ALKISAH : Doa Untuk Dunia [1001 Cerita Fantasi Indonesia]

ALKISAH : Doa Untuk Dunia [1001 Cerita Fantasi Indonesia]
KISAH: Laut


__ADS_3

“Tenggelamlah. Jika kau yakin itu akan membuatmu hidup, maka ikutlah denganku, dan tenggelam.”


Waktu itu sebenarnya masih subuh, tapi Ranti malah merasa seperti terbakar.


Yah, ini jelas saja sangat menjengkelkan. Padahal, sudah setengah jam Ranti mondar-mandir di bibir pantai dan bersusah payah mengumpulkan batu-batu besar itu untuk mengisi ranselnya, dan dua kantong kain yang sengaja diikatnya di kedua pergelangan kakinya. Tapi, karena anak itu tiba-tiba muncul di atas laut dan mengatakan sesuatu yang aneh, akhirnya rencana Ranti untuk menenggelamkan dirinya sendiri pun jadi kandas.


Anak berambut biru dan bertampang agak ganjil itu benar-benar berdiri di atas air. Dia berdiri agak jauh di hadapan Ranti, dan mengatakan hal yang entah bagaimana bisa membuat Ranti naik darah.


“A-apa maksudmu!? Aku ini ingin tenggelam agar bisa mati! Bukannya malah hidup! Dasar bodoh!” Sahut Ranti jengkel. “A-aku sudah lelah! Aku sudah capek banget! Sumpah!”


“Loh, kalau kamu lelah ya istirahat dong.” Jawab anak berambut biru itu. “Jangan malah membuat sang Laut jadi kerepotan.”


“Ta-tapi dimana aku harus istirahat!? Bagaimana!?” Ranti kembali menjerit. Tangisannya meleleh. “Ibuku sekarat di rumah sakit! Sahabatku juga sudah mati dan jadi abu! Dan aku juga baru dipecat! Aku kehabisan uang dan nggak bisa membayar sewa kontrakkan! Aku sudah nggak punya apa-apa lagi, tahu!”


“Wah... sepertinya dunia ini sudah terlalu jahat padamu ya? Malang sekali nasibmu.” Ujar anak itu sambil memasang senyum yang menyebalkan.


Ranti yang jelas-jelas bisa melihat dan mendengar anak itu, hanya bisa menundukkan kepala sambil mengatupkan rahangnya dan mengeraskan tinjunya. Amarahnya berkobar. Tapi toh, dia tetap tak bisa melakukan apa-apa.


“Menurutmu, siapa yang patut disalahkan atas semua kesialan yang menimpamu?”

__ADS_1


“Eh?” Setelah mendengar pertanyaan singkat itu, Ranti seakan habis tersambar guntur. Dia kembali mengangkat kepala, dan menaruh semua perhatiannya kepada anak itu. “Ma-maksudmu... ?”


“Sudah pasti, bukan? Semua yang kau alami itu tak terjadi begitu saja. Pasti ada penyebabnya.” Jelasnya. “Mungkin penyebabnya adalah orang-orang, atau dunia ini, atau mungkin juga... sang Pencipta? Yah... harusnya kamu yang lebih tahu. Aku nggak tau apa-apa loh. Aku kesini hanya untuk menawarkan bantuan padamu.”


“Bantuan... Kau mau membantuku... ?” Tanya Ranti tak percaya. Satu-satunya yang terlihat di matanya kala itu, hanyalah rasa putus asa yang amat dalam.


“Tapi, kau harus memberitahuku terlebih dahulu. Siapa sebenarnya penjahat dalam ceritamu?”


Lalu, semua memori itu mulai berputar dalam benak Ranti.


Ranti teringat kembali dengan ibunya yang terbaring lemah di rumah sakit karena leukimia yang sangat parah. Dia juga teringat dengan abu dari sahabatnya yang tergeletak begitu saja di gereja yang terbakar itu, tanpa satu orang pun yang menyadarinya.


Akan tetapi, Ranti sadar dengan satu hal.


Dia juga memiliki kenangan yang indah dalam hidupnya, dan itu sangat banyak. Dia masih ingat dengan senyuman tulus yang biasa terbentuk di bibir ibunya, juga suara dari tawa bahagia sahabatnya saat mereka berdua tengah bercanda bersama.


Jika dipikir-pikir lagi, rasanya semua itu terlalu indah untuk ditinggalkan.


Yah, hadiah dari kehidupan jelaslah lebih megah dibanding hadiah dari kematian.

__ADS_1


“Mungkin... aku ada disini saat ini, karena Tuhan belum memanggilmu. Mungkin, inilah kehendak-Nya.” Kata anak itu. “Jadi... siapa sebenarnya yang bersalah, Ranti?”


Dunia terasa hening untuk sesaat. Suara deru ombak, burung camar, dan sepoy angin memenuhi telinganya. Namun, di tengah-tengah kesenyapan itu, ada satu kata yang terlintas dalam hati dan pikiran Ranti.


“Dunia... Dunia inilah yang bersalah atas semuanya... “ Kata Ranti dengan suara yang tertahan karena berusaha menahan amarah.


“Nah... kalau begitu, ikutlah denganku. Aku adalah sang Suara Laut, dan kau... adalah sang Ombak Laut. Dan dengan itu, kau bisa menyembuhkan ibumu, dan membuat hidupnya menjadi lebih baik.”


Ranti membentuk senyuman jahat di bibirnya. “Baiklah... aku akan ikut denganmu.”


“Tapi, kau harus ingat... Lautan adalah perampok, Ranti. Dan apa yang diberikan oleh Laut adalah mutlak, begitu juga dengan apa yang direnggutnya.”


“Masa bodo dengan jati diriku. Jika Laut ingin mengambilnya, maka biarlah.”


“Heh... Aku nggak menyangka kalau perubahan kenyataan sesederhana ini ternyata bisa merubahmu sampai seperti itu.”


Bersamaan dengan perkataan si bocah yang lenyap terbawa angin, Ranti pun melepaskan jaketnya yang penuh batu, dan ranselnya, serta dua tas kecil di pergelangan kakinya. Kemudian dengan tekad dan amarah membara, Ranti pun melangkah maju menuju lautan.


Kaki telanjangnya menapak di atas permukaan air. Rasanya memang agak dingin, tapi dia tetap maju, dan terus maju, hingga dia tiba di sisi bocah itu.

__ADS_1


“Yah... masa penghakiman telah tiba. Mengamuklah sesukamu, Ranti. Berikan hukuman bagi mereka yang layak, dan tamparlah dunia ini.”


__ADS_2