sedikit salah dan kurang tepat. "Seperti ini Pak, di dalam satu rak buku ini ada beberapa baris dan isinya berbeda-beda. Baris yang pertama berisi tentang sastra, baris yang kedua ilmu kedokteran, baris yang ketiga ilmu kehutanan, dan baris yang keempat ada tentang sosial dah hukum, sedikit berantakan bukan?"
"Tuan Adam dengar sendiri penjelasan sekretaris saya?" Ucap Kenan.
"Iya Tuan Kenan, terima kasih atas sarannya Kiana."
"Sama-sama Tua Adam."
__ADS_1
Kenan pun tersenyum, kemudian melanjutkan perjalanannya mengelilingi bangunan perpustakaan yang sedikit lagi selesai.
Kenan pertengahan jalan Kenan menghentikan langkahnya diikuti oleh rombongannya.
"Kenapa berhenti Ken?" Malik penasaran pada sahabatnya yang tiba-tiba memutuskan untuk berhenti. "Aku ingin mengelilingi bangunan ini dengan Kiana, aku ingin mengajarkannya bagaimana kerja yang sesungguhnya. Kalian tahu kan kalau Kiana ini anggota baru di perusahaan ini." Jelas Kenan.
Malik, Adam dan anggota lainnya pun setuju. Sementara Kiana melotot seakan matanya ingin keluar. Firasat di hatinya mulai tidak singkron, seperti ada sesuatu yang sedang direncanakan Kenan untuknya.
Malik dan rekan lainnya pun membubarkan diri, sementara Kiana masih berdiri di belakang Kenan, tanpa bersuara sedikitpun. Kenan terus berjalan mengitari perpustakaan itu. Perpustakaan yang berbentuk labirin sehingga dapat menyesatkan orang jika tidak hafal rute perjalanan mereka.
"Pak, sepertinya kita salah arah." Ucap Kiana sembari melihat selembar kertas yang berisikan peta ruangan itu.
"Tidak aku hanya ingin melihat buku-buku bernuansa percintaan, aku ingin membuat sebuah puisi untuk kekasihku." Ucap Kenan.
"Tetapi rak buku-buku sastra ada di jalur yang sudah kita lewati tadi pak, jika kita terus melangkah ke sana, kita menemui jalan buntuh, ini petanya saya bawa, dan saya sudah mempelajarinya." Jelas Kiana. Kenan pun mengintip peta tersebut, dan benar saja ternyata arah yang Kenan arahkan itu salah.
Hari semakin sore, Kenan, Malik diikuti dengan Kiana memutuskan untuk kembali ke hotel. Dan mempersiapkan diri untuk pertemuan besok. di lobi Kenan memberikan sebuah hadiah untuk Kiana karena sudah bekerja baik hari ini. Kenan memberikan Kiana beberapa baju yang sengaja ia pesan. "Ambillah baju ini, pakailah untuk kamu bekerja, terima kasih telah bekerja baik untuk hari ini." Ucap Kenan. Kiana pun menganggukkan kepalanya.
Kemudian mereka masuk ke kamar mereka masing-masing. Kiana masih berpikir sembari melihat ke arah cermin.
__ADS_1
"Siapa sebenarnya kamu? Mengapa kamu kadang begitu menyebalkan, arogan dan dingin. Namun, terkadang pula kamu begitu manis dan baik hati." Kiana membatin dalam hati sembari lihat beberapa pasang baju yang diberikan Kenan untuk Kiana bekerja.
***