Alien In Love

Alien In Love
Bab 9


__ADS_3

Acara makan malam berlangsung dengan hening. Tidak ada pembicaraan selama makan malam berlangsung. Yang terdengar hanya dentingan suara sendok yang beradu dengan piring satu sama lainnya.


Setelah makan malam selesai, mereka semua beranjak ke taman belakang rumah, tepatnya dekat dengan kolam renang yang luas lengkap dengan beberapa gazebo yang biasa digunakan untuk bersantai oleh keluarga ini. Dan diujung sebelah kiri ada tempat khusus untuk Barbeque Party.


Alexa mengedarkan pandangannya ke segala penjuru Taman belakang ini, sekalipun dia tahu pemilik rumah ini adalah keluarga yang bukan Manusia, tapi seluruh tampilan ruangan dan interior dirumah ini semuanya mengikuti kehidupan Manusia. Mungkin beginilah cara mereka Bangsa Alien menyamarkan identitas asli mereka, pikir Alexa.


Alexa tipikal orang yang cepat bergaul dan selalu berpikiran positif bahkan dengan orang yang baru dia kenal sekalipun. Maggie dan Maissy salah satunya, kedua anak kembar itu tak lepas mengekor dan mengajak Alexa untuk duduk bersama mereka disalah satu Gazebo yang ada. Sekalipun mereka baru bertemu dan melihat sekali, kedua gadis kembar tersebut tidak canggung sedikitpun dengan Alexa.


“kak, aku ingin denger bagaimana awal cerita kak Alexa bertemu dengan Kakakku? Karena dari yang ku tahu kakakku bukanlah orang yang mudah bergaul. ” Tanya salah satu dari mereka setelah beberapa menit saling mengobrol.


Alexa tersenyum menatap keduanya, “Kami tak sengaja bertemu saat Matthew terluka dan aku menolongnya”. Seketika Alexa memutar kembali ingatannya tepat delapan bulan lalu, waktu dimana dia menolong seseorang yang tak lain Matthew Alexander.


 


*Flashback On – Alexa POV


 


 Ahh akhirnya selesai juga pekerjaanku. Kurentangkan tanganku ke atas dan kesamping guna meluruskan sendi-sendi ditubuhku yang sedikit kaku. Ku lirik jam didinding ruangan yang sudah menuju ke angka sepuluh.


Kuhembuskan nafasku lelah, akhirnya Tumpukan dokumen design deadline untuk minggu ini sudah selesai semua kukerjakan. Malam ini terpaksa aku harus kerja lembur mengejar waktu terbit beberapa iklan baru yang segera launching di Brilliant Magazine.


Setelah merapikan ruanganku akupun bergegas untuk langsung pulang. Di jam-jam seperti ini Taksi sangat sulit sekali dicari, apalagi letak kantorku yang berada diujung Blok. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan ke arah shelter Bus yang letaknya dua blok dari Kantor.


Jalanan malam ini sungguh lengang hanya beberapa kendaraan saja yang berlalulalang. Setelah sampai diujung Blok pertama, mataku memicing melihat semak-semak didepan sana bergerak-gerak. Seketika kudukku merinding melihatnya.


Jalanan yang sangat sunyi menambah ketakutanku akan hal-hal yang tidak diinginkan. Apa itu? Batinku penasaran. Kuabaikan ketakutanku dan terus saja ku melangkah tanpa menghiraukannya.


BRUKKK.


Hampir saja jantungku terlepas dari tempatnya melihat seorang Laki-laki yang keluar dari semak-semak tadi dan langsung terjatuh dihapapanku.


“Astaga. Tuan apa kau baik-baik saja?” tanyaku. Laki-laki itu tampak mengerang kesakitan dan memegangi dadanya. Laki-laki itu tidak menjawab pertanyaanku membuat Aku bingung apa yang harus ku lakukan.


Kuberanikan diri untuk berjongkok dan mendekat kearahnya yang masih tersungkur dihadapanku. Wajahnya tampak pucat dengan beberapa lebam diwajahnya.


“Tuan, apa kau baik-baik saja? Mari kubantu kau untuk duduk.” Tanyaku kembali. Entah apa yang ada dipikiranku, tak sedikitpun ada rasa takutku apabila ternyata orang ini penjahat atau sebagaainya.


Kubantu memapah tubuhnya dengan memegang salah satu lengannya dan mengarahkannya kearah bangku yang ada ditrotoar itu.


Mengapa tangannya dingin sekali. Batinku.


Memegang lengannya saja bagaikan memegang bongkahan Es. Kualihkan mataku kearah wajahnya dan ternyata orang itu juga sedang menatapku tajam. Sekian detik mataku terkunci menatapnya, bola mata hitam pekat itu begitu tajam menatapku.


“Apa Anda bisa berdiri Tuan?” tanyaku memecah tatapannya. Perlahan sinar matanya melembut dan diapun menganggukkan kepalanya seraya mencoba berdiri dengan bertumpu pada lengan yang sedang kupegang.

__ADS_1


Orang itu masih saja meringis menahan kesakitan, kutawarkan untuk membawanya ke Rumah Sakit tapi laki-laki itu tidak mau dan menyuruhku agar membawanya ke tempat lain saja.


Bingung sekali harus membawanya kemana, untung saja tak lama sebuah Taksi datang dan mengantar kami. Karena hari sudah larut, akupun memutuskan untuk membawanya ke Apartemenku saja. Selain jaraknya yang tidak terlalu jauh, lelaki itu juga enggan memberitahukan alamatnya saat kutanya.


Setelah sampai di unit Apartemenku aku bergegas mengambil kotak obat untuk membantu mengobatinya.


Berani sekali kau membawa orang Asing kerumahmu Alexa,bagaimana kalau orang itu berbahaya?, batinku bermonolog. Entah mengapa tidak ada ketakutan sedikitpun saat memutuskan membawa lelaki ini ke Apartemenku. Ini murni karena rasa ingin menolongku.


 


Kuletakkan secangkir Teh Chamomile hangat dihadapannya dan mempersilahkannya untuk minum.


“Minumlah Tuan, teh ini bisa menghangatkan tubuhmu.” Lelaki itu bergeming tapi masih menatapku seakan-akan menelisik kedalam.


“Mau kubantu mengobati lukamu?” tanyaku dengan memperlihatkan kotak p3k yang saat ini kupegang. Dan jawabannya lagi-lagi hanya anggukan kepala.


Kenapa orang ini pelit sekali bersuara sih. Seperti bicara dengan orang gagu saja. Batinku.


Tidak ada luka yang cukup serius di tubuhnya. Semuanya seperti lebam-lebam biru saja. Dan yang membuatku sedikit bingung, luka didadanya seperti luka tusukan yang menganga, tapi tidak ada setetes darahpun yang keluar dari sana.


Tanpa banyak bertanya apa-apa aku lanjutkan pekerjaanku mengobati beberapa memar di wajah dan dadanya dengan alkohol dan obat untuk lebamnya.


Saat aku sudah selesai mengobati dan hendak beranjak untuk meletakkan kotak obat ini pada tempatnya, lelaki itu mencekal salah satu tanganku untuk tetap berada disana.


“Kenapa kau menolongku?” tanyanya dengan tatapan yang sangat tajam.


“Apa alasanmu menolongku?” matanya benar-benar menatap lekat mataku.


“Sejak kapan menolong orang harus ada alasannya?. Bukankah sesama manusia kita wajib saling tolong menolong?” jelasku akhirnya. Kuperhatikan tatapan matanya yang sama sekali tidak berubah dan masih saja datar itu.


“Bagaimana jika yang kau tolong ternyata bukan manusia?”


Aku hanya tertawa kecil menanggapi ucapannya. “Jadi kalau kau ini bukan manusia lalu kau ini apa Tuan? Tak mungkin kan kalau kau ini seorang siluman?” jawabku penuh dengan candaan.


“Aku seorang Alien, Nona Alexa” jawabnya lagi dengan tegas dan jelas.


“Ahaha, kkumohon jangan bercanda Tuan.”


“Aku tidak bercanda Nona Alexa, aku memang seorang Alien.” Jelasnya lagi.


DEG!


Bukkk, tanpa sadar kujatuhkan kotak obat yang sedang kupegang kelantai. Pernyataan Lelaki tadi membuatku terkejut luar biasa. Reflek tubuh ini menghindar kebelakang menjauh darinya. Dan lelaki itu semakin menarik tanganku untuk mendekat kearahnya.


“kumohon jangan takut Nona, aku tidak akan menyakitimu.” Lelaki itu masih saja menggenggam kedua tanganku agar aku tak beranjak kemana-mana. Matanya menatap lekat mataku, seakan terhipnotis aku pun menganggukkan kepala walaupun ragu-ragu.

__ADS_1


“Da..Darimana Anda tau namaku Tuan?” Entah sudah berapa kali orang ini dengan lantang menyebut namaku, sedangkan aku saja belum mengenalkan diri.


Lelaki itu tersenyum dan melepaskan genggamannya, “Aku tahu namamu Alexa Simpson kan?” Matanya memicing kearahku. “Dan kau bekerja sebagai Design Kreator di Brilliant Magazine, Usia 26 tahun, kedua orangtuamu sudah meninggal dan saat ini keluarga yang kau punya hanya Seorang Kakak Laki-laki bernama Harley Simpson. Benar?”


Astaga, darimana orang ini tahu?


“Hahaha, pasti kau bingung darimana aku tahu kan?” tiba-tiba saja lelaki itu tertawa.


“itu salah satu kelebihanku bisa membaca asal-usul lawan bicaraku tanpa bertanya.” Ucapnya .


Mataku masih tak berhenti membola mendengarkan satu persatu penjelasannya. Dan cerita pun mengalir begitu saja tentang penjelasannya mengenai asal usulnya tentang dirinya.


“Lalu kenapa kau menceritakan jati dirimu kepadaku Tuan Matthew?” tanyaku penasaran. Karena jika memang orang ini Alien, bukankah mereka akan menutupi identitasnya untuk melindungi dirinya dari para ilmuwan yang sedang meneliti kebenaran keberadaan mereka.


“Karna aku yakin Kamu orang baik Nona Alexa. Entah mengapa dari awal melihatmu tulus menolongku, aku tertarik denganmu. Itu makanya aku berani mengungkapkan identitasku padamu.” Jelasnya kali ini.


Aku sedikit tersentuh dengan penjelasannya, tanpa sadar senyumpun tersungging dibibirku. “Anda berlebihan Tuan, Aku hanya menolong karena memang sudah kodratnya manusia saling tolong menolong bukan?”


“Ya, hatimu sungguh baik Nona. Aku mohon setelah ini berhati-hatilah, karna tidak semua orang yang kau tolong itu orang baik.”


Aku hanya bisa menganggukkan kepala dan tersenyum kearahnya. “Setelah ini apa boleh kita berteman Nona?”.lanjutnya


“Baiklah Tuan, kita berteman.”


 


FLASHBACK OFF


Author Pov


 


Dan siapa yang tahu setelah kejadian malam itu, benih-benih cinta tumbuh subur bersamaan seringnya intensitas pertemuan mereka setiap harinya.


Sekalipun diantara mereka terbentang jelas perbedaan yang bisa membuat mereka terpisah, tapi semua tak lagi mereka hiraukan sampai saat ini.


 


❄️❄️❄️


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2