Alien In Love

Alien In Love
Bab 6


__ADS_3

Seharian ini, Matthew begitu sibuk dengan dokumen-dokumen dan pekerjaan yang luar biasa menumpuk. Biasanya jika sudah seperti ini, wajahnya akan kusut dan tak beraturan. Pasti emosinya akan langsung meledak-ledak tak karuan.


Tapi tidak untuk hari ini. Biasanya sepanjang hari ia akan memasang wajah yang begitu datar dan terkesan galak. Tapi setelah kedatangan Albert yang mengunjunginya hari ini wajahnya tak henti menyajikan kecerahan dan keceriaan. Seperti orang yang baru saja memenangkan undian.


Bagaimana tidak, baginya Restu dari Daddy nya adalah yang terpenting mengenai hubungannya dengan Alexa. Sekalipun para tetua bangsanya melarang dan menentang hubungan mereka, Ia sudah tak peduli lagi.


 


Tok...tok.. tok..


Suara ketukan tak sedikitpun melengahkan Fokusnya akan pekerjaaannya saat ini. Pintu terbuka sedikit dan kepala seseorang tampak menyembul melongok kedalam.


“Apa Sayaa boleh masuk?” setelah mendapatkan ijin dari pemilik ruangan, seorang lelaki bertubuh tegap berjalan mazuk kearah meja Matthew.


“Ada apa Gilbert?” Matthew yang sudah tahu siapa yang datang bertanya tanpa mengalihkan wajahnya.


“Saya hanya mengantar berkas-berkas ini, Tuan.” Jawabnya.


“kalau begitu saya permisi Tuan” lanjutnya lagi.


Sebelum Gilbert melangkah keluar menuju pintu, suara matthew menginterupsinya.


“Tunggu sebentar Gilbert.” Lelaki itu pun meghentikan langkahnya dan berbalik kembali. “Tolong atur ulang jadwal pertemuanku Lusa nanti. Kosongkan semua pertemuan setelah Jam makan siang.”


“Tapi kita ada pertemuan dengan---.”


“Tidak ada bantahan Gilbert. Ada keperluan mendesak yang harus kuurus.” Belum sempat Gilbert menyelanya Sang Atasan kembali memerintah. “Jadi tolong kau atur semaksimal mungkin, aku percayakan semuanya kepadamu.” Lanjutnya dengan senyuman kecil.


‘Cih.. tumben sekali orang ini tersenyum. Apa dia salah minum obat?’ tanpa sengaja batin Gilbert mendecih melihat sikap Atasannya yang tidak seperti biasanya.


“kalau boleh tahu, Anda terlihat sangat bahagia Tuan, apa ini ada hubungannya dengan keperluan Lusa nanti?” tanya Gilbert menyelidik.


Matthew tertawa kecil menanggapi pertanyaan dari Asisten Pribadinya. “Tentu saja aku bahagia Gilbert. Impianku untuk bahagia dengan orang yang kucintai sudah didepan mata.” Jawabnya dengan bangga.


“Aku ikut senang mendengarnya Tuan.” Secercah senyum terlukis di wajah Gilbert. Sebenarnya dia sudah tahu apa yang terjadi dengan Tuannya hari ini, hanya saja dia ingin mendengar secara langsung dari Matthew. Tak susah menebak suasana hati seorang Matthew, karena ia adalah tipe orang yang ekspresif. Apapun suasana hatinya akan tergambar jelas dari raut wajahnya. Jadi tak heran jika Gilbert sudah bisa menebaknya. Apalagi Gilbert sudah ikut menjadi Asisten pribadinya selama kurang lebih delapan tahun lamanya.


Gilbert pun berpamitan untuk kembali keruangannya melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


Sepeninggal Gilbert, Matthew yang sudah tak sabar untuk memberitahu kabar baik ini kepada Alexa mengambil ponsel yang sedari tadi tergeletak di samping kirinya. Wajah yang tadinya penuh senyuman mendadak berubah masam saat ponsel yang sudah ditangannya berdering. Sebuah nama yang sama sekali tidak diinginkan muncul dilayar itu.


Liona Calling...


Lama ponsel itu berdering, tapi masih tetap diabaikan oleh Matthew. Entah didering yang keberapa, karena jengah akhirnya matthew menekan tombol hijau dilayar itu.


“Halo Matt, Apa kau sibuk?”

__ADS_1


“Hmmm.”


“Apa aku mengganggumu?”


“Hmmm.”


“....”


“Ada apa?” Jawabnya akhirnya.


“Mmm.. apa kau ada waktu malam ini Matt?” tanya suara diseberang sana ragu.


“Maaf, aku tidak bisa Liona” Jawab Matthew cepat.


“Kapan kau ada waktu untukku?”


“Jangan berharap terlalu jauh Liona. Saat ini kita bahkan tidak ada hubungan apapun.”


“kita akan segera bertunangan Matt, apa kau lupa?”


“Cukup Liona! Jika tidak ada hal yang penting sebaiknya jangan menghubungiku.” TUT. Tanpa menunggu jawaban diseberang sana Matthew menutup panggilannya sepihak. Ia menyandarkan badannya dan memijit pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa berat.


Drtt..drtt..drtt..


Belum ada semenit lelaki itu memejamkan matanya, ponselnya kembali berdering. Tanpa melihat nama penelepon, Ia langsung mengangkatnya, “Apa lagi?!” nadanya terdengar sangat marah. Tapi setelah mendengar suara diseberang sana, nadanya perlahan melembut.


“Dear? Kaukah itu?” Matt kembali menjauhkan benda pipih itu dari telinganya untuk memastikannya. My Dear, nama itu membuat Matt yakin jika yang menelpon kali ini bukan Liona. Jelas saja bukan, sedangkan suara mereka saja berbeda.


“menurutmu ini siapa Matt? Kenapa nadamu keras sekali?”


“Maafkan aku sayang, aku pikir tadi kau orang lain. Maaf aku bukan bermaksud membentakmu sungguh” kali ini Matt berusaha untuk menjinakkan Alexa yang sepertinya marah karena mendengar suara lantangnya.


“Sudah jam berapa ini Matt? Kalau kau tidak bisa menjemputku, biar aku naik taksi saja. Jangan membuatku menunggu!.”


“Astaga, aku lupa sayang. Jangan.. jangan naik taksi. Tunggu sebentar aku akan menjemputmu segera.” Matt pun bergegas keluar ruangan dengan ponsel yang masih menempel ditelinganya.


“Baiklah jangan lama-lama! Bye.”


“Bye Dear.” Setelah mengakhiri panggilannya, Matthew berjalan menuju lift dan menelepon Gilbert untuk menyiapkan mobilnya di Lobby Depan.


 


**


Di tempat berbeda, Alexa masih setia menunggu jemputannya. Sudah 30 menit menunggu masih belum ada tanda-tanda Matthew menjemputnya. Dia berpikir mungkin Matt saat ini sedang sibuk sehingga tidak punya waktu untuk menjemputnya.

__ADS_1


“Huft! Kenapa dia tidak menghubungiku, apa dia sangat sibuk? Apa aku coba meneleponnya saja ya?.” Ucapnya bermonolog.


Karena sudah lelah menunggu, akhirnya dia memutuskan untuk menelepon duluan.


“#&*&$&$&!” Terdengar suara keras dari seberang sana.


“Matt apa kau jadi menjemputku” Alexa mengerutkan dahinya mendengar nada suara diseberang sana yang terdengar seperti membentaknya.


“..........”


“Menurutmu ini siapa Matt? Kenapa nadamu keras sekali?” Alexa berbalik menaikan nadanya kesal.


“...........”


“Sudah jam berapa ini Matt? Kalau kau tidak bisa menjemputku, biar aku naik taksi saja. Jangan membuatku menunggu!.” Jawabnya penuh kekesalan dari suaranya.


“...........”


“Baiklah jangan lama-lama! Bye.” Setelah mematikan panggilannya Alexa memasukkan kembali ponselnya kedalam Tas nya. Mulutnya masih sibuk menggerutu dengan sikap Matt tadi.


Ada apa dengannya, mengapa dia tiba-tiba membentakku. Apa dia tidak melihat siapa yang menelponnya? Huft.. menyebalkan sekali. Batinnya terus saja menggerutu.


Tinn.. tinn..


Sebuah mobil hitam yang sudah sangat familiar oleh Alexaberhenti tepat didepan ia menunggu saat ini. Saat kaca mobil diturunkan tampak lelaki yang duduk dibelakang kemudi tersenyum menyapa. Alexa pun mendekat dan masuk kedalam mobil itu.


CUP.


Alexa Belum sepenuhnya duduk di kursi mobil, tapi Matthew sudah mendekatkan tubuh ke arahnya dan mengecup pipinya. Membuat sang empunya pipi membola dan mengerucutkan bibirnya.


“Maaf aku terlambat Dear” satu tangan matt mengelus pipi sang kekasih yang sedang menggembung karna marah.


“Kau terlambat satu jam Tuan Alien!” gerutunya.


“Iya aku minta maaf, apa kau mau memaafkanku sayang?” kata Matt dengan Puppy Eyes seolah memohon.


“Hmmm” Alexa hanya menggumam tanpa jawaban. Bibirnya masih mengerucut tanda sedang kesal. Ah lucunya kekasihku ini,batin Matt.


Matt kembali mencondongkan tubuhnya memeluk Dan mencium Pipi Alexa bertubi-tubi membuat wanita itu tertawa geli seraya berusaha menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


“Hentikan Matt, arrgghh” Alexa mencoba menjauhkan tubuhnya dari pelukan Matthew seraya menghapus jejak-jejak basah bekas ciuman Matthew dipipinya. “ishh pipiku jadi seperti ini, kau jorok sekali Matt!” Katanya masih dengan menghapus kasar pipinya karna ulah Matthew.


“Hahaha” Lelaki itu tergelak kencang melihat Alexa, perlahan dia melepaskan dekapannya dan tersenyum. Bukan Matthew Alexander namanya jikalau meluluhkan hati seorang Alexa yang merajuk saja tidak bisa.


Selama diperjalanan tidak ada perbincangan diantara keduanya, matthew fokus dengan kemudinya meski sesekali matanya melirik ke arah Alexa yang sibuk melihat keluar jendela.

__ADS_1


🥨🥨🥨


__ADS_2